used tea bag


Joshua as Johan Sakura as Salsa


“Ada yang ngerasa kehilangan dompet, nggak?”

Semua yang ada di ruangan tersebut menoleh, menatap benda yang diangkat tinggi-tinggi oleh Sadam.

Ada yang langsung menggeleng, mengecek lebih dahulu di tiap kantong bajunya, dan ada yang menghampiri untuk melihat detailnya. Dompet itu berwarna putih, sedikit kekuningan yang menandakan kalau benda itu sudah lama dimiliki. Dan yang paling membuatnya mencolok adalah sebuah kertas kantong teh warna biru yang menempel di pojok kanan.

Semuanya menggeleng, tidak mengakui kalau benda itu miliknya. Kecuali satu orang yang masih berkutat dengan komputernya. Dia memang menoleh tadi, tapi hanya sekilas karena merasa tidak ada urusannya dengan pekerjaan.

Penemu dompet itu, Sadam, mengucap terima kasih dengan pelan sambil menarik bangku di kubikelnya. Mungkin dia akan mendatangi divisi lain untuk menanyakannya.

“Duh ilah!” Seseorang mengeluh. Ya, dia yang daritadi sibuk sendiri. “Apalagi yang kudu direvisi sih?!”

Di sampingnya, Sadam terkekeh. “Kerjaan dari Bu Sandra?”

“Menurut lo aja,” lelaki bernama Johan itu menghela napas, menyandarkan punggung seraya memutar kepalanya. Teringat sesuatu, dia mendekatkankan bangkunya pada Sadam. “Tadi dompet, lo nemu dimana?”

“Lobby bawah. Satpam yang nemuin malah nitip ke gue,” jawab Sadam tanpa menoleh.

“Lihat dong kayak apa.”

Sadam menoleh, mengernyitkan dahi. “Bukannya tadi udah?”

“Belom. Tadi rame, males.”

Johan menjadi orang yang terakhir mengecek dompet tersebut. Karena tak sampai sepuluh detik, senyumnya mengembang dengan sempurna. “Gue bawa ya.”

“Sembarangan!” Tegur Sadam. “Gue udah baik-baik pengen nemuin yang—”

“Gue tahu siapa yang punya,” potong Johan menjelaskan. Melihat Sadam memicing, dia menambahkan, “Beneran. Percaya sama gue.”

Sadam mengangguk sedetik kemudian karena harus melanjutkan pekerjaannya.

Kembali ke kukibel, Johan masih tersenyum. Dirabanya satu benda yang membuatnya langsung terpikir ke satu gadis yang diyakini sebagai pemiliknya. Tentu saja dia mengenalnya.

Karena kalau tidak, ia tidak mungkin mencintainya, kan?


“Langsung pulang, Kak?”

“Iya kali,” jawab Salsa lemas, mengingat dompetnya yang sampai sekarang belom ditemukan. “Kalo gak naik taksi, jalan kaki.”

Di sampingnya, Hilda menatap khawatir. “Gue pesenin ojek deh. Alamatnya masih sama, kan?”

“Nggak usah, Da. Nggak papa,” tolak Salsa halus. “Deket ini kok. Gue juga biasa pulang sendiri dari jaman sekolah.”

Selesai merapihkan mukena dan barang lainnya, Salsa berdiri menghadap jendela. Butuh waktu sekitar enam detik sampai matanya menangkap seseorang yang celingukan lalu melambaikan tangan ke arahnya. Sedikit tidak yakin, ia menunjuk dirinya dengan tatapan bertanya. Lelaki itu mengangguk dan membuat gestur ‘ayo ke sini’ dengan tangan kanannya.

“Gue duluan ya,” pamit Salsa pada Hilda yang baru saja berdiri.

“Beneran pulang jalan kaki?” Tanya Hilda.

Salsa menggeleng, lalu mendekat untuk berbisik. “Ada Mas Crush di depan.”

Hilda yang paham langsung tersenyum meledek. Ia menepuk pundak Salsa, menyemangati.

Dengan jantung berdegup kencang, Salsa keluar dari masjid. Menghampiri Johan yang masih terlihat tampan setelah seharian berkutat dengan pekerjaan. Ya, mereka masih satu kantor dengan divisi yang berbeda. Kalau ruangan Johan terletak di lantai tiga, ruangan Salsa terletak di lantai dua. Divisi mereka juga saling berhubungan, sehingga memungkinkan untuk bertemu setiap saat.

“Hai,” sapa keduanya, bersamaan.

“Lo... nyariin gue?” Tanya Salsa, memberanikan diri. “Ada apa?”

Melihat Johan merogoh tasnya membuat Salsa sedikit menahan napas. Harapannya melambung tinggi. Dia mau nembak gue?

“Ini,” ternyata, hanya sebuah dompet. “Punya lo, kan?”

Kecewa? Tentu saja. Untung saja segera hilang saat Salsa melihat lagi barang apa yang diberikan. “Iya! Ini punya gue.” Setelah memastikan semua barang di dalamnya ama, ia menghela napas lega. “Ketemu dimana?”

“Di lobby bawah. Satpam yang nemuin, dikasih ke Sadam, dia nanya ke divisi gue,” jelas Johan dengan senyum tipis. “Lagian kenapa bisa jatoh sih? Untung masih area kantor.”

“Kayaknya kurang masuk ke kantong celana tadi. Gue juga baru nyadar nih dompet hilang pas mau bayar makan siang,” Salsa terkekeh. “Makasih ya.”

Johan mengangguk disela tawa kecilnya. “Sama-sama. Lain kali hati-hati.”

Salsa mengangguk, menunduk sambil menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga. Senyumnya mengembang lagi saat melihat kertas kantong teh favoritnya masih tertempel.

“Masih suka ngumpulin kantong teh bekas?”

Salsa mendongak, mengangguk dengan tawa kecil. “Selama gue masih suka maskeran, kenapa nggak? Kertasnya juga bisa kok dijadiin tempelan kayak gini.”

Johan mengangguk tipis. “Pertahanin ya.”

“Hah?” dahi si gadis mengerut, tanda kebingungan.

“Hobi lo yang ini, pertahanin,” Johan maju satu langkah dan menekuk lutut, menyamakan tingginya dengan si gadis. “Karena dengan ini, gue bakal inget lo terus.”

Salsa mematung, terlebih saat kepalanya dielus pelan. Degup jantung yang semakin tak karuan, rasa geli di perut seolah dikerubungi ribuan kupu-kupu, napas yang tiba-tiba tertahan...

Salsa seolah kembali ke masa remajanya.

“Mau gue anter pulang?”

Dengan senyum yang tak bisa ditahan lagi, Salsa mengangguk antusias. “Boleh!”

Untuk sesaat, biarkan mereka lupa dengan tembok tebal yang menghalangi mereka.