birthday gift
“Lanjut besok, deh.”
Mulut Adit menguap lebar saat menutup laptop. Setelah melakukan peregangan, dirinya bangkit untuk merapihkan meja dan beranjak ke toilet sambil menunggu ponselnya menyala. Detik jam dinding masih terdengar keras, namun tidak beranjak dari angka delapan. Memberi tanda kalau baterainya harus segera diganti.
Yang pasti Adit tahu, saat ini pasti pukul dua belas lewat. Tengah malam. Mana pernah dia tidur sebelum jam sembilan semenjak kuliah? Yang pernah, dia baru tidur sepuluh menit sebelum azan subuh berkumandang. Salahkan tugas kuliah dan urusan organisasi yang muncul bersamaan dengan deadline setipis helai rambut.
Ponsel menyala, banjir notifikasi. Bahkan lebih banyak dari biasanya. Adit yang sudah tahu alasannya memilih mengabaikan pesan dan mencari satu kontak yang lupa disematkan. Bibirnya mengulum tipis.
Last seen yesterday at 10:57 PM.
“Masa udah tidur?” Gumam Adit dengan ibu jari yang siap menekan ikon telepon di pojok kiri. Satu sisi menyuruh telepon, sisi lain menyuruh tunggu. Baru kali ini ia ragu untuk menghubungi gadis itu.
Akhirnya, ia memilih tunggu. Sengaja menaruh ponsel di pinggir kasur agar bunyinya langsung menuju telinga jika ia tertidur pulas.
Dan sampai pagi, belum ada telepon masuk darinya.
22 Maret.
Yang Adit ingat selain nasi kuning buatan Mamanya adalah saat teman sekelasnya memberi kejutan sepulang sekolah. Saat itu masih tahun pertama di SMA, dimana dia dipertemukan dengan seseorang yang membuatnya tak berkedip sama sekali.
“Ya nggak pake telor juga dong!! Lo kata bau telor enak apa?! Yang rugi juga lo semua! Gak cuma dia yang ulang tahun sama orang-orang yang tinggal deket sini. Bubar! Bubar!!”
Adit tidak akan tahu apa jadinya kalau gadis itu tidak datang.
“Lo nggak pa-pa?” Adit ingat, bagaimana paras ayu itu menatapnya khawatir. Dahi mengerut tipis dengan bibir sedikit memanyun terlihat lucu dimatanya. Jangan lupa rambut hitam legam yang masih terkuncir rapih, saat itu Adit tidak tahu panjangnya seberapa.
“Aruna, IPS 1,” begitu jawabnya saat Adit bertanya. Nama yang bagus.
“Naik kelas nanti, sebangku sama gue ya?” Adit mengutuk mulutnya saat itu. Ajakan macam apa itu? Namun, begitu melihat Aruna tersenyum tipis sambil mengangkat bahunya, lelaki itu bersyukur. Memang itu yang harusnya dilakukan.
“Telepon gue kok gak diangkat-angkat sih, Nyet?!”
“Ya sorii,” sahut Adit seraya melambaikan tangan pada teman sekelas—pamit pergi lebih dulu—dan berjalan keluar ruangan. “Ada kelas, baru aja selesai. Ngapain sih?”
Terdengar decakan kesal dari seberang. Adit tebak, pasti bibirnya memanyun. “Ya udah sini. Gue mau ngomong, penting!”
Sudah tahu tanpa bertanya, Adit mempercepat laju jalannya menuju tempat dimana Aruna berada. Senyumnya terus mengembang kala membayangkan apa yang gadis itu berikan sebagai hadiah ulang tahunnya. Mungkin makanan? Atau arloji yang sempat mereka lihat di mall minggu lalu?
Adit menggeleng. Lebih baik dia bergegas.
Sampai di sebuah kafe minimalis, rambut hitam berpotongan bob milik Aruna terlihat mencolok daripada pengunjung yang lain. Dan karena gadis itu duduk membelakangi pintu masuk, Adit dengan isengnya memeluk Aruna dari belakang.
