Deal?
Raden mengangkat tangannya. Isyarat untuk Bintang yang baru masuk ke dalam restoran. Masih dengan kacamatanya yang berbingkai bening, hanya saja sekarang memakai hoodie hitam.
“Sorry telat. Agak macet tadi di lampu merah,” ujarnya sebelum duduk di bangku kosong sebelah Raden.
“Gapapa santai,” sahut Raden ramah. Lelaki dengan t-shirt hitam itu pun memanggil Lia yang baru saja kembali dari toilet. “Nih orangnya. Pas banget dateng.”
“Hai! Lia,” gadis dengan sweater hijau itu mengulurkan tangannya kepada Bintang. Begitu disambut, senyumnya merekah lebih lebar. “Santai aja. Kita seumuran juga kok.”
“Sebenarnya ada satu lagi, Bin. Adit namanya. Tapi katanya nggak bisa dateng sekarang,” tambah Raden setelah mereka selesai berkenalan. “Langsung aja deh ya? Biar gak kelamaan.”
Lia mengacungkan jempol, tanda setuju.
“Jadi gini, Bin. Gue udah sempat bahas lewat group chat soal sistem band yang kita mau. Sepakatnya, band kita ini band yang santai? Yang cuma cover-cover lagu doang,” jelas Raden. “Dan mungkin bisa tampil kalo dibutuhkan. Live music cafe contohnya.”
“Kalo lo pernah nonton drakor, Hospital Playlist, ya band kayak gitu,” tambah Lia.
Bintang ber-oh-ria. “Band-nya Ikjun dkk ya? Tahu gue.”
“Tahu?! Nonton juga dong?” Tanya Lia antusias. Matanya saja sampai melebar.
“Nonton lah,” Bintang tersenyum jumawa. “Setia menunggu season 3.”
Lia menepuk tangan sekali, cukup keras. “Sama kita! Tos dulu.”
Raden berdecak pelan. “Udah udah. Lanjut sini dulu sebentar.” Setelah mendapat atensi mereka kembali, ia melanjutkan. “Nah, begitu sistemnya. Kalo jadwal latihan, kami sepakatnya fleksibel. Alias kalo semuanya lagi bisa langsung latihan. Karena balik lagi ke dasar, band ini gue bikin buat hiburan, istirahat sebentar dari jadwal kuliah.”
“Intinya mirip-mirip band-nya Ikjun,” tambah Lia lagi.
Bintang mengangguk paham. Terima kasih kepada keterangan tambahan Lia yang membuatnya mudah membayangkan bagaimana bentuk band Raden tadi. Tidak buruk.
“Kalo anggotanya?” Bintang bertanya, akhirnya. “Sama posisi-posisi mereka apa aja?”
“Yang baru ada sih gue jadi bassist, Lia main vocal, sama Adit drummer,” Raden menjawab.
Bintang menerawang. “Cukup dong itu.”
“Cukup emang, udah masuk minimal,” sahut Raden. “Cuma gue mau ada satu lagi buat pegang keyboard.”
Bintang mengangguk, mulutnya membulat lagi. Ia berdesis panjang sambil memegang tengkuk lehernya. “Gue... boleh sih. Tapi.. masih mikir dulu. Gak papa?”
“Oh, iya gak papa. Santai.”
“Pesen minum aja dulu,” Lia beranjak dari duduknya. “Mau gue pesenin sekalian?”
Bintang menegakkan punggungnya dan menggeleng. “Nggak usah, Lia. Makasih. Gue udah makan tadi.”
“Minum doang kok. Emang lo nggak haus apa?” Lia merogoh tas kecilnya untuk mengambil dompet. “Gue pesenin ya?”
“Nggak usah, Lia,” akhirnya, Bintang ikut beranjak. “Gue pesen sendiri aja. Ngerepotin banget sampe dipesenin.”
Lia tertawa kecil. “Nggak ngerepotin elah. Santai aja.” Menoleh ke Raden, ia memintanya untuk menjaga barang selama mereka memesan.
Karena mereka datang di jam makan siang, tidak heran kalau antreannya cukup panjang. Semuanya bersatu. Anak kecil, remaja, dewasa, yang memang makan di sini, sampai tukang ojek dengan jaket hijau khasnya yang ditugaskan untuk mengantar ke tempat pelanggan yang jauh di sana.
Sembari menunggu, Lia bermain ponselnya. Kemudian teringat sesuatu yang ia temukan beberapa hari yang lalu.
“Bintang,” panggilnya sambil menyenggol pelan. “Ini akun lo, kan?”
Melihat layar ponsel, mata Bintang melotot sekilas. Seperti mengontrol ekspresi, ia menjawab. “Emang? Kata siapa?”
