ainiverse


Raden mengangkat tangannya. Isyarat untuk Bintang yang baru masuk ke dalam restoran. Masih dengan kacamatanya yang berbingkai bening, hanya saja sekarang memakai hoodie hitam.

Sorry telat. Agak macet tadi di lampu merah,” ujarnya sebelum duduk di bangku kosong sebelah Raden.

“Gapapa santai,” sahut Raden ramah. Lelaki dengan t-shirt hitam itu pun memanggil Lia yang baru saja kembali dari toilet. “Nih orangnya. Pas banget dateng.”

“Hai! Lia,” gadis dengan sweater hijau itu mengulurkan tangannya kepada Bintang. Begitu disambut, senyumnya merekah lebih lebar. “Santai aja. Kita seumuran juga kok.”

“Sebenarnya ada satu lagi, Bin. Adit namanya. Tapi katanya nggak bisa dateng sekarang,” tambah Raden setelah mereka selesai berkenalan. “Langsung aja deh ya? Biar gak kelamaan.”

Lia mengacungkan jempol, tanda setuju.

“Jadi gini, Bin. Gue udah sempat bahas lewat group chat soal sistem band yang kita mau. Sepakatnya, band kita ini band yang santai? Yang cuma cover-cover lagu doang,” jelas Raden. “Dan mungkin bisa tampil kalo dibutuhkan. Live music cafe contohnya.”

“Kalo lo pernah nonton drakor, Hospital Playlist, ya band kayak gitu,” tambah Lia.

Bintang ber-oh-ria. “Band-nya Ikjun dkk ya? Tahu gue.”

“Tahu?! Nonton juga dong?” Tanya Lia antusias. Matanya saja sampai melebar.

“Nonton lah,” Bintang tersenyum jumawa. “Setia menunggu season 3.”

Lia menepuk tangan sekali, cukup keras. “Sama kita! Tos dulu.”

Raden berdecak pelan. “Udah udah. Lanjut sini dulu sebentar.” Setelah mendapat atensi mereka kembali, ia melanjutkan. “Nah, begitu sistemnya. Kalo jadwal latihan, kami sepakatnya fleksibel. Alias kalo semuanya lagi bisa langsung latihan. Karena balik lagi ke dasar, band ini gue bikin buat hiburan, istirahat sebentar dari jadwal kuliah.”

“Intinya mirip-mirip band-nya Ikjun,” tambah Lia lagi.

Bintang mengangguk paham. Terima kasih kepada keterangan tambahan Lia yang membuatnya mudah membayangkan bagaimana bentuk band Raden tadi. Tidak buruk.

“Kalo anggotanya?” Bintang bertanya, akhirnya. “Sama posisi-posisi mereka apa aja?”

“Yang baru ada sih gue jadi bassist, Lia main vocal, sama Adit drummer,” Raden menjawab.

Bintang menerawang. “Cukup dong itu.”

“Cukup emang, udah masuk minimal,” sahut Raden. “Cuma gue mau ada satu lagi buat pegang keyboard.”

Bintang mengangguk, mulutnya membulat lagi. Ia berdesis panjang sambil memegang tengkuk lehernya. “Gue... boleh sih. Tapi.. masih mikir dulu. Gak papa?”

“Oh, iya gak papa. Santai.”

“Pesen minum aja dulu,” Lia beranjak dari duduknya. “Mau gue pesenin sekalian?”

Bintang menegakkan punggungnya dan menggeleng. “Nggak usah, Lia. Makasih. Gue udah makan tadi.”

“Minum doang kok. Emang lo nggak haus apa?” Lia merogoh tas kecilnya untuk mengambil dompet. “Gue pesenin ya?”

“Nggak usah, Lia,” akhirnya, Bintang ikut beranjak. “Gue pesen sendiri aja. Ngerepotin banget sampe dipesenin.”

Lia tertawa kecil. “Nggak ngerepotin elah. Santai aja.” Menoleh ke Raden, ia memintanya untuk menjaga barang selama mereka memesan.

Karena mereka datang di jam makan siang, tidak heran kalau antreannya cukup panjang. Semuanya bersatu. Anak kecil, remaja, dewasa, yang memang makan di sini, sampai tukang ojek dengan jaket hijau khasnya yang ditugaskan untuk mengantar ke tempat pelanggan yang jauh di sana.

Sembari menunggu, Lia bermain ponselnya. Kemudian teringat sesuatu yang ia temukan beberapa hari yang lalu.

“Bintang,” panggilnya sambil menyenggol pelan. “Ini akun lo, kan?”

Melihat layar ponsel, mata Bintang melotot sekilas. Seperti mengontrol ekspresi, ia menjawab. “Emang? Kata siapa?”

“Nih, lewat di timeline gue,” Lia menunjukkan kembali postingan yang di-pin sehingga muncul paling atas. “Suara lo ini. Yakin banget gue!”

“Masa?” Bintang mengangkat alisnya. “Kayak pernah denger aja suara gue.”

“Pernah ya! Kan gue juga nonton pas lo lomba Minggu kemaren,” melihat Bintang yang nampak berpikir, Lia menambahkan. “Lomba band antar kampus. Lo jadi keyboardist-nya.”

“Ooh yang itu,” Bintang teringat. “Emang gue ikut nyanyi?”

“Ikut kok. Mirip lagi suaranya sama yang disini.”

“Itu bukan gue kali,” diam-diam Bintang menahan senyumnya. “Iya bener gue ikut nyanyi kemaren, tapi jadi back vocal. Harmonization doang. Belom tentu sama kayak yang itu.”

Mata Lia mengerjap dua kali. Terlihat sekali kalau dia kebingungan. “Tapi mirip...”

“Ya berarti yang jadi main vocal kemaren, Bang Izhar,” sahut Bintang lagi. Sebentar lagi mereka sampai di meja pemesanan. “Mau ditanyain?”

“Nggak usah deh,” Lia mematikan ponselnya. “Bener nih, bukan lo?”

“Bukan, Lia. Profil Twitter gue bukan itu.”

Lia masih memicingkan matanya, terutama saat menangkap senyum tipis Bintang yang tampak ditahan-tahan.

Setelah mendapat minuman yang diinginkan, mereka kembali ke meja. Dimana ada satu laki-laki lagi yang merajuk di samping Raden. Asumsi Bintang, dia pasti yang namanya Adit.

“Eh awas! Tempat duduknya—”

“Gak papa, Den. Gue disini juga bisa,” sela Bintang cepat sembari duduk di samping Lia. Melihat Adit, ia mengulurkan tangan. “Ini pasti Adit. Ya, nggak?”

Lelaki berjaket merah itu menunjukkan wajah terkejutnya; mata dan mulut yang membulat besar. Tak lupa membalas uluran tangan Bintang dengan cukup erat. “Kok tahu sih, Bang? Kita pernah ketemu kah?”

“Entah. Feeling mungkin?” Balas Bintang sambil mengangkat bahunya. “Oh ya, panggil Bintang aja nggak papa.”

“Serius?” Adit melepas uluran lebih dulu. “Angkatan gue dibawah kalian loh.”

“Nggak papa. Santai.”

Kemudian, Adit menjulurkan lidah ke Raden. Mengejek. Yang dibalas oleh jitakan di dahi Adit.

Intermezzo dikit kali ya,” Lia bersuara, mengajak Bintang mengobrol. “Mereka sepupuan, malah pernah serumah pas kecil. Gue tetanggaan sama Raden dari TK. Baru kenal banget Adit pas tahu kalo dia temenan sama sepupu gue pas SMA.”

Bintang mengangguk pelan. “Berarti hitungannya... kalian udah deket banget dari lama?”

“Iya... mungkin? Makanya pas diajak ikut band gampang.”

Bintang mengangguk lagi, kali ini sambil mengusap tengkuk lehernya. Lia yang melihatnya tertawa kecil. “It's okay. Kita nggak ngerasa lo asing banget kok.”

Really?” Bintang menatap Lia. Kali ini jaraknya lebih dekat.

“Mbak Lia,” panggil Adit yang membuyarkan tatapan mereka. “Minta duit, Mbak. Mas Raden pelit.”

“Duit kamu kemana emang?” Tanya Lia sarkas, namun tetap mengambil selembar uang dari dompetnya. “Nih. Jangan dihabisin!”

Adit menerimanya dengan senyum lebar. “Siap Kakak cantik!” Dan lagi, ia menjulurkan lidah ke Raden sebelum beranjak.

Bintang yang melihatnya sampai menggelengkan kepala. “Tengil banget anaknya.”

“Begitulah,” sahut Raden dengan helaan napas berat.

Bintang mengulum bibir, nampak berpikir. Kemudian menganggukkan kepala setelah hampir dua menit.