“Hai, Sayang! Nunggu—aw! Kok kamu gitu sih??”
“Nggak usah aneh-aneh ah! Duduk sana!” Omel Aruna sambil melepas tangan Adit. “Sorry ya, Kak. Emang begini modelannya dari dulu.”
Adit menoleh, baru menyadari kalau ada orang lain yang duduk di depan Aruna. Laki-laki, rambutnya dikuncir—mungkin gondrong—sebagian, matanya sipit dan tegas, kemeja putih dengan lengan digulung, terlihat seram kalau senyumnya hilang. Anak mana dah?
“Jadi lo,” Adit berkedip, menyadari lelaki itu menatapnya balik dan mengajak bicara. “Yang namanya Aditya? Temen Aruna dari jaman sekolah?”
Adit melirik Aruna sekilas sebelum menyandarkan punggung dan bersedekap. “Iya, gue Adit. Situ sendiri?”
Lelaki itu mengulurkan tangan, membuat Adit mau tak mau membalasnya. “Hangga. Pacarnya Aruna.”
“HAH?!”
Adit kaget. Aruna kaget. Semua yang di sana kaget.
Mencoba tenang, Adit berdeham sekali. Jabatan tangan sudah terlepas dari tadi. “Maaf maaf, kaget.”
“Iya nggak pa-pa. Malah gue agak merasa bersalah karena ngasih tau ini dadakan,” jawab Hangga. Lagi.
Adit mengalihkan pandangan, melihat Aruna yang dari tadi tidak berbicara padanya. Dia tahu, pasti ada yang salah.
“Dari kapan?” Jawab, Na. “Pdkt-nya. Tiba-tiba pacaran aja.”
“Sebulan kurang lah,” Adit mendengus. Bawel ya, nih bocah. “Kalo nembak baru semalem.”
Sebelah alis Adit terangkat begitu menatap Hangga. “Langsung diterima?”
“Ya...” Hangga memasang wajah yang menjengkelkan dimata Adit. “Kalo nggak, ngapain kita di sini sekarang? Ya kan, Sayang?”
Aruna mengangguk, senyumnya kaku kalau dilihat dari samping. Adit tidak tahan, ditariknya tangan si gadis keluar dari tempat itu. Tak lupa memberi tatapan tajam seolah mengucap ‘diem-di-situ-anjing-lu-gak-berurusan-sama-ini!’.
“Biasanya lo cerita,” kata Adit datar. “Kenapa sekarang main jadian aja?”
Aruna menghela napas. “Nggak serius. Gue nggak terlalu suka.”
Sebelah alis Adit terangkat lagi. Berbisik, “Pelampiasan?”
“Gitu deh,” Aruna mengangkat bahunya ringan. “Bantuin move on dari Kak Putra.”
Adit sudah tidak terkejut lagi. Aruna sangat sering melakukan ini dari kelas sebelas. “Okay. Urus sendiri ya kalo lo malah suka.”
“Dia aja nembak nggak niat,” Aruna melirik ke dalam lewat jendela besar kafe, Hangga masih memerhatikan mereka. “Paling seminggu kelar.”
“Bener ya? Seminggu?” Adit menunjuk Aruna. “Feeling gue nggak enak dari pertama liat dia, anjir. Auranya kayak orang aneh gitu.”
“Lo kali, aneh!” Aruna terkekeh, Adit bernapas lega. “Masuk yuk. Gue takut lo ditonjok gara-gara kelamaan ngobrol di sini.”
Oh iya! “Jadi yang mau lo mau ngomongin tadi, ini?”
“Iya lah, apa lagi emang?” Aruna berjalan lebih dulu. “Lo pesen makan gih, gue traktir.”
“Dalam rangka?”
“Pajak jadian, lah!”
Adit tersenyum kecut. Semoga dia ingat untuk menghubungi Mamanya untuk mengirim nasi kuning nanti. Setidaknya, hadiah itu lebih baik daripada yang terjadi hari ini.