dot, dot, dot
Lee Jooyeon as Julian Kim Gaeul as Kayla
‘Gw udh sampe nih, bangku ke tiga sebelah kiri pintu.’
Pesan itu terkirim bersamaan dengan datangnya waiters yang mengantar pesanan Kayla—segelas cappucino dan sepiring cheesecake. Usai mengucap terima kasih, ia menopang dagu dan melihat keluar jendela. Menunggu seseorang dengan jantung berdebar-debar.
Namanya Julian. Kayla mengenalnya karena lelaki itu sering meninggalkan komentar setiap dia memposting foto di Instagram. Bukan, bukan komentar buruk atau semacam ‘cat-calling’. Melainkan komentar baik yang pernah membuat hatinya menghangat.
Setelah beberapa hari, ia pun memberanikan diri untuk menghubunginya lewat direct message. Yang awalnya hanya ingin mengucap terima kasih malah lanjut sampai perkenalan diri masing-masing. Kayla juga tidak ragu memberikan nomor teleponnya saat Julian bilang, “Lebih enak ngobrol di WhatsApp nggak sih?”
Dan ya, mereka pun jadi dekat hanya dalam waktu satu bulan.
“Kayla Septriasa Anjani?”
Menoleh, mata Kayla memicing. Sembarangan banget nih orang manggil pake nama lengkap. “Siapa ya?”
“Oh, bener,” lelaki gondrong itu tersenyum tipis sebelum menarik kursi di hadapan Kayla. “Sori ya, lama. Lampu merah lama banget tadi.”
Kayla masing memicing sambil menyesap minumannya. Berbagai pertanyaan mulai bermunculan di otaknya dan memaksa keluar lewat bibir. Siapa lelaki ini? Darimana dia tahu nama lengkapnya? Kenapa juga cara bicaranya seperti orang yang sudah mengenal lama? Apa dia... berniat jahat?
“Lo udah pe—”
“Jangan macem-macem lo!” Kayla mengacungkan garpu ke hadapan si lelaki. “Gue di sini nunggu orang, bukan cowok prik kayak lo!!”
Lelaki itu mengerjapkan mata, sedikit mundur saat garpu itu semakin maju. “I-iya... yang lo tunggu itu, gue kan?”
“Kagak! Julian nggak kayak lo!!”
“Ya... gue Julian,” melihat Kayla semakin memicingkan mata membuat lelaki itu cepat-cepat melanjutkan. “Julian Bagaskara, yang punya akun @playthejul. Yang nomornya—”
“Wait!” sergah Kayla sambil menurunkan garpu. “Gue aja yang buktiin. Kalo sampe lo ngaku-ngaku,” tangannya membuat gestur memotong leher, tak lupa dengan mata yang membulat lebar.
Meski sedikit ragu, Kayla tetap menekan ikon telepon pada nomor yang diberi nama ‘Julian (playthejul)’. Ia sampai berencana akan teriak kalau orang yang didepannya ini bukan Julian. Lalu meminta pengunjung lain menghubungi polisi agar dilaporkan dalam kasus—
“Bener kan?” Julian mengangkat ponselnya, menunjukkan kalau ada panggilan masuk dari kontak bernama ‘@kaysanjani’ yang merupakan nama akun Instagram Kayla. “Emang lo ngira gue siapa?”
Kayla diam. Benar-benar diam.
Kalau di dalam animasi kartun yang biasa ditontonnya semasa kecil, ada titik-titik yang mengambang di atas kepalanya.
“O-oh, sorry,” Kayla tertawa kaku. “Abisnya, lo langsung duduk aja tadi, gak nyebut nama. Makanya gue ngira lo orang... yang mau aneh-aneh. Hehe.”
Julian bersedekap dengan mulut membulat, seperti teringat sesuatu. “Iya ya, tadi gue lupa bilang kalo gue Julian.” Menatap Kayla lagi, kali ini dengan senyum. “Maaf ya, bikin lo takut.”