“Gue ikut, Den,” ucapnya. “Band lo.”

Saat Raden melirik sekilas dan mengangguk, Lia justru bertepuk tangan kecil dengan wajah sumringah. “Yeay!! Welcome Bintang!”

Barulah saat itu Raden mengalihkan pandangan dari ponsel sepenuhnya. “Serius lo? Mau ikut?!”

Bintang mengangkat bahu, tertawa kecil. Lia yang justru meledeknya.

Hape mulu sih!!”


“Film-nya mulai jam berapa, Kak Lia?”

“Masih jam satu-an sih. Kita makan dulu aja,” jawab Lia tanpa menoleh karena sibuk memasang softlens.

Di kursi kemudi, ada Raden yang melirik. “Ya kalo gitu kenapa berangkat jam sepuluh?”

Lia mendongak dengan kerutan dahi. “Kan situ yang mau berangkat jam segini. Kita mah ikut supir aja. Ya gak, Ras?”

Laras menganggukkan kepala, membuat Raden menghela napas. Kesalahan besar yang ia sesali seumur hidup adalah membiarkan adik satu-satunya bergaul dengan tetangga seberang yang sudah tinggal sejak ia masih TK. Raden juga masih ingat wajah sumringah Lia saat melihat Laras yang baru lahir di gendongan ibunya. Seolah-olah dia yang menjadi Kakak dari bayi Laras itu.

Setelah memutar hampir lima belas menit, mobil Raden sempurna terparkir di dekat pintu masuk yang langsung menuju supermarket. Di kursi belakang, Lia dan Laras sudah tersenyum lebar sambil merapihkan tas dan pakaian mereka.

“Inget ya, Mas. Dua mobil sebelah kiri dari pintu supermarket,” ujar Laras begitu keluar dari mobil.

Lia yang mendengar tertawa. “Mas kamu masih sering lupa parkir dimana?”

“Sering banget, Kak. Malah lebih pelupa dia dari Ayah.”

Berakhir dengan amukan Laras karena Raden mengacak poninya yang baru disisir.

“Lomba apa sih emang, temen lo?” Tanya Lia sambil berjalan. Posisinya di tengah, Laras di kiri dan Raden di kanan. “Udah mulai lombanya?”

“Kayaknya udah,” Raden menjawab sembari melihat arloji di lengan kanan. “Tapi nggak tahu udah gilirannya apa belom.”

“Lomba apa terus?”

“Penampilan musik gitu, tapi bebas. Kampus kita ikut bawa band, temen gue jadi keyboardist.

Lia mengangguk dan ber-oh-ria. Masih terus berjalan sembari melihat etalase toko di kanan kiri, mereka pun sampai di tengah mall. Dimana ada panggung yang cukup besar di tengah dengan nuansa navy blue dan maroon bertuliskan nama acara yang cukup besar.

“Nah, pas banget dipanggil,” kata Raden setelah mendengar seruan MC. Ia juga mempercepat langkah untuk mendekati area penonton.

Lia menyusul setelah memberikan izin pada Laras yang meminta menunggu di kafe yang tak jauh dari sana. Sambil menjinjit-jinjit, ia berusaha melihat penampilan band dari kampusnya itu.

“Den,” panggil Lia sedikit berteriak. “Itu temen lo semua yang tampil?”

“Dibilang temen juga nggak sih. Tapi gue sering lihat mukanya,” jawab Raden tanpa menoleh. Ia juga masih celingukan mencari temannya yang bernama Bintang itu.

“Nah tuh,” Raden menunjuk seseorang. “Temen gue, Bintang namanya.”

Lia memicing agar dapat terlihat dengan jelas. Laki-laki yang ditunjuk Raden berdiri di dekat keyboard, memakai kemeja flanel sebagai luaran yang dalamannya adalah kaos putih. Dia tidak setinggi yang bermain gitar, tapi tidak pendek juga. Matanya sipit jika dilihat dari posisi mereka sekarang, memakai kacamata bulat yang Lia tebak tidak sampai minus tiga. Pipinya nampak berisi, ditambah senyum tipis yang kaku karena grogi membuatnya sedikit menggemaskan(?)

Setidaknya itu yang Lia dengar dari salah satu penonton di dekatnya.

Mereka hanya membawakan satu lagu yang cukup populer, Sebuah Kisah Klasik. Hampir seluruh penonton ikut bersenandung termasuk Raden dan Lia. Untuk durasi sepertinya di perpanjang. Sampai lima menit lebih, kalau tidak salah.

“Temen lo yang keyboardist,” kata Lia saat lagu mendekati selesai. “Oke juga. Awalnya kelihatan grogi, tapi begitu lagu masuk dia langsung enjoy. Mana dia ngebantu vocal juga.” Lia mengacungkan jempol tinggi-tinggi. “Keren.”

Raden mengangguk mengiyakan. Teringat, dia mendekat untuk berbisik ke Lia. “Calon potensial, kan?”

Lia menengok, menatap Raden bingung. “Maksud?”

“Habis ini dia keluar juga dari UKM musik,” Raden tersenyum begitu Lia membelalakkan mata. “Calon potensial buat band kita, kan?”

Lia menjentikkan jari, mengangguk mantap. “Tarik dia sekarang!”


Klontang!

Suara khas kaleng jatuh dari mesin minuman itu memasuki indera pendengarannya. Mematikan layar ponsel, ia menunduk untuk mengambilnya. Sensasi dingin langsung menyapa kulit tangan membuat bibirnya tertarik secara otomatis. Dengan bantuan ibu jari, kaleng berisi minuman soda itu terbuka. Setengah isinya habis diteguk sendiri dalam waktu lima detik. Bintang lega.

Melangkah keluar gedung, Bintang mengernyit silau. Padahal, arloji di pergelangan tangan kanannya masih menuju ke angka sepuluh. Langkahnya masih berlanjut ke depan. Sambil sesekali mengangguk ramah saat ada orang yang menyapanya. Tidak banyak, paling satu-dua orang.

Belok kanan, Bintang melewati jalan setapak utama yang menghubungkan gedung-gedung fakultas hukum. Tak banyak yang berlalu lalang di sepanjang jalan. Tapi di sisi kiri, banyak yang bersantai di bawah pohon rindang. Bangku panjang yang letaknya menyebar hampir dipenuhi orang-orang dengan urusannya yang berbeda-beda. Bintang pernah sekali duduk di sana saat menunggu kelas selanjutnya. Sambil mendengarkan musik lewat headphone, tangan bersedekap lalu memejamkan mata.

Seperti dia.

“Ah!” Sesuai ekspektasi, Bintang terkekeh.

Dia Lia, yang mengulurkan tangan untuk mencubit lengan Bintang dan gagal karena targetnya menjauh. Wajahnya mengerut kesal, tentu saja. Siapa yang tidak terkejut saat sesuatu yang dingin tiba-tiba menempel di pipi? Niat hati ingin mencari ketenangan setelah mengerjakan tugas, malah terganggu dengan seonggok makhluk menyebalkan.

“Nggak usah ketawa!” Lia mengomel kesal. Bahkan saat Bintang mendekat dan duduk di sampingnya, ia masih menatapnya sinis.

“Biasa aja kali mukanya,” Bintang masih mengejek. “Galak amat kayak cewek pms.”

Lia mendengus pelan sambil melepas headphone abu-abu yang masih menempel di kepala. Dengan jarak sedekat ini, ia bisa saja memukul atau mencubit lengan Bintang sesuai niat awal. Tapi tidak. Nanti saja.

“Tumben neduh sampe sini,” celetuk Bintang membuka topik. “Nggak mungkin tiba-tiba nyasar, kan?”

Tak langsung menjawab, Lia justru mengerjapkan mata. Kepalanya menoleh kiri-kanan dengan dahi mengernyit dan mata memicing. Seperti memerhatikan sesuatu yang nampak asing. Di hadapannya, Bintang ikut menatapnya bingung.

“Iya ya? Kenapa gue bisa di sini?” Tanya Lia kepada dirinya sendiri—mungkin. “Gue kira masih disekitar gedung FEB. Ini dimana sih?”

Bintang sampai mengerjapkan mata, saking bingungnya. “Lo tidur sambil jalan? Siang-siang?”

“Nggak tidur!” Sanggah Lia. Posisi duduknya menyerong ke samping dan menghadap Bintang penuh. “Gue jalan biasa aja kok. Lurus terus. Pas capek pas lihat bangku kosong ini.” Berhenti mengambil napas, Lia mengingat-ingat lagi. “Gue jalan sambil bengong kali, ya?”

