Yes, I do missed you
Klontang!
Suara khas kaleng jatuh dari mesin minuman itu memasuki indera pendengarannya. Mematikan layar ponsel, ia menunduk untuk mengambilnya. Sensasi dingin langsung menyapa kulit tangan membuat bibirnya tertarik secara otomatis. Dengan bantuan ibu jari, kaleng berisi minuman soda itu terbuka. Setengah isinya habis diteguk sendiri dalam waktu lima detik. Bintang lega.
Melangkah keluar gedung, Bintang mengernyit silau. Padahal, arloji di pergelangan tangan kanannya masih menuju ke angka sepuluh. Langkahnya masih berlanjut ke depan. Sambil sesekali mengangguk ramah saat ada orang yang menyapanya. Tidak banyak, paling satu-dua orang.
Belok kanan, Bintang melewati jalan setapak utama yang menghubungkan gedung-gedung fakultas hukum. Tak banyak yang berlalu lalang di sepanjang jalan. Tapi di sisi kiri, banyak yang bersantai di bawah pohon rindang. Bangku panjang yang letaknya menyebar hampir dipenuhi orang-orang dengan urusannya yang berbeda-beda. Bintang pernah sekali duduk di sana saat menunggu kelas selanjutnya. Sambil mendengarkan musik lewat headphone, tangan bersedekap lalu memejamkan mata.
Seperti dia.
“Ah!” Sesuai ekspektasi, Bintang terkekeh.
Dia Lia, yang mengulurkan tangan untuk mencubit lengan Bintang dan gagal karena targetnya menjauh. Wajahnya mengerut kesal, tentu saja. Siapa yang tidak terkejut saat sesuatu yang dingin tiba-tiba menempel di pipi? Niat hati ingin mencari ketenangan setelah mengerjakan tugas, malah terganggu dengan seonggok makhluk menyebalkan.
“Nggak usah ketawa!” Lia mengomel kesal. Bahkan saat Bintang mendekat dan duduk di sampingnya, ia masih menatapnya sinis.
“Biasa aja kali mukanya,” Bintang masih mengejek. “Galak amat kayak cewek pms.”
Lia mendengus pelan sambil melepas headphone abu-abu yang masih menempel di kepala. Dengan jarak sedekat ini, ia bisa saja memukul atau mencubit lengan Bintang sesuai niat awal. Tapi tidak. Nanti saja.
“Tumben neduh sampe sini,” celetuk Bintang membuka topik. “Nggak mungkin tiba-tiba nyasar, kan?”
Tak langsung menjawab, Lia justru mengerjapkan mata. Kepalanya menoleh kiri-kanan dengan dahi mengernyit dan mata memicing. Seperti memerhatikan sesuatu yang nampak asing. Di hadapannya, Bintang ikut menatapnya bingung.
“Iya ya? Kenapa gue bisa di sini?” Tanya Lia kepada dirinya sendiri—mungkin. “Gue kira masih disekitar gedung FEB. Ini dimana sih?”
Bintang sampai mengerjapkan mata, saking bingungnya. “Lo tidur sambil jalan? Siang-siang?”
“Nggak tidur!” Sanggah Lia. Posisi duduknya menyerong ke samping dan menghadap Bintang penuh. “Gue jalan biasa aja kok. Lurus terus. Pas capek pas lihat bangku kosong ini.” Berhenti mengambil napas, Lia mengingat-ingat lagi. “Gue jalan sambil bengong kali, ya?”
“Paling,” sahut Bintang sebelum meneguk habis kaleng minumannya dan membuangnya di tong sampah terdekat. “FEB ke FH tuh hampir satu kilo. Hanya orang-orang tertentu yang mau jalan kaki sejauh itu.”
Lia menepuk tangan sekali, teringat sesuatu. “Iya bener! Tadi gue abis ngumpulin tugas.” Tiba-tiba dia berdecak, wajahnya juga mengerut seperti empat menit yang lalu. “Ah, kesel lagi kan gue. Nggak usah dibahas!”
Bintang mengangguk paham, tidak akan bertanya lanjut meski amat penasaran. Karena kalau dia di posisi Lia, pun dia mengatakan hal yang serupa.
