suddenly drop


“Capek banget, sumpah!”

Itu Lia, yang langsung menduduki bangkunya untuk menyandarkan punggung. Napas yang tersengal-sengal, peluh keringat di dahi, juga anak rambut yang terlepas sendiri membuatnya terlihat sedikit mengenaskan dibanding mahasiswa-mahasiswa lain yang mulai mengeluarkan buku catatan dan alat tulis. Berhubung tempatnya dekat dengan AC, Lia memejamkan matanya sejenak.

“Minum nih,” di sampingnya, Cantika menyerahkan sebotol minuman isotonik. “Muka lo pucat banget. Dandan dikit kek.”

Lia menerimanya tanpa menjawab. Hampir setengah botol dia habiskan, berharap kedepannya tidak merasa lemas lagi. “Thanks.

“Lo tadi di antar Alfi?” Tanya Cantika dengan suara pelan, karena Pak Johan mulai menjelaskan materi baru. “Kok bisa? Ketemu dimana?”

“Dia kan satu apart sama gue, lupa?” Suara Lia masih lemas, mengeluarkan buku saja seperti tak bertenaga.

“Iya kah? Selantai ng—”

“Jangan ajak ngobrol!” Sergah Lia sambil memijat pelipisnya. “Kepala gue pusing, muter-muter dari tadi.”

Cantika tidak jadi bertanya saat namanya dipanggil Pak Johan untuk menjawab pertanyaan. Ia panik, tentu saja. Pertanyaan itu adalah bagian dari materi yang barusan dijelaskan. Dia kan tidak mendengarkan.

“Sebelahnya siapa?” Lia meringis pelan sebelum mengangkat tangan. “Iya kamu. Coba jawab pertanyaan saya tadi.” Saat gadis itu mulai bicara, Pak Johan menyanggah lagi. “Sambil berdiri dong, biar semuanya keliatan.”

Lia menghela napas panjang sebelum bangkit berdiri. Banyak aturan banget sih, kepala gue pusing!! Jeritnya dalam hati selama menjelaskan apa yang diminta. Iya, dia sedikit mendengarkan tadi, juga sempat belajar semalam. Karena puas dengan jawabannya, Pak Johan meminta yang lainnya untuk tepuk tangan.

Entah tepukan mereka yang lemah atau badannya yang semakin lemas, Lia tak mendengar apa-apa lagi. Karena semuanya menjadi gelap.