“Paling,” sahut Bintang sebelum meneguk habis kaleng minumannya dan membuangnya di tong sampah terdekat. “FEB ke FH tuh hampir satu kilo. Hanya orang-orang tertentu yang mau jalan kaki sejauh itu.”

Lia menepuk tangan sekali, teringat sesuatu. “Iya bener! Tadi gue abis ngumpulin tugas.” Tiba-tiba dia berdecak, wajahnya juga mengerut seperti empat menit yang lalu. “Ah, kesel lagi kan gue. Nggak usah dibahas!”

Bintang mengangguk paham, tidak akan bertanya lanjut meski amat penasaran. Karena kalau dia di posisi Lia, pun dia mengatakan hal yang serupa.

“Lo... baru selesai kelas?” Tanya Lia, mengubah topik. “Ada kelas lagi nggak, abis ini?”

“Kalo sesuai jadwal sih, harusnya selesai. Satu kelas doang,” jawab Bintang. “Kenapa? Mau take video?”

“Nggak, nanya doang.” Lia tersenyum kaku sambil merapihkan rambut. “Gue juga lagi hiatus. Istirahat bentar dari dunia konten-mengonten.”

“Ah!” Seru Bintang tiba-tiba. “Pantesan gue ngerasa kayak ada yang kurang belakangan ini. Kayak... ada yang harus gue kerjain, tapi nggak tau apaan.” Kedengarannya seperti menggumam, namun masih bisa Lia dengar. “Kenapa emangnya? Followers lo nggak ada yang nanyain?”

“Nanyain mah pasti ada. Cuma udah gue jelasin kok waktu pas iseng qna. Lo nggak ikut sih,” telunjuk Lia menuding ke hidung Bintang, membuatnya terkekeh pelan. “Kalau ditanya kenapa, ya jawaban simpelnya cuma satu; males. Sama mungkin bingung mau lagu apa lagi karena gue udah jarang denger lagu baru, kan. Dan semua itu terjadi gara-gara satu hal yang biasa kita sebut—”

“—tugas.”

“Pintar.”

Bintang paham sekarang. Selain yang digumamkan tadi, ia juga paham kenapa matanya selalu mengarah ke gitar akustik setiap kali melamun. Baik itu miliknya sendiri yang terpajang di dinding kamar atau milik temannya yang sesekali membawa. Kadang secara tidak sadar, ia mengambil barang itu dan memainkannya selama hampir dua jam. Dari lagu yang biasa didengar sampai instrumen baru yang tercipta dengan sendirinya.

Wait—what? Am I miss her?

Bintang menggeleng. Berusaha menepis bisikan yang datang entah dari mana. Mana mungkin dia merasa begitu?

“Bintang.”

Hanya panggilan biasa, namun sanggup membuat Bintang meneguk lidah. Dia cemas.

“Lo laper nggak?”


Jarum jam di arloji Bintang berada di angka dua belas. Apakah semakin terik? Iya, awalnya saja. Karena sumber dari cahaya terik itu ditutupi segumpulan kapas sekarang. Kapas berwarna abu-abu yang siap meneteskan airnya kapan saja. Angin juga ikut berkontribusi, meniupkan hawa dingin yang membuat bulu kuduk seseorang berdiri. Dan terakhir, gemuruh mulai bersahutan meski tipis-tipis. Latar sempurna yang menemani bulan berakhiran –ber.

Sambil mengunyah daging bakso terakhir di mangkoknya, Lia mengusap lengan kanan dan kirinya. Matanya terus tertuju ke arah langit yang semakin dipenuhi awan abu-abu. Gelap dan dingin. Ia menyesal memakai kaos lengan pendek.

“Mendung ya?” Tanya Bintang retoris, kepalanya ikut menoleh ke arah langit. “Gelap banget lagi.”

“Jam-jam segini mah emang waktunya,” sahut Lia sembari mengangkat mangkoknya dan meminum kuah yang tersisa. Tolong jangan beri tahu ini pada siapapun, terlebih lagi Ayahnya.

“Gue cuma bawa satu jas hujan,” Bintang mengutarakan masalah. “Ada sih satu lagi, jas hujan plastik. Gue nggak yakin lo suka modelnya.”

Dahi Lia mengerut di balik mangkok. Dia berbicara setelah mangkoknya bersih tak tersisa. “Lo mau anterin gue pulang? Serius?”

“I-iya...” tergagu, Bintang menggaruk rahang kirinya. Niatnya terpampang sangat jelas ternyata. “Biar sekalian. Satu arah juga kan?”

Tak langsung menjawab, Lia justru memangku dagu. Suara hembusan angin semakin terdengar kencang di telinganya, mengiringi tetesan air yang jatuh perlahan-lahan. Gerimis. Lia suka gerimis.

“Hujan-hujanan, yuk!”

Bintang tersedak teh hangat. Menatap wajah berbinar Lia dengan tidak percaya. “Kita?” Lia mengangguk. “Hujan-hujanan?” Lia mengangguk lagi. “Gila kali ya?!”

“Ayolah Bin... mumpung musim hujan. Kapan lagi coba bisa begitu?” Bujuk Lia sampai tangannya membentuk gestur memohon. “Ya? Ya? Sebentar doang kok.”

“Nanti kalo sakit? Siapa yang kemaren bilang nggak mau dirawat ke rumah sakit lagi?” Tanya Bintang sewot sembari beranjak menuju kasir. “Nggak usah. Ayo pulang.”

Lia memanyunkan bibir. Satu sisi setuju untuk tidak melakukan hal itu, mengingat banyak temannya yang terkena flu karena selalu terguyur hujan tiap pulang ke rumah. Namun begitu melihat anak kecil yang berlarian melewati warung bakso itu membuat keinginan Lia semakin memuncak. Kapan terakhir kali dia bermain seperti itu? Mungkin belasan tahun.

Senyumnya mengembang. Sebuah ide baru saja melintas di kepala.

“Ada seribu-an, Mas?”

Bintang merogoh setiap saku di pakaiannya. Seingatnya ada satu koin yang pernah dimasukkan tadi pagi. Tidak ada di celana. Tidak ada juga di jaket. Dimana ya?

“Li, ada seribu-an ngga—”

Seketika, Bintang merasakan apa yang pernah ibunya rasakan dua puluh tahun yang lalu.

“Sudah ada, Mas?” Tanya mbak kasir memastikan. Bintang menoleh gelagapan dan meminta uang kembalian apa adanya. Kemudian berlari tanpa mengucap terima kasih.

Lia hilang. Tidak ada di tempatnya. Mungkin Bintang bisa berpikir positif kalau warung ini menyediakan toilet bagi pengunjung. Mungkin juga sedikit lebih tenang karena barang-barang Lia masih ada di tempatnya, termasuk barang berharga. Sayangnya tidak. Jantungnya sudah lebih dulu berpacu lebih cepat 10 kali dari biasanya.

“LIA!” Bintang berjalan keluar. Menerobos tetesan air yang sekarang sudah menjadi hujan. Matanya menoleh kanan-kiri, telinganya dipasang baik-baik. Untunglah tak banyak kendaraan yang lewat, karena memang lokasinya berada di dalam perumahan. Tapi tetap saja, Bintang merasa amat gelisah. “LIA!”

Belok kiri, ada taman bermain dan lapangan basket. Tepinya dibatasi pagar yang menjulang setinggi dua meter lebih dan dihiasi tanaman rambat di bagian tertentu. Bintang mencoba mencari pintu masuknya sambil terus memanggil Lia. Begitu ditemukan, jantungnya serasa ingin lepas dari tempatnya.

Ada Lia di sana. Menyengir lebar menutupi pintu masuk dengan baju yang benar-benar kuyup.

“Kan... Bintang main hujan-hujanan juga kan.”

Bintang masih diam, menatap Lia dengan tatapan tertajam yang ia bisa. Merasa tidak aman, Lia mundur satu langkah. Dan benar saja. Bintang langsung mengejar Lia yang memutari lapangan basket.

Tawa gelak mereka terus bersahutan, mengiringi rintikan hujan yang tidak tahu kapan berhentinya. Dedaunan yang menggantung, tiang basket yang mulai lapuk, tanah lapang seluas 6 x 15 meter persegi, sudah cukup menjadi saksi mereka bersenang-senang seperti umur tujuh. Usilnya Lia, kesalnya Bintang, jeritan keduanya setiap kali menyipratkan genangan air. Ya, mereka terlihat bahagia.

“Bintang,” panggil Lia sesaat setelah mereka merebahkan diri di tengah lapangan. “Kayaknya gue mau nyanyi lagi. Gue kepikiran satu lagu yang bagus.”

Bintang menoleh. Tidak berkata apa-apa karena Lia sudah meminta, “Bantuin ya, kayak biasa.”