Kayla mengangguk tipis sambil meraih gelasnya lagi. Julian yang tersadar belum memesan apa-apa pun pamit sebentar, meninggalkan tas dan ponselnya di atas meja. Beruntung posisi duduk Kayla tidak membelakangi kasir sehingga dia bebas memperhatikan penampilan si lelaki, dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Nggak sesuai ekspektasi, batinnya sambil mendengus.
Setelah Julian kembali, mereka mengobrol seperti biasa. Beberapa pertanyaan yang pernah dilontarkan lewat chat ditanyakan lagi olehnya, seperti tinggal dimana, kuliah jurusan apa, berapa bersaudara, dan lain sebagainya.
Asik juga, Kayla berasumsi lagi. Sedikit menyesal karena berniat ilfeel setelah melihat penampilannya.
“Dulu gue sempet sekolah disitu, sebelum pindah ke—” berhenti, Julian melihat ponselnya yang berbunyi. Tak sampai lima detik karena jarinya langsung mengecilkan volume dering.
“Nggak diangkat?” Tanya Kayla sebelum Julian melanjutkan cerita. “Siapa tau penting.”
“Ng-nggak kok, bukan siapa-siapa,” jawab Julian cepat sambil menyesap minumannya, iced americano.
Kayla memicing lagi, kali ini lebih tipis.
“Lo... mau di sini aja?” Tanya Julian dengan tangan terlipat di atas meja untuk menopang sebagian berat badannya. “Nggak kemana-mana lagi gitu? Gue bisa kok temenin.”
Kayla mengulum bibir, berpikir. “Sini aja lah. Gue nggak tau jalan sini.”
Julian mengangguk, kepalanya menoleh ke luar jendela. Kakinya menghentak-hentak pelan di bawah meja. Dan Kayla sadar itu.
“Kalo nggak salah, deket sini ada taman deh,” kata Julian setelah satu menit. “Mau lihat nggak? Jalan kaki aja.”
Kayla berpikir sejenak. Sebenarnya, ia ingin di sini saja. Memesan tiramisu cake yang mencuri perhatian sejak meja sebelah memesannya. Di luar juga panas. Tapi kalau di sini terus, mereka akan kehabisan topik.
“Ya udah deh,” Kayla beranjak. “Nggak jauh kan?”
Benar saja. Sejauh 200 meter dari kafe tadi ada taman persegi yang cukup luas dengan tempat bermain yang kali ini dipenuhi anak kecil. Julian dan Kayla memilih duduk di salah satu bangku yang dekat dengan pohon rindang. Duduknya menghadap jalan raya.
“Siang-siang rame juga, ya,” mata Julian belum beranjak dari tempat bermain itu. “Gue kira sepi.”
“Lo sering ke sini?” Tanya Kayla.
“Nggak sering juga sih,” Julian kembali menatap Kayla. “Ini aja kayaknya yang kedua.”
Kayla mengangguk tipis. Karena menatap ke bawah, ia pun menyadari tali sepatunya longgar. Sebelum membahayakan diri sendiri dan orang lain, ia mengikatnya kembali.
Dan tanpa gadis itu sadari, Julian merapihkan rambutnya yang keluar dari jepitan. Sangat pelan dan lembut seperti tidak mau diketahui oleh Kayla. Cantik, lelaki itu tersenyum.
“JULIAN!!”
Bukan si pemilik nama, melainkan Kayla—yang mendongak dan mencari asal suara. Arah pukul tiga, seorang gadis berponi datang dan menarik telinga Julian sampai lelaki itu berdiri.
“Sakit, Li!!” Jeritnya.
“Jadi ini yang buat lo nggak jawab telepon gue tadi?!” Melepas jeweran, gadis blasteran itu menatap Kayla dengan tajam. “Cewek mana lagi nih?! Bener-bener ya lo!!”
Kayla diam. Memerhatikan Julian yang saat ini dipukuli dengan ganas oleh seorang gadis yang tidak dia tahu siapa, juga memikirkan kenapa hal ini bisa terjadi. Sampai dua orang itu pergi meninggalkannya, Kayla masih diam.
Lagi, titik-titik itu mengambang di kepalanya.
“Eh?! Tadi itu... pacarnya Julian??!!?”