“Lo... baru selesai kelas?” Tanya Lia, mengubah topik. “Ada kelas lagi nggak, abis ini?”
“Kalo sesuai jadwal sih, harusnya selesai. Satu kelas doang,” jawab Bintang. “Kenapa? Mau take video?”
“Nggak, nanya doang.” Lia tersenyum kaku sambil merapihkan rambut. “Gue juga lagi hiatus. Istirahat bentar dari dunia konten-mengonten.”
“Ah!” Seru Bintang tiba-tiba. “Pantesan gue ngerasa kayak ada yang kurang belakangan ini. Kayak... ada yang harus gue kerjain, tapi nggak tau apaan.” Kedengarannya seperti menggumam, namun masih bisa Lia dengar. “Kenapa emangnya? Followers lo nggak ada yang nanyain?”
“Nanyain mah pasti ada. Cuma udah gue jelasin kok waktu pas iseng qna. Lo nggak ikut sih,” telunjuk Lia menuding ke hidung Bintang, membuatnya terkekeh pelan. “Kalau ditanya kenapa, ya jawaban simpelnya cuma satu; males. Sama mungkin bingung mau lagu apa lagi karena gue udah jarang denger lagu baru, kan. Dan semua itu terjadi gara-gara satu hal yang biasa kita sebut—”
“—tugas.”
“Pintar.”
Bintang paham sekarang. Selain yang digumamkan tadi, ia juga paham kenapa matanya selalu mengarah ke gitar akustik setiap kali melamun. Baik itu miliknya sendiri yang terpajang di dinding kamar atau milik temannya yang sesekali membawa. Kadang secara tidak sadar, ia mengambil barang itu dan memainkannya selama hampir dua jam. Dari lagu yang biasa didengar sampai instrumen baru yang tercipta dengan sendirinya.
Wait—what? Am I miss her?
Bintang menggeleng. Berusaha menepis bisikan yang datang entah dari mana. Mana mungkin dia merasa begitu?
“Bintang.”
Hanya panggilan biasa, namun sanggup membuat Bintang meneguk lidah. Dia cemas.
“Lo laper nggak?”
Jarum jam di arloji Bintang berada di angka dua belas. Apakah semakin terik? Iya, awalnya saja. Karena sumber dari cahaya terik itu ditutupi segumpulan kapas sekarang. Kapas berwarna abu-abu yang siap meneteskan airnya kapan saja. Angin juga ikut berkontribusi, meniupkan hawa dingin yang membuat bulu kuduk seseorang berdiri. Dan terakhir, gemuruh mulai bersahutan meski tipis-tipis. Latar sempurna yang menemani bulan berakhiran –ber.
Sambil mengunyah daging bakso terakhir di mangkoknya, Lia mengusap lengan kanan dan kirinya. Matanya terus tertuju ke arah langit yang semakin dipenuhi awan abu-abu. Gelap dan dingin. Ia menyesal memakai kaos lengan pendek.
“Mendung ya?” Tanya Bintang retoris, kepalanya ikut menoleh ke arah langit. “Gelap banget lagi.”
“Jam-jam segini mah emang waktunya,” sahut Lia sembari mengangkat mangkoknya dan meminum kuah yang tersisa. Tolong jangan beri tahu ini pada siapapun, terlebih lagi Ayahnya.
“Gue cuma bawa satu jas hujan,” Bintang mengutarakan masalah. “Ada sih satu lagi, jas hujan plastik. Gue nggak yakin lo suka modelnya.”
Dahi Lia mengerut di balik mangkok. Dia berbicara setelah mangkoknya bersih tak tersisa. “Lo mau anterin gue pulang? Serius?”
“I-iya...” tergagu, Bintang menggaruk rahang kirinya. Niatnya terpampang sangat jelas ternyata. “Biar sekalian. Satu arah juga kan?”
Tak langsung menjawab, Lia justru memangku dagu. Suara hembusan angin semakin terdengar kencang di telinganya, mengiringi tetesan air yang jatuh perlahan-lahan. Gerimis. Lia suka gerimis.
“Hujan-hujanan, yuk!”