So, do you miss her?

Bintang mengangguk. Yes, I do missed her.


Joshua as Johan Sakura as Salsa


“Ada yang ngerasa kehilangan dompet, nggak?”

Semua yang ada di ruangan tersebut menoleh, menatap benda yang diangkat tinggi-tinggi oleh Sadam.

Ada yang langsung menggeleng, mengecek lebih dahulu di tiap kantong bajunya, dan ada yang menghampiri untuk melihat detailnya. Dompet itu berwarna putih, sedikit kekuningan yang menandakan kalau benda itu sudah lama dimiliki. Dan yang paling membuatnya mencolok adalah sebuah kertas kantong teh warna biru yang menempel di pojok kanan.

Semuanya menggeleng, tidak mengakui kalau benda itu miliknya. Kecuali satu orang yang masih berkutat dengan komputernya. Dia memang menoleh tadi, tapi hanya sekilas karena merasa tidak ada urusannya dengan pekerjaan.

Penemu dompet itu, Sadam, mengucap terima kasih dengan pelan sambil menarik bangku di kubikelnya. Mungkin dia akan mendatangi divisi lain untuk menanyakannya.

“Duh ilah!” Seseorang mengeluh. Ya, dia yang daritadi sibuk sendiri. “Apalagi yang kudu direvisi sih?!”

Di sampingnya, Sadam terkekeh. “Kerjaan dari Bu Sandra?”

“Menurut lo aja,” lelaki bernama Johan itu menghela napas, menyandarkan punggung seraya memutar kepalanya. Teringat sesuatu, dia mendekatkankan bangkunya pada Sadam. “Tadi dompet, lo nemu dimana?”

“Lobby bawah. Satpam yang nemuin malah nitip ke gue,” jawab Sadam tanpa menoleh.

“Lihat dong kayak apa.”

Sadam menoleh, mengernyitkan dahi. “Bukannya tadi udah?”

“Belom. Tadi rame, males.”

Johan menjadi orang yang terakhir mengecek dompet tersebut. Karena tak sampai sepuluh detik, senyumnya mengembang dengan sempurna. “Gue bawa ya.”

“Sembarangan!” Tegur Sadam. “Gue udah baik-baik pengen nemuin yang—”

“Gue tahu siapa yang punya,” potong Johan menjelaskan. Melihat Sadam memicing, dia menambahkan, “Beneran. Percaya sama gue.”

Sadam mengangguk sedetik kemudian karena harus melanjutkan pekerjaannya.

Kembali ke kukibel, Johan masih tersenyum. Dirabanya satu benda yang membuatnya langsung terpikir ke satu gadis yang diyakini sebagai pemiliknya. Tentu saja dia mengenalnya.

Karena kalau tidak, ia tidak mungkin mencintainya, kan?


“Langsung pulang, Kak?”

“Iya kali,” jawab Salsa lemas, mengingat dompetnya yang sampai sekarang belom ditemukan. “Kalo gak naik taksi, jalan kaki.”

Di sampingnya, Hilda menatap khawatir. “Gue pesenin ojek deh. Alamatnya masih sama, kan?”

“Nggak usah, Da. Nggak papa,” tolak Salsa halus. “Deket ini kok. Gue juga biasa pulang sendiri dari jaman sekolah.”

Selesai merapihkan mukena dan barang lainnya, Salsa berdiri menghadap jendela. Butuh waktu sekitar enam detik sampai matanya menangkap seseorang yang celingukan lalu melambaikan tangan ke arahnya. Sedikit tidak yakin, ia menunjuk dirinya dengan tatapan bertanya. Lelaki itu mengangguk dan membuat gestur ‘ayo ke sini’ dengan tangan kanannya.

“Gue duluan ya,” pamit Salsa pada Hilda yang baru saja berdiri.

“Beneran pulang jalan kaki?” Tanya Hilda.

Salsa menggeleng, lalu mendekat untuk berbisik. “Ada Mas Crush di depan.”

Hilda yang paham langsung tersenyum meledek. Ia menepuk pundak Salsa, menyemangati.

Dengan jantung berdegup kencang, Salsa keluar dari masjid. Menghampiri Johan yang masih terlihat tampan setelah seharian berkutat dengan pekerjaan. Ya, mereka masih satu kantor dengan divisi yang berbeda. Kalau ruangan Johan terletak di lantai tiga, ruangan Salsa terletak di lantai dua. Divisi mereka juga saling berhubungan, sehingga memungkinkan untuk bertemu setiap saat.

“Hai,” sapa keduanya, bersamaan.

“Lo... nyariin gue?” Tanya Salsa, memberanikan diri. “Ada apa?”

Melihat Johan merogoh tasnya membuat Salsa sedikit menahan napas. Harapannya melambung tinggi. Dia mau nembak gue?

“Ini,” ternyata, hanya sebuah dompet. “Punya lo, kan?”

Kecewa? Tentu saja. Untung saja segera hilang saat Salsa melihat lagi barang apa yang diberikan. “Iya! Ini punya gue.” Setelah memastikan semua barang di dalamnya ama, ia menghela napas lega. “Ketemu dimana?”

“Di lobby bawah. Satpam yang nemuin, dikasih ke Sadam, dia nanya ke divisi gue,” jelas Johan dengan senyum tipis. “Lagian kenapa bisa jatoh sih? Untung masih area kantor.”

“Kayaknya kurang masuk ke kantong celana tadi. Gue juga baru nyadar nih dompet hilang pas mau bayar makan siang,” Salsa terkekeh. “Makasih ya.”

Johan mengangguk disela tawa kecilnya. “Sama-sama. Lain kali hati-hati.”

Salsa mengangguk, menunduk sambil menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga. Senyumnya mengembang lagi saat melihat kertas kantong teh favoritnya masih tertempel.

“Masih suka ngumpulin kantong teh bekas?”

Salsa mendongak, mengangguk dengan tawa kecil. “Selama gue masih suka maskeran, kenapa nggak? Kertasnya juga bisa kok dijadiin tempelan kayak gini.”

Johan mengangguk tipis. “Pertahanin ya.”

“Hah?” dahi si gadis mengerut, tanda kebingungan.

“Hobi lo yang ini, pertahanin,” Johan maju satu langkah dan menekuk lutut, menyamakan tingginya dengan si gadis. “Karena dengan ini, gue bakal inget lo terus.”

Salsa mematung, terlebih saat kepalanya dielus pelan. Degup jantung yang semakin tak karuan, rasa geli di perut seolah dikerubungi ribuan kupu-kupu, napas yang tiba-tiba tertahan...

Salsa seolah kembali ke masa remajanya.

“Mau gue anter pulang?”

Dengan senyum yang tak bisa ditahan lagi, Salsa mengangguk antusias. “Boleh!”

Untuk sesaat, biarkan mereka lupa dengan tembok tebal yang menghalangi mereka.


Lee Jooyeon as Julian Kim Gaeul as Kayla


‘Gw udh sampe nih, bangku ke tiga sebelah kiri pintu.’

Pesan itu terkirim bersamaan dengan datangnya waiters yang mengantar pesanan Kayla—segelas cappucino dan sepiring cheesecake. Usai mengucap terima kasih, ia menopang dagu dan melihat keluar jendela. Menunggu seseorang dengan jantung berdebar-debar.

Namanya Julian. Kayla mengenalnya karena lelaki itu sering meninggalkan komentar setiap dia memposting foto di Instagram. Bukan, bukan komentar buruk atau semacam ‘cat-calling’. Melainkan komentar baik yang pernah membuat hatinya menghangat.

Setelah beberapa hari, ia pun memberanikan diri untuk menghubunginya lewat direct message. Yang awalnya hanya ingin mengucap terima kasih malah lanjut sampai perkenalan diri masing-masing. Kayla juga tidak ragu memberikan nomor teleponnya saat Julian bilang, “Lebih enak ngobrol di WhatsApp nggak sih?”

Dan ya, mereka pun jadi dekat hanya dalam waktu satu bulan.

“Kayla Septriasa Anjani?”

Menoleh, mata Kayla memicing. Sembarangan banget nih orang manggil pake nama lengkap. “Siapa ya?”

“Oh, bener,” lelaki gondrong itu tersenyum tipis sebelum menarik kursi di hadapan Kayla. “Sori ya, lama. Lampu merah lama banget tadi.”

Kayla masing memicing sambil menyesap minumannya. Berbagai pertanyaan mulai bermunculan di otaknya dan memaksa keluar lewat bibir. Siapa lelaki ini? Darimana dia tahu nama lengkapnya? Kenapa juga cara bicaranya seperti orang yang sudah mengenal lama? Apa dia... berniat jahat?

