vice versa


“Gue kira nggak jadi dateng.”

Bintang ikut tersenyum seraya menutup pintu dan masuk ke apartemen Lia. “Macet banget tadi depan kampus, handphone juga mati. Sorry, ya.”

“Nggak papa,” sahut Lia sekembalinya dari dapur untuk menyuguhkan minuman. “Nih, minum dulu.”

Thanks,” Bintang menerimanya setelah duduk di salah satu sofa.

Karena sebelumnya hanya berbaring, sekarang Lia jadi sibuk menyiapkan semua. Dari kamera, penyangganya, dan barang-barang lain yang berkaitan dengan rekaman. Saking buru-burunya, dia hampir tersandung kabel kalau saja Bintang tidak segera menahannya.

“Pelan-pelan dong, Li,” katanya seraya mengambil sebagian barang di tangan Lia. “Baru juga keluar rumah sakit.”

Lia hanya terkekeh. “Excited Broo. Berapa bulan kita nggak bikin konten duet?” Setelah menaruh barangnya di dekat sofa, ia menepuk tangan sekali. “Oh ya, kuenya! Tolong pasang-pasangin kabelnya gih. Gue ke dapur bentar.”

Bintang memberi tanda ‘oke’ dengan tangan kanan. Seperti biasa, tugasnya di sini selain ikut bernyanyi untuk konten YouTube Lia adalah bongkar-pasang alat-alatnya. Untung saja dia paham.

“Lia,” panggilnya setelah lima menit. “Yang buat colokin kabel kurang, nih.”

“Ambil di laundry room, Bin,” sahut Lia agak keras. “Kotak kayu, sebelah mesin cuci kayaknya.”

Laundry room letaknya di balkon, sebelah kiri dari pintu keluar dan ditutupi atap agar tidak kehujanan. Bintang menemukan barang yang di cari tepat di kolong laci. Karena berdebu, dia bersin berulangkali.

“Ketemu nggak?” Tanya Lia seraya menaruh kuenya di meja samping sofa.

“Ada ko—hatchuh!” Bintang belum berhenti bersin rupanya. “Sori, tadi debuan.”

“Iya, lama nggak dikeluarin soalnya,” Lia mengernyit lagi saat Bintang bersin. Rasa khawatir pun menyelinap. “Lo nggak pa-pa?”

Bintang memegang hidungnya, berusaha menahan bersin. “Gue alergi debu.”

“BUKANNYA NGOMONG DARI TADI,” Lia refleks teriak dan mengambil barang yang dipegang Bintang. “Duduk dulu. Mau gue ambilin tisu atau ke toilet aja?”

“Ke toilet aja deh. Bentar ya.”

Lia mengangguk dengan muka panik. Tanpa pikir panjang, ia keluar menuju kamar Alfi untuk menanyakan obat alergi.

“Apotik bawah kayaknya ada sih.”

Benar, Lia berlari dari lantai sembilan menuju apotik yang letaknya hampir lima ratus meter dari gedung apartemennya.


“Siapa yang suruh?”

Tanpa menoleh, Lia sudah melihat wajah datar Bintang dari pantulan pintu lift. “Namanya juga panik.”

“Ya seenggaknya ngomong dulu, Lia,” Bintang baru menoleh. “Gue yang lebih panik di sini. Lo keluar nggak ngomong, malem-malem, nggak bawa hape—”

“Maaf,” gumam Lia pelan, namun sanggup membuat Bintang diam. “Gue cuma mau bantu—nolongin lo.”

Dentingan lift berbunyi setelahnya, menandakan kalau mereka sampai di lantai sembilan. Lia masih diam, begitupun Bintang. Hingga pintu lift mulai menutup kembali, si gadis terpaksa melangkahkan kaki terlebih dulu.

“Gue ngerepotin. Lagi,” Lia menghentikan langkahnya. Menekan tombol ‘buka’ sebelum berbalik menatap Bintang yang melanjutkan ucapannya. “Harusnya lo nggak usah ngelakuin ini. Gue nggak tahu mau bilang makasih atau maaf.”

Lia mengulum bibir. Melihat Bintang bersin lagi membuatnya melangkah mendekat. “Masih gatel hidungnya? Minum obat ya.”

Bintang diam sejenak, sebelum mengangguk dan mengikuti Lia kembali ke apartemennya.

“Bintang,” panggil Lia setelah lelaki itu meminum obat yang dibelinya. “Kemaren waktu gue sakit, lo kerepotan nggak?”

“Kenapa nanya gitu?”

“Jawab aja dulu,” Lia memicing sambil menunjuk tepat ke hidung Bintang. “Jujur tapi. Bohong, masuk neraka.”

Bintang terkekeh. “Iya iya.” Sebelum lanjut, ia menyandarkan punggung ke sofa.

“Nggak ngerasa repot kok, serius. Lebih ke seneng mungkin?” Bintang berdeham panjang, Lia menatapnya penasaran. “Soalnya... waktu adek gue sakit kemaren, gue nggak ada di sana. Dan ya, gue kehilangan kesempatan buat rawat dia.”

Lia terdiam, mendadak sedih. Bintang punya adek? Dan adeknya... “Jadi kemaren, semuanya kebayar?”

Bintang mengangguk tipis. “Seenggaknya ada rasa lega. Makanya gue seneng.”

Lia mengambil selembar tisu dan memberikannya pada Bintang yang baru saja bersin. “So do I.

“Hah?”

“Gue anak tunggal, gak pernah tau dan ngerasain gimana cara rawat orang sakit,” Lia mengulum bibir sekilas. Ini kali pertamanya dia bercerita tentang posisinya di keluarga. “Misal temen gue ada yang sakit, nyokap ngelarang lama-lama jenguk. Jadilah sekarang—kesempatan mumpung jauh dari rumah—gue nekat ke apotek.

“Itu yang pertama. Yang kedua, pengen gantian aja sama lo. Lo aja bisa nemenin gue tiga minggu di rumah sakit, kenapa gue enggak?”

Bintang menatap gadis di hadapannya dengan senyum tipis. Hatinya menghangat. Hal yang baru-baru ini dia rasakan dan dia suka. “Makasih ya.”

Anytime,” Lia tersenyum. Bintang menyebutnya ‘senyum matahari’.