Bintang tersedak teh hangat. Menatap wajah berbinar Lia dengan tidak percaya. “Kita?” Lia mengangguk. “Hujan-hujanan?” Lia mengangguk lagi. “Gila kali ya?!”
“Ayolah Bin... mumpung musim hujan. Kapan lagi coba bisa begitu?” Bujuk Lia sampai tangannya membentuk gestur memohon. “Ya? Ya? Sebentar doang kok.”
“Nanti kalo sakit? Siapa yang kemaren bilang nggak mau dirawat ke rumah sakit lagi?” Tanya Bintang sewot sembari beranjak menuju kasir. “Nggak usah. Ayo pulang.”
Lia memanyunkan bibir. Satu sisi setuju untuk tidak melakukan hal itu, mengingat banyak temannya yang terkena flu karena selalu terguyur hujan tiap pulang ke rumah. Namun begitu melihat anak kecil yang berlarian melewati warung bakso itu membuat keinginan Lia semakin memuncak. Kapan terakhir kali dia bermain seperti itu? Mungkin belasan tahun.
Senyumnya mengembang. Sebuah ide baru saja melintas di kepala.
“Ada seribu-an, Mas?”
Bintang merogoh setiap saku di pakaiannya. Seingatnya ada satu koin yang pernah dimasukkan tadi pagi. Tidak ada di celana. Tidak ada juga di jaket. Dimana ya?
“Li, ada seribu-an ngga—”
Seketika, Bintang merasakan apa yang pernah ibunya rasakan dua puluh tahun yang lalu.
“Sudah ada, Mas?” Tanya mbak kasir memastikan. Bintang menoleh gelagapan dan meminta uang kembalian apa adanya. Kemudian berlari tanpa mengucap terima kasih.
Lia hilang. Tidak ada di tempatnya. Mungkin Bintang bisa berpikir positif kalau warung ini menyediakan toilet bagi pengunjung. Mungkin juga sedikit lebih tenang karena barang-barang Lia masih ada di tempatnya, termasuk barang berharga. Sayangnya tidak. Jantungnya sudah lebih dulu berpacu lebih cepat 10 kali dari biasanya.
“LIA!” Bintang berjalan keluar. Menerobos tetesan air yang sekarang sudah menjadi hujan. Matanya menoleh kanan-kiri, telinganya dipasang baik-baik. Untunglah tak banyak kendaraan yang lewat, karena memang lokasinya berada di dalam perumahan. Tapi tetap saja, Bintang merasa amat gelisah. “LIA!”
Belok kiri, ada taman bermain dan lapangan basket. Tepinya dibatasi pagar yang menjulang setinggi dua meter lebih dan dihiasi tanaman rambat di bagian tertentu. Bintang mencoba mencari pintu masuknya sambil terus memanggil Lia. Begitu ditemukan, jantungnya serasa ingin lepas dari tempatnya.
Ada Lia di sana. Menyengir lebar menutupi pintu masuk dengan baju yang benar-benar kuyup.
“Kan... Bintang main hujan-hujanan juga kan.”
Bintang masih diam, menatap Lia dengan tatapan tertajam yang ia bisa. Merasa tidak aman, Lia mundur satu langkah. Dan benar saja. Bintang langsung mengejar Lia yang memutari lapangan basket.
Tawa gelak mereka terus bersahutan, mengiringi rintikan hujan yang tidak tahu kapan berhentinya. Dedaunan yang menggantung, tiang basket yang mulai lapuk, tanah lapang seluas 6 x 15 meter persegi, sudah cukup menjadi saksi mereka bersenang-senang seperti umur tujuh. Usilnya Lia, kesalnya Bintang, jeritan keduanya setiap kali menyipratkan genangan air. Ya, mereka terlihat bahagia.
“Bintang,” panggil Lia sesaat setelah mereka merebahkan diri di tengah lapangan. “Kayaknya gue mau nyanyi lagi. Gue kepikiran satu lagu yang bagus.”
Bintang menoleh. Tidak berkata apa-apa karena Lia sudah meminta, “Bantuin ya, kayak biasa.”
So, do you miss her?
Bintang mengangguk. Yes, I do missed her.