“Lo udah pe—”

“Jangan macem-macem lo!” Kayla mengacungkan garpu ke hadapan si lelaki. “Gue di sini nunggu orang, bukan cowok prik kayak lo!!”

Lelaki itu mengerjapkan mata, sedikit mundur saat garpu itu semakin maju. “I-iya... yang lo tunggu itu, gue kan?”

“Kagak! Julian nggak kayak lo!!”

“Ya... gue Julian,” melihat Kayla semakin memicingkan mata membuat lelaki itu cepat-cepat melanjutkan. “Julian Bagaskara, yang punya akun @playthejul. Yang nomornya—”

Wait!” sergah Kayla sambil menurunkan garpu. “Gue aja yang buktiin. Kalo sampe lo ngaku-ngaku,” tangannya membuat gestur memotong leher, tak lupa dengan mata yang membulat lebar.

Meski sedikit ragu, Kayla tetap menekan ikon telepon pada nomor yang diberi nama ‘Julian (playthejul)’. Ia sampai berencana akan teriak kalau orang yang didepannya ini bukan Julian. Lalu meminta pengunjung lain menghubungi polisi agar dilaporkan dalam kasus—

“Bener kan?” Julian mengangkat ponselnya, menunjukkan kalau ada panggilan masuk dari kontak bernama ‘@kaysanjani’ yang merupakan nama akun Instagram Kayla. “Emang lo ngira gue siapa?”

Kayla diam. Benar-benar diam.

Kalau di dalam animasi kartun yang biasa ditontonnya semasa kecil, ada titik-titik yang mengambang di atas kepalanya.

“O-oh, sorry,” Kayla tertawa kaku. “Abisnya, lo langsung duduk aja tadi, gak nyebut nama. Makanya gue ngira lo orang... yang mau aneh-aneh. Hehe.”

Julian bersedekap dengan mulut membulat, seperti teringat sesuatu. “Iya ya, tadi gue lupa bilang kalo gue Julian.” Menatap Kayla lagi, kali ini dengan senyum. “Maaf ya, bikin lo takut.”

Kayla mengangguk tipis sambil meraih gelasnya lagi. Julian yang tersadar belum memesan apa-apa pun pamit sebentar, meninggalkan tas dan ponselnya di atas meja. Beruntung posisi duduk Kayla tidak membelakangi kasir sehingga dia bebas memperhatikan penampilan si lelaki, dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Nggak sesuai ekspektasi, batinnya sambil mendengus.

Setelah Julian kembali, mereka mengobrol seperti biasa. Beberapa pertanyaan yang pernah dilontarkan lewat chat ditanyakan lagi olehnya, seperti tinggal dimana, kuliah jurusan apa, berapa bersaudara, dan lain sebagainya.

Asik juga, Kayla berasumsi lagi. Sedikit menyesal karena berniat ilfeel setelah melihat penampilannya.

“Dulu gue sempet sekolah disitu, sebelum pindah ke—” berhenti, Julian melihat ponselnya yang berbunyi. Tak sampai lima detik karena jarinya langsung mengecilkan volume dering.

“Nggak diangkat?” Tanya Kayla sebelum Julian melanjutkan cerita. “Siapa tau penting.”

“Ng-nggak kok, bukan siapa-siapa,” jawab Julian cepat sambil menyesap minumannya, iced americano.

Kayla memicing lagi, kali ini lebih tipis.

“Lo... mau di sini aja?” Tanya Julian dengan tangan terlipat di atas meja untuk menopang sebagian berat badannya. “Nggak kemana-mana lagi gitu? Gue bisa kok temenin.”

Kayla mengulum bibir, berpikir. “Sini aja lah. Gue nggak tau jalan sini.”

Julian mengangguk, kepalanya menoleh ke luar jendela. Kakinya menghentak-hentak pelan di bawah meja. Dan Kayla sadar itu.

“Kalo nggak salah, deket sini ada taman deh,” kata Julian setelah satu menit. “Mau lihat nggak? Jalan kaki aja.”

Kayla berpikir sejenak. Sebenarnya, ia ingin di sini saja. Memesan tiramisu cake yang mencuri perhatian sejak meja sebelah memesannya. Di luar juga panas. Tapi kalau di sini terus, mereka akan kehabisan topik.

“Ya udah deh,” Kayla beranjak. “Nggak jauh kan?”


Benar saja. Sejauh 200 meter dari kafe tadi ada taman persegi yang cukup luas dengan tempat bermain yang kali ini dipenuhi anak kecil. Julian dan Kayla memilih duduk di salah satu bangku yang dekat dengan pohon rindang. Duduknya menghadap jalan raya.

“Siang-siang rame juga, ya,” mata Julian belum beranjak dari tempat bermain itu. “Gue kira sepi.”

“Lo sering ke sini?” Tanya Kayla.

“Nggak sering juga sih,” Julian kembali menatap Kayla. “Ini aja kayaknya yang kedua.”

Kayla mengangguk tipis. Karena menatap ke bawah, ia pun menyadari tali sepatunya longgar. Sebelum membahayakan diri sendiri dan orang lain, ia mengikatnya kembali.

Dan tanpa gadis itu sadari, Julian merapihkan rambutnya yang keluar dari jepitan. Sangat pelan dan lembut seperti tidak mau diketahui oleh Kayla. Cantik, lelaki itu tersenyum.

“JULIAN!!”

Bukan si pemilik nama, melainkan Kayla—yang mendongak dan mencari asal suara. Arah pukul tiga, seorang gadis berponi datang dan menarik telinga Julian sampai lelaki itu berdiri.

“Sakit, Li!!” Jeritnya.

“Jadi ini yang buat lo nggak jawab telepon gue tadi?!” Melepas jeweran, gadis blasteran itu menatap Kayla dengan tajam. “Cewek mana lagi nih?! Bener-bener ya lo!!”

Kayla diam. Memerhatikan Julian yang saat ini dipukuli dengan ganas oleh seorang gadis yang tidak dia tahu siapa, juga memikirkan kenapa hal ini bisa terjadi. Sampai dua orang itu pergi meninggalkannya, Kayla masih diam.

Lagi, titik-titik itu mengambang di kepalanya.

“Eh?! Tadi itu... pacarnya Julian??!!?”


Kang Minhee as Mahen Ahn Yujin as Yura


“Ra? Yura?”

Sepasang mata itu mengerjap, kesadarannya kembali. “Iya?”

Di depannya, Mahen menghela napas kecewa. “Kamu nggak dengerin.”

Yura gelagapan. “Dengerin kok! Aku dengerin Kakak!”

“Bener?” Yura mengangguk cepat. “Emang tadi Kakak ngomong apa?”

“Hmm... Kak Nindy sama pacar barunya...?” Yura asal tebak. Begitu melihat kekasihnya tersenyum tipis, ia terkekeh pelan.

Awalnya memang Yura mendengarkan, sambil sesekali menimpali dengan kata atau hanya tertawa. Mungkin saat bahasannya berganti, gadis itu mulai memikirkan sesuatu yang membuatnya termenung dan tidak fokus mendengarkan.

“Kamu ngantuk?” Tanya Mahen lembut seraya menggenggam tangan Yura. “Mau pulang aja?”

Yura menggeleng. “Enggak kok, Kak. Tadi cuma...” menggantung, bahunya diangkat cepat. “Gitu deh.”

Dahi Mahen mengerut tipis. “Mikirin apa hayo? Uang kas nunggak dua bulan?”

“Nggak lah! Ya kali,” Yura tertawa pelan. Kemudian, dia beranjak dari bangkunya. “Keliling aja yuk. Pengen lihat sepatu.”

Mahen mengulum bibir, menatap gadisnya yang menunduk sambil mengikat lengan almet sekolahnya di pinggang. Firasatnya berkata, Yura menghindari tatapan. Tidak mau perasaannya terbaca lewat pandangan mata dimana Mahen cukup peka dengan itu.

Bener, Yura nyembunyiin sesuatu.

“Ayo, Kak Mahen!” Seru Yura yang rupanya sudah berjalan dua langkah. “Nanti pulangnya kemaleman loh.”

Mengikuti alur, Mahen pun beranjak dan menghampiri Yura. Dia tidak suka dipaksa maupun memaksa. Apalagi dengan seseorang yang bukan keluarganya.

Namun, seorang kekasih bisa memberi peringatan bukan?

“Tumben gandengan,” ejek Yura dengan senyum jahilnya. “Mau nyeberang ya, Pak?”

“Iya, Neng,” Mahen mengubah suaranya menjadi suara kakek-kakek, receiving her jokes. “Anterin Kakek sampe Kampung Rambutan, ya?”