“Nih, lewat di timeline gue,” Lia menunjukkan kembali postingan yang di-pin sehingga muncul paling atas. “Suara lo ini. Yakin banget gue!”
“Masa?” Bintang mengangkat alisnya. “Kayak pernah denger aja suara gue.”
“Pernah ya! Kan gue juga nonton pas lo lomba Minggu kemaren,” melihat Bintang yang nampak berpikir, Lia menambahkan. “Lomba band antar kampus. Lo jadi keyboardist-nya.”
“Ooh yang itu,” Bintang teringat. “Emang gue ikut nyanyi?”
“Ikut kok. Mirip lagi suaranya sama yang disini.”
“Itu bukan gue kali,” diam-diam Bintang menahan senyumnya. “Iya bener gue ikut nyanyi kemaren, tapi jadi back vocal. Harmonization doang. Belom tentu sama kayak yang itu.”
Mata Lia mengerjap dua kali. Terlihat sekali kalau dia kebingungan. “Tapi mirip...”
“Ya berarti yang jadi main vocal kemaren, Bang Izhar,” sahut Bintang lagi. Sebentar lagi mereka sampai di meja pemesanan. “Mau ditanyain?”
“Nggak usah deh,” Lia mematikan ponselnya. “Bener nih, bukan lo?”
“Bukan, Lia. Profil Twitter gue bukan itu.”
Lia masih memicingkan matanya, terutama saat menangkap senyum tipis Bintang yang tampak ditahan-tahan.
Setelah mendapat minuman yang diinginkan, mereka kembali ke meja. Dimana ada satu laki-laki lagi yang merajuk di samping Raden. Asumsi Bintang, dia pasti yang namanya Adit.
“Eh awas! Tempat duduknya—”
“Gak papa, Den. Gue disini juga bisa,” sela Bintang cepat sembari duduk di samping Lia. Melihat Adit, ia mengulurkan tangan. “Ini pasti Adit. Ya, nggak?”
Lelaki berjaket merah itu menunjukkan wajah terkejutnya; mata dan mulut yang membulat besar. Tak lupa membalas uluran tangan Bintang dengan cukup erat. “Kok tahu sih, Bang? Kita pernah ketemu kah?”
“Entah. Feeling mungkin?” Balas Bintang sambil mengangkat bahunya. “Oh ya, panggil Bintang aja nggak papa.”
“Serius?” Adit melepas uluran lebih dulu. “Angkatan gue dibawah kalian loh.”
“Nggak papa. Santai.”
Kemudian, Adit menjulurkan lidah ke Raden. Mengejek. Yang dibalas oleh jitakan di dahi Adit.
“Intermezzo dikit kali ya,” Lia bersuara, mengajak Bintang mengobrol. “Mereka sepupuan, malah pernah serumah pas kecil. Gue tetanggaan sama Raden dari TK. Baru kenal banget Adit pas tahu kalo dia temenan sama sepupu gue pas SMA.”
Bintang mengangguk pelan. “Berarti hitungannya... kalian udah deket banget dari lama?”
“Iya... mungkin? Makanya pas diajak ikut band gampang.”
Bintang mengangguk lagi, kali ini sambil mengusap tengkuk lehernya. Lia yang melihatnya tertawa kecil. “It's okay. Kita nggak ngerasa lo asing banget kok.”
“Really?” Bintang menatap Lia. Kali ini jaraknya lebih dekat.
“Mbak Lia,” panggil Adit yang membuyarkan tatapan mereka. “Minta duit, Mbak. Mas Raden pelit.”
“Duit kamu kemana emang?” Tanya Lia sarkas, namun tetap mengambil selembar uang dari dompetnya. “Nih. Jangan dihabisin!”
Adit menerimanya dengan senyum lebar. “Siap Kakak cantik!” Dan lagi, ia menjulurkan lidah ke Raden sebelum beranjak.
Bintang yang melihatnya sampai menggelengkan kepala. “Tengil banget anaknya.”
“Begitulah,” sahut Raden dengan helaan napas berat.
Bintang mengulum bibir, nampak berpikir. Kemudian menganggukkan kepala setelah hampir dua menit.
“Gue ikut, Den,” ucapnya. “Band lo.”
Saat Raden melirik sekilas dan mengangguk, Lia justru bertepuk tangan kecil dengan wajah sumringah. “Yeay!! Welcome Bintang!”
Barulah saat itu Raden mengalihkan pandangan dari ponsel sepenuhnya. “Serius lo? Mau ikut?!”
Bintang mengangkat bahu, tertawa kecil. Lia yang justru meledeknya.
“Hape mulu sih!!”