no, you don't
Kang Minhee as Mahen Ahn Yujin as Yura
“Ra? Yura?”
Sepasang mata itu mengerjap, kesadarannya kembali. “Iya?”
Di depannya, Mahen menghela napas kecewa. “Kamu nggak dengerin.”
Yura gelagapan. “Dengerin kok! Aku dengerin Kakak!”
“Bener?” Yura mengangguk cepat. “Emang tadi Kakak ngomong apa?”
“Hmm... Kak Nindy sama pacar barunya...?” Yura asal tebak. Begitu melihat kekasihnya tersenyum tipis, ia terkekeh pelan.
Awalnya memang Yura mendengarkan, sambil sesekali menimpali dengan kata atau hanya tertawa. Mungkin saat bahasannya berganti, gadis itu mulai memikirkan sesuatu yang membuatnya termenung dan tidak fokus mendengarkan.
“Kamu ngantuk?” Tanya Mahen lembut seraya menggenggam tangan Yura. “Mau pulang aja?”
Yura menggeleng. “Enggak kok, Kak. Tadi cuma...” menggantung, bahunya diangkat cepat. “Gitu deh.”
Dahi Mahen mengerut tipis. “Mikirin apa hayo? Uang kas nunggak dua bulan?”
“Nggak lah! Ya kali,” Yura tertawa pelan. Kemudian, dia beranjak dari bangkunya. “Keliling aja yuk. Pengen lihat sepatu.”
Mahen mengulum bibir, menatap gadisnya yang menunduk sambil mengikat lengan almet sekolahnya di pinggang. Firasatnya berkata, Yura menghindari tatapan. Tidak mau perasaannya terbaca lewat pandangan mata dimana Mahen cukup peka dengan itu.
Bener, Yura nyembunyiin sesuatu.
“Ayo, Kak Mahen!” Seru Yura yang rupanya sudah berjalan dua langkah. “Nanti pulangnya kemaleman loh.”
Mengikuti alur, Mahen pun beranjak dan menghampiri Yura. Dia tidak suka dipaksa maupun memaksa. Apalagi dengan seseorang yang bukan keluarganya.
Namun, seorang kekasih bisa memberi peringatan bukan?
“Tumben gandengan,” ejek Yura dengan senyum jahilnya. “Mau nyeberang ya, Pak?”
“Iya, Neng,” Mahen mengubah suaranya menjadi suara kakek-kakek, receiving her jokes. “Anterin Kakek sampe Kampung Rambutan, ya?”
“Jauh bangeeettt. Encok duluan kaki saya, kalo begitu ceritanya.”
Setidaknya, senyum Yura terlihat hangat kali ini.
“Sampe sini aja, Kak! Aku turun sini.”
“Loh?” Mahen membuka kaca helmnya. “Nggak sampe depan rumah aja? Kakak mau—”
“Stooppp!!! Sini ajaaa!!”
Mau tidak mau, Mahen mengerem perlahan. Motornya berhenti tepat di dekat palang jalan tempat rumah Yura berada. Baru saja mematikan mesin motor, sebuah helm disodorkan padanya.
“Aku duluan ya, makasih buat hari ini,” Yura merapihkan rambutnya dengan tergesa. “Hati-hati di jalan, Kak.”
“Yura,” tahan Mahen sampai harus turun dari motornya. “Sebentar, Kakak mau ngomong.”
Yura menatapnya jengah, seolah berkata ‘Apalagi sih? Seharian ini belum cukup??’. Namun yang keluar dari bibirnya hanya, “Jangan lama-lama.”
Mahen menghela napas. Ia belum menyiapkan kata-kata sebenarnya. Ia masih belum tahu apa yang harus dibicarakan dengan gadisnya. Haruskah to-the-point? Atau perlu basa-basi? Apakah pembicaraan ini akan menyakiti hatinya nanti? Apakah hubungan mereka tetap berlangsung setelah ini?
“Kalo lama aku—”
Mahen memeluk gadisnya, sangat erat. “Are you okay?”
Hening. Mahen nyaris tidak mendengar apapun selain deru napasnya. Sampai telinganya menangkap suara Yura yang seperti menahan tangis, ia menempelkan pipinya di kepala sang gadis.
“Yura nggak pa-pa, Kak.”
No, you don't seems okay. “Padahal kamu bisa cerita loh, kalo ada apa-apa.”
Kepala Yura menggeleng pelan, namun tangannya melingkari pinggang Mahen. Seolah mengatakan kalau ia memang butuh pelukan ini. Lebih dari apapun.
“Yura..” panggil Mahen setengah berbisik dengan tangan menepuk pelan punggung si gadis. “Kamu tahu? Sebuah hubungan itu dimulai dari dua orang yang saling percaya. Percaya mereka saling sayang, percaya mereka nggak akan melakukan hal yang dilarang pasangan, percaya mereka bisa saling menjaga rahasia.” Ia melonggarkan pelukan, menatap mata Yura yang sudah berkaca-kaca. “Kamu percaya kan, sama Kakak?”
Tatapan mereka hanya berlangsung selama lima detik karena Yura segera menundukkan kepala. Dengan suara bergetar, ia bergumam. “Maaf Kak...”
“It's okay,” tangan Mahen mengusap air mata Yura, lalu menepuk pelan kepalanya. “Kalo udah siap, cerita ya.”
Yura mengangguk dan mempererat pelukan lagi. “Begini dulu ya, tiga menit aja.”
Mahen tersenyum. “Tiga hari juga nggak pa-pa.”
Mendengar Yura tertawa kecil membuat Mahen menyadari satu hal. Menjalani hubungan itu... tidak semudah yang dikira. Seperti menjaga sebuah permata, banyak sekali rintangannya.
Semoga saja semua bertahan lama.