“Jauh bangeeettt. Encok duluan kaki saya, kalo begitu ceritanya.”

Setidaknya, senyum Yura terlihat hangat kali ini.


“Sampe sini aja, Kak! Aku turun sini.”

“Loh?” Mahen membuka kaca helmnya. “Nggak sampe depan rumah aja? Kakak mau—”

“Stooppp!!! Sini ajaaa!!”

Mau tidak mau, Mahen mengerem perlahan. Motornya berhenti tepat di dekat palang jalan tempat rumah Yura berada. Baru saja mematikan mesin motor, sebuah helm disodorkan padanya.

“Aku duluan ya, makasih buat hari ini,” Yura merapihkan rambutnya dengan tergesa. “Hati-hati di jalan, Kak.”

“Yura,” tahan Mahen sampai harus turun dari motornya. “Sebentar, Kakak mau ngomong.”

Yura menatapnya jengah, seolah berkata ‘Apalagi sih? Seharian ini belum cukup??’. Namun yang keluar dari bibirnya hanya, “Jangan lama-lama.”

Mahen menghela napas. Ia belum menyiapkan kata-kata sebenarnya. Ia masih belum tahu apa yang harus dibicarakan dengan gadisnya. Haruskah to-the-point? Atau perlu basa-basi? Apakah pembicaraan ini akan menyakiti hatinya nanti? Apakah hubungan mereka tetap berlangsung setelah ini?

“Kalo lama aku—”

Mahen memeluk gadisnya, sangat erat. “Are you okay?

Hening. Mahen nyaris tidak mendengar apapun selain deru napasnya. Sampai telinganya menangkap suara Yura yang seperti menahan tangis, ia menempelkan pipinya di kepala sang gadis.

“Yura nggak pa-pa, Kak.”

No, you don't seems okay. “Padahal kamu bisa cerita loh, kalo ada apa-apa.”

Kepala Yura menggeleng pelan, namun tangannya melingkari pinggang Mahen. Seolah mengatakan kalau ia memang butuh pelukan ini. Lebih dari apapun.

“Yura..” panggil Mahen setengah berbisik dengan tangan menepuk pelan punggung si gadis. “Kamu tahu? Sebuah hubungan itu dimulai dari dua orang yang saling percaya. Percaya mereka saling sayang, percaya mereka nggak akan melakukan hal yang dilarang pasangan, percaya mereka bisa saling menjaga rahasia.” Ia melonggarkan pelukan, menatap mata Yura yang sudah berkaca-kaca. “Kamu percaya kan, sama Kakak?”

Tatapan mereka hanya berlangsung selama lima detik karena Yura segera menundukkan kepala. Dengan suara bergetar, ia bergumam. “Maaf Kak...”

It's okay,” tangan Mahen mengusap air mata Yura, lalu menepuk pelan kepalanya. “Kalo udah siap, cerita ya.”

Yura mengangguk dan mempererat pelukan lagi. “Begini dulu ya, tiga menit aja.”

Mahen tersenyum. “Tiga hari juga nggak pa-pa.”

Mendengar Yura tertawa kecil membuat Mahen menyadari satu hal. Menjalani hubungan itu... tidak semudah yang dikira. Seperti menjaga sebuah permata, banyak sekali rintangannya.

Semoga saja semua bertahan lama.


“Lanjut besok, deh.”

Mulut Adit menguap lebar saat menutup laptop. Setelah melakukan peregangan, dirinya bangkit untuk merapihkan meja dan beranjak ke toilet sambil menunggu ponselnya menyala. Detik jam dinding masih terdengar keras, namun tidak beranjak dari angka delapan. Memberi tanda kalau baterainya harus segera diganti.

Yang pasti Adit tahu, saat ini pasti pukul dua belas lewat. Tengah malam. Mana pernah dia tidur sebelum jam sembilan semenjak kuliah? Yang pernah, dia baru tidur sepuluh menit sebelum azan subuh berkumandang. Salahkan tugas kuliah dan urusan organisasi yang muncul bersamaan dengan deadline setipis helai rambut.

Ponsel menyala, banjir notifikasi. Bahkan lebih banyak dari biasanya. Adit yang sudah tahu alasannya memilih mengabaikan pesan dan mencari satu kontak yang lupa disematkan. Bibirnya mengulum tipis.

Last seen yesterday at 10:57 PM.

“Masa udah tidur?” Gumam Adit dengan ibu jari yang siap menekan ikon telepon di pojok kiri. Satu sisi menyuruh telepon, sisi lain menyuruh tunggu. Baru kali ini ia ragu untuk menghubungi gadis itu.

Akhirnya, ia memilih tunggu. Sengaja menaruh ponsel di pinggir kasur agar bunyinya langsung menuju telinga jika ia tertidur pulas.

Dan sampai pagi, belum ada telepon masuk darinya.


22 Maret.

Yang Adit ingat selain nasi kuning buatan Mamanya adalah saat teman sekelasnya memberi kejutan sepulang sekolah. Saat itu masih tahun pertama di SMA, dimana dia dipertemukan dengan seseorang yang membuatnya tak berkedip sama sekali.

“Ya nggak pake telor juga dong!! Lo kata bau telor enak apa?! Yang rugi juga lo semua! Gak cuma dia yang ulang tahun sama orang-orang yang tinggal deket sini. Bubar! Bubar!!”

Adit tidak akan tahu apa jadinya kalau gadis itu tidak datang.

“Lo nggak pa-pa?” Adit ingat, bagaimana paras ayu itu menatapnya khawatir. Dahi mengerut tipis dengan bibir  sedikit memanyun terlihat lucu dimatanya. Jangan lupa rambut hitam legam yang masih terkuncir rapih, saat itu Adit tidak tahu panjangnya seberapa.

“Aruna, IPS 1,” begitu jawabnya saat Adit bertanya. Nama yang bagus.

“Naik kelas nanti, sebangku sama gue ya?” Adit mengutuk mulutnya saat itu. Ajakan macam apa itu? Namun, begitu melihat Aruna tersenyum tipis sambil mengangkat bahunya, lelaki itu bersyukur. Memang itu yang harusnya dilakukan.


“Telepon gue kok gak diangkat-angkat sih, Nyet?!”

“Ya sorii,” sahut Adit seraya melambaikan tangan pada teman sekelas—pamit pergi lebih dulu—dan berjalan keluar ruangan. “Ada kelas, baru aja selesai. Ngapain sih?”

Terdengar decakan kesal dari seberang. Adit tebak, pasti bibirnya memanyun. “Ya udah sini. Gue mau ngomong, penting!”

Sudah tahu tanpa bertanya, Adit mempercepat laju jalannya menuju tempat dimana Aruna berada. Senyumnya terus mengembang kala membayangkan apa yang gadis itu berikan sebagai hadiah ulang tahunnya. Mungkin makanan? Atau arloji yang sempat mereka lihat di mall minggu lalu?

Adit menggeleng. Lebih baik dia bergegas.

Sampai di sebuah kafe minimalis, rambut hitam berpotongan bob milik Aruna terlihat mencolok daripada pengunjung yang lain. Dan karena gadis itu duduk membelakangi pintu masuk, Adit dengan isengnya memeluk Aruna dari belakang.

“Hai, Sayang! Nunggu—aw! Kok kamu gitu sih??”

“Nggak usah aneh-aneh ah! Duduk sana!” Omel Aruna sambil melepas tangan Adit. “Sorry ya, Kak. Emang begini modelannya dari dulu.”

Adit menoleh, baru menyadari kalau ada orang lain yang duduk di depan Aruna. Laki-laki, rambutnya dikuncir—mungkin gondrong—sebagian, matanya sipit dan tegas, kemeja putih dengan lengan digulung, terlihat seram kalau senyumnya hilang. Anak mana dah?

“Jadi lo,” Adit berkedip, menyadari lelaki itu menatapnya balik dan mengajak bicara. “Yang namanya Aditya? Temen Aruna dari jaman sekolah?”

Adit melirik Aruna sekilas sebelum menyandarkan punggung dan bersedekap. “Iya, gue Adit. Situ sendiri?”

Lelaki itu mengulurkan tangan, membuat Adit mau tak mau membalasnya. “Hangga. Pacarnya Aruna.”

“HAH?!”

Adit kaget. Aruna kaget. Semua yang di sana kaget.

Mencoba tenang, Adit berdeham sekali. Jabatan tangan sudah terlepas dari tadi. “Maaf maaf, kaget.”

“Iya nggak pa-pa. Malah gue agak merasa bersalah karena ngasih tau ini dadakan,” jawab Hangga. Lagi.

