you better (not) come
“Lia, lo kenal dia?”
Gadis yang baru selesai merapihkan tirai menoleh, memicingkan mata pada objek yang ditunjuk Zia. Lima detik, ia terkesiap. “Bintang?!”
“Kan, kenal. Nggak percayaan sih lo,” setelahnya, Bintang mengusir Zia keluar sebelum masuk ke kamar rawat Lia. “Cariin pacar lo, noh. Nyasar dia di lobby.”
Lia masih terdiam di ranjangnya, menatap lelaki ber-hoodie abu-abu yang masih memakai helm di kepalanya. Saat dia berbalik, gadis itu tertawa dengan kerasnya.
“Loh? Kok ketawa?” Tanya Bintang seraya mendekat dan menaruh barang bawaannya di meja terdekat.
“Lo serius, kayak gitu lewat lobby?” Lia bertanya balik.
“Iya...?” Jawab Bintang gamang. “Emang kenapa sih?”
Lia tertawa lagi, kali ini sambil menunjuk kepalanya. Butuh waktu sekitar sepuluh detik sampai Bintang memegang kepalanya dan terkekeh saat menyadari masih ada helm di sana.
“Gue baru tahu lo bisa ceroboh juga,” kata Lia saat tawanya mereda, pada Bintang yang sudah melepas helm-nya.
“Namanya juga panik,” masih malu, lelaki itu terkekeh kecil sambil menarik kursi dan duduk di sebelah ranjang Lia. “Pantesan juga tadi, gue diomelin temen lo.”
Lia menggelengkan kepala, tak habis pikir.
“Eh iya, lo kenapa bisa dirawat?” Tanya Bintang sesuai tujuan awal. “Sakit? Apa habis kecelakaan?”
“Kecelakaan lagi,” Lia terkekeh lagi. “Nggak, kata dokter cuma gejala DBD. Kenapa bisa dirawat ya gara-gara Cantika. Mentang-mentang gue lemes tadi, main ‘iya’ aja pas disuruh dokter rawat inap. Padahal bisa kan, di rumah aja?”
Bintang berdeham, mengingat sesuatu. “Nggak dong, emang harus dirawat. Saudara gue pernah begini, tiga minggu dirawat.”
Lia cemberut. “Saudara lo masih kecil kali. Gue kan—”
“Tiga minggu dirawat setelah orangtuanya nekat rawat di rumah,” sergah Bintang yang membuat Lia diam. “Kalo udah masuk gejala itu bahaya, Li. Iya kalo cepet sembuh, kalo gejalanya jadi beneran gimana?”
Lia menunduk, bibirnya masih memanyun. “Pengen pulaaanngg...”
Gantian Bintang yang menggelengkan kepala. Seingatnya, Lia pernah cerita kalau dia tidak suka berlama-lama di rumah sakit. Katanya, “Baunya nggak enak!”
“Oh iya,” Lia mendongak, menatap Bintang. “Lo jadi bawa ayam pedes?”
“Itu,” saat Lia menoleh ke tas yang ditunjuk, Bintang tersenyum jahil. “Nggak boleh makan tapi.”
“Kok nggak boleh?”
“Orang sakit itu makannya harus yang berkuah,” bersedekap, Bintang menerawang. “Harusnya tadi dijadiin sop ayam aja.”
Lia berdecak kesal. “Kenapa nggak bakso?”
“Micinnya banyak, Li. Enak sop pake sayur,” Bintang menatap Lia lagi, kali ini mengejek. “Ada wortel, buncis—”
“Nggak mauuu!” Lia menutup telinga. “Nggak suka sayur!”
Bintang tertawa gemas. Jika biasanya sambil bertepuk tangan, kali ini tangannya terulur dan mengacak rambut Lia.
Jangan tanya apa yang Lia rasakan, karena dia juga tidak tahu kenapa detak jantungnya menjadi tak normal. Salah tingkah, ia memilih menyingkirkan tangan Bintang dan tidur memunggunginya.
“Loh? Ngambek?”
“Diem! Jangan ngomong sama gue!”
Bintang masih tertawa. Tetep aja ya, gemesnya. Melihat jam, sepertinya azan magrib sudah berkumandang.
“Ya udah sono. Hush! Hush!” Usir Lia saat Bintang izin keluar. Membuat lelaki itu tertawa lagi dan mengacak rambutnya lagi.
“Pake hoodie siapa itu?”
Lia menurunkan ponselnya dan menatap Bintang yang berjalan mendekat. “Punya gue, tadi minta Zia bawa. Dingin soalnya.”
“Menggigil?” Bintang mengecek suhu badan Lia dengan memegang dahinya. Makin panas. “Naikin aja suhu AC-nya.”
“Y-ya tolong,” kata Lia terbata, salah tingkah. Matanya juga menghindari tatapan Bintang. “Di sana tuh, remote-nya.”
Jantuuunngg! Diem nggak lo?! Jerit Lia dalam hati. Bibirnya digigit agar dapat menahan senyum. Ketika Bintang kembali, dia batuk sekilas dan menormalkan ekspresi.
“Itu makanan kok masih banyak?” Tanya Bintang setelah tak sengaja melihat nampan di atas meja. “Belum di makan?”
“Nanti aja. Lagi males bangun,” Lia melihat jam dan baru tersadar. “Kok lo nggak pulang sih? Kan jam jenguk udah abis.”
“Jadi gini,” Bintang duduk di kursinya lagi. “Tadi gue ketemu Alfi. Dia bilang nitip jagain lo, mau ngerjain tugas apa gimana tadi bilangnya. Ya udah, abis itu gue bilang sama suster depan yang jaga kalo gue pihak keluarga. Dibolehin deh.”
“Eh? Segampang itu?” Alis Lia terangkat, tidak percaya. “Nyogok ya?”
“Anak hukum kok nyogok? Nggak lah,” Bintang menarik kursinya mendekat. “Cuma bilang gue Kakak lo, Susternya langsung percaya.”
Lia terkekeh. “Mana ada Kakak yang lahir tiga bulan setelah adeknya lahir?”
“Yang penting dibolehin,” Bintang menjulurkan lidah, membuat Lia semakin terbahak. “Udah ah, makan dulu. Biar nggak kemaleman makan obatnya.”
“Suapin,” ucap Lia manja sebelum hidungnya dicubit Bintang.
Rencana mereka untuk take video memang batal. Namun, janji untuk bertemu tidak batal, kan?