Adit mengalihkan pandangan, melihat Aruna yang dari tadi tidak berbicara padanya. Dia tahu, pasti ada yang salah.

“Dari kapan?” Jawab, Na. “Pdkt-nya. Tiba-tiba pacaran aja.”

“Sebulan kurang lah,” Adit mendengus. Bawel ya, nih bocah. “Kalo nembak baru semalem.”

Sebelah alis Adit terangkat begitu menatap Hangga. “Langsung diterima?”

“Ya...” Hangga memasang wajah yang menjengkelkan dimata Adit. “Kalo nggak, ngapain kita di sini sekarang? Ya kan, Sayang?”

Aruna mengangguk, senyumnya kaku kalau dilihat dari samping. Adit tidak tahan, ditariknya tangan si gadis keluar dari tempat itu. Tak lupa memberi tatapan tajam seolah mengucap ‘diem-di-situ-anjing-lu-gak-berurusan-sama-ini!’.

“Biasanya lo cerita,” kata Adit datar. “Kenapa sekarang main jadian aja?”

Aruna menghela napas. “Nggak serius. Gue nggak terlalu suka.”

Sebelah alis Adit terangkat lagi. Berbisik, “Pelampiasan?”

“Gitu deh,” Aruna mengangkat bahunya ringan. “Bantuin move on dari Kak Putra.”

Adit sudah tidak terkejut lagi. Aruna sangat sering melakukan ini dari kelas sebelas. “Okay. Urus sendiri ya kalo lo malah suka.”

“Dia aja nembak nggak niat,” Aruna melirik ke dalam lewat jendela besar kafe, Hangga masih memerhatikan mereka. “Paling seminggu kelar.”

“Bener ya? Seminggu?” Adit menunjuk Aruna. “Feeling gue nggak enak dari pertama liat dia, anjir. Auranya kayak orang aneh gitu.”

“Lo kali, aneh!” Aruna terkekeh, Adit bernapas lega. “Masuk yuk. Gue takut lo ditonjok gara-gara kelamaan ngobrol di sini.”

Oh iya! “Jadi yang mau lo mau ngomongin tadi, ini?”

“Iya lah, apa lagi emang?” Aruna berjalan lebih dulu. “Lo pesen makan gih, gue traktir.”

“Dalam rangka?”

“Pajak jadian, lah!”

Adit tersenyum kecut. Semoga dia ingat untuk menghubungi Mamanya untuk mengirim nasi kuning nanti. Setidaknya, hadiah itu lebih baik daripada yang terjadi hari ini.


“Gue kira nggak jadi dateng.”

Bintang ikut tersenyum seraya menutup pintu dan masuk ke apartemen Lia. “Macet banget tadi depan kampus, handphone juga mati. Sorry, ya.”

“Nggak papa,” sahut Lia sekembalinya dari dapur untuk menyuguhkan minuman. “Nih, minum dulu.”

Thanks,” Bintang menerimanya setelah duduk di salah satu sofa.

Karena sebelumnya hanya berbaring, sekarang Lia jadi sibuk menyiapkan semua. Dari kamera, penyangganya, dan barang-barang lain yang berkaitan dengan rekaman. Saking buru-burunya, dia hampir tersandung kabel kalau saja Bintang tidak segera menahannya.

“Pelan-pelan dong, Li,” katanya seraya mengambil sebagian barang di tangan Lia. “Baru juga keluar rumah sakit.”

Lia hanya terkekeh. “Excited Broo. Berapa bulan kita nggak bikin konten duet?” Setelah menaruh barangnya di dekat sofa, ia menepuk tangan sekali. “Oh ya, kuenya! Tolong pasang-pasangin kabelnya gih. Gue ke dapur bentar.”

Bintang memberi tanda ‘oke’ dengan tangan kanan. Seperti biasa, tugasnya di sini selain ikut bernyanyi untuk konten YouTube Lia adalah bongkar-pasang alat-alatnya. Untung saja dia paham.

“Lia,” panggilnya setelah lima menit. “Yang buat colokin kabel kurang, nih.”

“Ambil di laundry room, Bin,” sahut Lia agak keras. “Kotak kayu, sebelah mesin cuci kayaknya.”

Laundry room letaknya di balkon, sebelah kiri dari pintu keluar dan ditutupi atap agar tidak kehujanan. Bintang menemukan barang yang di cari tepat di kolong laci. Karena berdebu, dia bersin berulangkali.

“Ketemu nggak?” Tanya Lia seraya menaruh kuenya di meja samping sofa.

“Ada ko—hatchuh!” Bintang belum berhenti bersin rupanya. “Sori, tadi debuan.”

“Iya, lama nggak dikeluarin soalnya,” Lia mengernyit lagi saat Bintang bersin. Rasa khawatir pun menyelinap. “Lo nggak pa-pa?”

Bintang memegang hidungnya, berusaha menahan bersin. “Gue alergi debu.”

“BUKANNYA NGOMONG DARI TADI,” Lia refleks teriak dan mengambil barang yang dipegang Bintang. “Duduk dulu. Mau gue ambilin tisu atau ke toilet aja?”

“Ke toilet aja deh. Bentar ya.”

Lia mengangguk dengan muka panik. Tanpa pikir panjang, ia keluar menuju kamar Alfi untuk menanyakan obat alergi.

“Apotik bawah kayaknya ada sih.”

Benar, Lia berlari dari lantai sembilan menuju apotik yang letaknya hampir lima ratus meter dari gedung apartemennya.


“Siapa yang suruh?”

Tanpa menoleh, Lia sudah melihat wajah datar Bintang dari pantulan pintu lift. “Namanya juga panik.”

“Ya seenggaknya ngomong dulu, Lia,” Bintang baru menoleh. “Gue yang lebih panik di sini. Lo keluar nggak ngomong, malem-malem, nggak bawa hape—”

“Maaf,” gumam Lia pelan, namun sanggup membuat Bintang diam. “Gue cuma mau bantu—nolongin lo.”

Dentingan lift berbunyi setelahnya, menandakan kalau mereka sampai di lantai sembilan. Lia masih diam, begitupun Bintang. Hingga pintu lift mulai menutup kembali, si gadis terpaksa melangkahkan kaki terlebih dulu.

“Gue ngerepotin. Lagi,” Lia menghentikan langkahnya. Menekan tombol ‘buka’ sebelum berbalik menatap Bintang yang melanjutkan ucapannya. “Harusnya lo nggak usah ngelakuin ini. Gue nggak tahu mau bilang makasih atau maaf.”

Lia mengulum bibir. Melihat Bintang bersin lagi membuatnya melangkah mendekat. “Masih gatel hidungnya? Minum obat ya.”

Bintang diam sejenak, sebelum mengangguk dan mengikuti Lia kembali ke apartemennya.

“Bintang,” panggil Lia setelah lelaki itu meminum obat yang dibelinya. “Kemaren waktu gue sakit, lo kerepotan nggak?”

“Kenapa nanya gitu?”

“Jawab aja dulu,” Lia memicing sambil menunjuk tepat ke hidung Bintang. “Jujur tapi. Bohong, masuk neraka.”

Bintang terkekeh. “Iya iya.” Sebelum lanjut, ia menyandarkan punggung ke sofa.

“Nggak ngerasa repot kok, serius. Lebih ke seneng mungkin?” Bintang berdeham panjang, Lia menatapnya penasaran. “Soalnya... waktu adek gue sakit kemaren, gue nggak ada di sana. Dan ya, gue kehilangan kesempatan buat rawat dia.”

Lia terdiam, mendadak sedih. Bintang punya adek? Dan adeknya... “Jadi kemaren, semuanya kebayar?”

Bintang mengangguk tipis. “Seenggaknya ada rasa lega. Makanya gue seneng.”

Lia mengambil selembar tisu dan memberikannya pada Bintang yang baru saja bersin. “So do I.

“Hah?”

“Gue anak tunggal, gak pernah tau dan ngerasain gimana cara rawat orang sakit,” Lia mengulum bibir sekilas. Ini kali pertamanya dia bercerita tentang posisinya di keluarga. “Misal temen gue ada yang sakit, nyokap ngelarang lama-lama jenguk. Jadilah sekarang—kesempatan mumpung jauh dari rumah—gue nekat ke apotek.

“Itu yang pertama. Yang kedua, pengen gantian aja sama lo. Lo aja bisa nemenin gue tiga minggu di rumah sakit, kenapa gue enggak?”

Bintang menatap gadis di hadapannya dengan senyum tipis. Hatinya menghangat. Hal yang baru-baru ini dia rasakan dan dia suka. “Makasih ya.”

Anytime,” Lia tersenyum. Bintang menyebutnya ‘senyum matahari’.


“Lia, lo kenal dia?”

Gadis yang baru selesai merapihkan tirai menoleh, memicingkan mata pada objek yang ditunjuk Zia. Lima detik, ia terkesiap. “Bintang?!”

“Kan, kenal. Nggak percayaan sih lo,” setelahnya, Bintang mengusir Zia keluar sebelum masuk ke kamar rawat Lia. “Cariin pacar lo, noh. Nyasar dia di lobby.”

Lia masih terdiam di ranjangnya, menatap lelaki ber-hoodie abu-abu yang masih memakai helm di kepalanya. Saat dia berbalik, gadis itu tertawa dengan kerasnya.

“Loh? Kok ketawa?” Tanya Bintang seraya mendekat dan menaruh barang bawaannya di meja terdekat.

“Lo serius, kayak gitu lewat lobby?” Lia bertanya balik.

“Iya...?” Jawab Bintang gamang. “Emang kenapa sih?”

Lia tertawa lagi, kali ini sambil menunjuk kepalanya. Butuh waktu sekitar sepuluh detik sampai Bintang memegang kepalanya dan terkekeh saat menyadari masih ada helm di sana.

“Gue baru tahu lo bisa ceroboh juga,” kata Lia saat tawanya mereda, pada Bintang yang sudah melepas helm-nya.

“Namanya juga panik,” masih malu, lelaki itu terkekeh kecil sambil menarik kursi dan duduk di sebelah ranjang Lia. “Pantesan juga tadi, gue diomelin temen lo.”

Lia menggelengkan kepala, tak habis pikir.

“Eh iya, lo kenapa bisa dirawat?” Tanya Bintang sesuai tujuan awal. “Sakit? Apa habis kecelakaan?”

“Kecelakaan lagi,” Lia terkekeh lagi. “Nggak, kata dokter cuma gejala DBD. Kenapa bisa dirawat ya gara-gara Cantika. Mentang-mentang gue lemes tadi, main ‘iya’ aja pas disuruh dokter rawat inap. Padahal bisa kan, di rumah aja?”

Bintang berdeham, mengingat sesuatu. “Nggak dong, emang harus dirawat. Saudara gue pernah begini, tiga minggu dirawat.”

Lia cemberut. “Saudara lo masih kecil kali. Gue kan—”

“Tiga minggu dirawat setelah orangtuanya nekat rawat di rumah,” sergah Bintang yang membuat Lia diam. “Kalo udah masuk gejala itu bahaya, Li. Iya kalo cepet sembuh, kalo gejalanya jadi beneran gimana?”

Lia menunduk, bibirnya masih memanyun. “Pengen pulaaanngg...”

Gantian Bintang yang menggelengkan kepala. Seingatnya, Lia pernah cerita kalau dia tidak suka berlama-lama di rumah sakit. Katanya, “Baunya nggak enak!”

“Oh iya,” Lia mendongak, menatap Bintang. “Lo jadi bawa ayam pedes?”

“Itu,” saat Lia menoleh ke tas yang ditunjuk, Bintang tersenyum jahil. “Nggak boleh makan tapi.”

“Kok nggak boleh?”

“Orang sakit itu makannya harus yang berkuah,” bersedekap, Bintang menerawang. “Harusnya tadi dijadiin sop ayam aja.”

Lia berdecak kesal. “Kenapa nggak bakso?”

“Micinnya banyak, Li. Enak sop pake sayur,” Bintang menatap Lia lagi, kali ini mengejek. “Ada wortel, buncis—”

“Nggak mauuu!” Lia menutup telinga. “Nggak suka sayur!”

Bintang tertawa gemas. Jika biasanya sambil bertepuk tangan, kali ini tangannya terulur dan mengacak rambut Lia.

Jangan tanya apa yang Lia rasakan, karena dia juga tidak tahu kenapa detak jantungnya menjadi tak normal. Salah tingkah, ia memilih menyingkirkan tangan Bintang dan tidur memunggunginya.

“Loh? Ngambek?”

“Diem! Jangan ngomong sama gue!”

Bintang masih tertawa. Tetep aja ya, gemesnya. Melihat jam, sepertinya azan magrib sudah berkumandang.

“Ya udah sono. Hush! Hush!” Usir Lia saat Bintang izin keluar. Membuat lelaki itu tertawa lagi dan mengacak rambutnya lagi.


“Pake hoodie siapa itu?”

Lia menurunkan ponselnya dan menatap Bintang yang berjalan mendekat. “Punya gue, tadi minta Zia bawa. Dingin soalnya.”

“Menggigil?” Bintang mengecek suhu badan Lia dengan memegang dahinya. Makin panas. “Naikin aja suhu AC-nya.”

“Y-ya tolong,” kata Lia terbata, salah tingkah. Matanya juga menghindari tatapan Bintang. “Di sana tuh, remote-nya.”

Jantuuunngg! Diem nggak lo?! Jerit Lia dalam hati. Bibirnya digigit agar dapat menahan senyum. Ketika Bintang kembali, dia batuk sekilas dan menormalkan ekspresi.

“Itu makanan kok masih banyak?” Tanya Bintang setelah tak sengaja melihat nampan di atas meja. “Belum di makan?”

“Nanti aja. Lagi males bangun,” Lia melihat jam dan baru tersadar. “Kok lo nggak pulang sih? Kan jam jenguk udah abis.”

“Jadi gini,” Bintang duduk di kursinya lagi. “Tadi gue ketemu Alfi. Dia bilang nitip jagain lo, mau ngerjain tugas apa gimana tadi bilangnya. Ya udah, abis itu gue bilang sama suster depan yang jaga kalo gue pihak keluarga. Dibolehin deh.”

“Eh? Segampang itu?” Alis Lia terangkat, tidak percaya. “Nyogok ya?”

“Anak hukum kok nyogok? Nggak lah,” Bintang menarik kursinya mendekat. “Cuma bilang gue Kakak lo, Susternya langsung percaya.”

Lia terkekeh. “Mana ada Kakak yang lahir tiga bulan setelah adeknya lahir?”

“Yang penting dibolehin,” Bintang menjulurkan lidah, membuat Lia semakin terbahak. “Udah ah, makan dulu. Biar nggak kemaleman makan obatnya.”

“Suapin,” ucap Lia manja sebelum hidungnya dicubit Bintang.

Rencana mereka untuk take video memang batal. Namun, janji untuk bertemu tidak batal, kan?


“Capek banget, sumpah!”

Itu Lia, yang langsung menduduki bangkunya untuk menyandarkan punggung. Napas yang tersengal-sengal, peluh keringat di dahi, juga anak rambut yang terlepas sendiri membuatnya terlihat sedikit mengenaskan dibanding mahasiswa-mahasiswa lain yang mulai mengeluarkan buku catatan dan alat tulis. Berhubung tempatnya dekat dengan AC, Lia memejamkan matanya sejenak.

“Minum nih,” di sampingnya, Cantika menyerahkan sebotol minuman isotonik. “Muka lo pucat banget. Dandan dikit kek.”

Lia menerimanya tanpa menjawab. Hampir setengah botol dia habiskan, berharap kedepannya tidak merasa lemas lagi. “Thanks.

“Lo tadi di antar Alfi?” Tanya Cantika dengan suara pelan, karena Pak Johan mulai menjelaskan materi baru. “Kok bisa? Ketemu dimana?”

“Dia kan satu apart sama gue, lupa?” Suara Lia masih lemas, mengeluarkan buku saja seperti tak bertenaga.

“Iya kah? Selantai ng—”

“Jangan ajak ngobrol!” Sergah Lia sambil memijat pelipisnya. “Kepala gue pusing, muter-muter dari tadi.”

Cantika tidak jadi bertanya saat namanya dipanggil Pak Johan untuk menjawab pertanyaan. Ia panik, tentu saja. Pertanyaan itu adalah bagian dari materi yang barusan dijelaskan. Dia kan tidak mendengarkan.

“Sebelahnya siapa?” Lia meringis pelan sebelum mengangkat tangan. “Iya kamu. Coba jawab pertanyaan saya tadi.” Saat gadis itu mulai bicara, Pak Johan menyanggah lagi. “Sambil berdiri dong, biar semuanya keliatan.”

Lia menghela napas panjang sebelum bangkit berdiri. Banyak aturan banget sih, kepala gue pusing!! Jeritnya dalam hati selama menjelaskan apa yang diminta. Iya, dia sedikit mendengarkan tadi, juga sempat belajar semalam. Karena puas dengan jawabannya, Pak Johan meminta yang lainnya untuk tepuk tangan.

Entah tepukan mereka yang lemah atau badannya yang semakin lemas, Lia tak mendengar apa-apa lagi. Karena semuanya menjadi gelap.