ainiverse


Cha Junho as Juna Kim Chaewon as Chika Jo Yuri as Risa


tw// harsh words

Bruk!!

Juna mematung seketika. Barusan ia melempar bola basket ke ring yang malah melesat mengenai kepala seseorang. Apesnya lagi, orang itu Yudha.

“Siapa yang lempar?!”

Seluruh pandangan beralih pada Juna, yang tanpa disangka mengangkat tinggi tangannya. “Saya, Bang. Nggak sengaja tadi.”

Really?” Juna refleks mundur saat Yudha mendekat, kemudian maju lagi dengan dagu sedikit terangkat. Berani Jun! Lo bisa! “Masih nekat lo main di sini?”

“Selama nggak ada yang salah kenapa nggak?” Gila! Keren banget gue! “Oh! Maaf, buat yang tadi.”

Yudha berdecih. “Songong lo sekarang. Diajarin siapa?”

“Gak penting itu,” Juna menunjuk pintu keluar. “Yang penting sekarang itu lo pergi. Jangan ganggu singa yang lagi tidur.”

“Singa?” Yudha tertawa sinis. “Wajar nggak, kalo dia marah waktu tau kandangnya dipenuhi tikus yang nggak tahu tempat?”

Seruan temannya yang menyuruh Juna mengalah dihiraukan. Lelaki itu memilih mengepalkan tangan, bersiap dengan konsekuensinya. “Bukannya ‘kandang’ Bokap lo? Kan lo cuma numpang.”

“Bangsat!”

Dan untuk pertama kalinya, kakak-beradik itu bertengkar fisik. Di depan umum, di bawah langit senja yang jingganya sempurna.


“Juna??!”

Si pemilik nama hanya menyengir lebar. “Ada Kak Chika—aw!”

“Bercanda lo nggak lucu, tolol!” Ya, Risa memukul lengan Juna keras. “Gue tau lo bego, ya tapi gak usah bawa-bawa... itu.. juga!”

Juna masih menyengir seolah tak berdosa. Kemudian menyerahkan plastik kecil yang baru dibeli pada teman yang setahun lebih tua darinya. “Obatin dong, tolong.”

“Yang bonyok muka doang, kan? Tangan nggak? Gak usah manja lah! Udah gede!”

“Sekali-kali elah,” Juna meneguk ludah. “Gue kangen.”

Risa yang tahu maksud ‘kangen’ itu mendengus pelan sebelum merebut plastik di tangan Juna dengan sedikit kasar. “Di luar aja. Ada Papa.”

Juna menurut dan mengekori Risa menuju bangku panjang di halaman rumah. Dulu, lelaki itu sering duduk lama di sini. Entah hanya duduk atau sambil mengerjakan sesuatu, dan tidak pernah izin pada pemiliknya. Dia baru pergi saat keberadaannya disadari oleh satu orang, itupun atas izinnya.

“Itu kamar masih dikunci?” Tanya Juna setelah sekian detik mendongak ke balkon atas.

“Kemaren dibuka sebentar buat dibersihin, terus kunci lagi,” jawab Risa dengan tangan sibuk meneteskan obat merah ke kapas. “Yang bersihin juga Bu Ijah doang.”

“Parah,” Juna bersedekap. “Ajak gue aja harusnya.”

“Terus kamarnya banjir air mata lo doang.”

Juna tersenyum kecut dan beralih menghadap Risa agar gadis itu mudah mencapai dahinya. Lelaki itu hanya meringis tipis karena terlalu sibuk memerhatikan.

“Lo kok nggak ngomel sih?” Tanya Juna refleks, karena seharusnya pertanyaan itu bersarang di kepala saja.

“Ngomel? Maksudnya?” Risa baru sadar di detik selanjutnya. “Nggak lah, ngapain? Lo mau jungkir balik dari rooftop gedung juga gue nggak peduli.”

“Tapi ini mau ngobatin.”

“Terpaksa. Daripada lo nangis jelek depan rumah gue, apa kata tetangga nanti?” Selesai, Risa membuka satu plester dan ditempel sembarang. “Udah sembuh.”

Juna berdecak kesal. “Lo mah nggak pake perasaan.”

“Ya emang gue Kak Chika?” Risa mengatup bibir, keceplosan. Biarin lah! Sekalian. “Gue juga nggak suka sama lo.”

“Tahu kok,” Juna menyandarkan punggung, menatap bulan sabit yang berada tepat di depannya. “Kalian cuma mirip muka doang.”

Risa masih menatap wajah sendu Juna. “Lo masih belum bisa lupain dia?”

Juna mengangguk, tidak bisa berbohong. “Gue malah berharap suatu saat dia bakal balik.”

“Juna—”

“Gue berantem sama Yudha tuh bukan tanpa alasan,” sergah Juna cepat. “Itu permintaan Kak Chika—kalo gue harus berani sama Yudha. Dan masih banyak lagi yang mau atau bakal gue lakuin sesuai permintaan dia. Makanya gue berharap dia balik. Gue pengen dia ngeliat ini semua.”

Juna menarik napas panjang begitu dadanya terasa sesak. Bahunya juga bergetar, menandakan kalau sebentar lagi pertahanannya runtuh. Ternyata, jujur itu semenyakitkan ini?

“Jun,” panggil Risa dua menit kemudian. “Do you still love her?

Juna tertawa hambar. “Pertanyaan retoris. Lo tau jawabannya.”

Then, let her go,” Risa tersenyum amat tipis saat Juna menoleh padanya. “Ikhlasin, lupain, jangan berharap dia balik.”

It hurts me then.

“Lebih menyakitkan lagi buat dia, Jun. Gue yakin Kak Chika bakal gak tega ninggalin lo.”

“Itulah!” Nada Juna mulai meninggi. “Kenapa harus pergi?! Kenapa cinta malah meninggalkan, bukannya diam bertahan?!”

Sebelum Risa menyanggah, lelaki itu memilih beranjak pulang ke rumahnya. Tangannya mengepal kuat dengan wajah memerah. Bahkan hampir meninju tembok kalau tidak ingat kedua orang tuanya ada di rumah.

You're gone and I'm left alone


“Sebuah kecelakaan berantai terjadi pada Rabu malam di km 10 tol Jagorawi. Berawal dari sebuah truk yang diduga memiliki rem blong yang kemudian memutar menghalangi jalan sehingga tiga mobil di belakangnya berhenti mendadak dan saling bertabrakan.

“Tiga orang dilaporkan tewas di tempat, dan yang lainnya hanya luka-luka. Mereka dibawa ke rumah sakit terdekat untuk diautopsi lebih lanjut.”

“Kak Chika...”

Semua yang ada di sana menggeleng, membuat dunia Juna berhenti seketika.

Kekasihnya pergi, untuk selamanya.


Allen Ma as Adrian Lee Chaeryeong as Clara


She did it again.

“Kak Ian, maaf banget,” ucap Clara dengan napas tersengal-sengal. “Aku tuh inget mau ketemu Kakak. Cuma tadi—bentar mau napas.”

Adrian—akrabnya disebut Ian—mendengus pelan seraya mendorong gelasnya ke hadapan Clara. “Minum dulu, duduk. Nggak ada yang minta kamu jelasin kenapa telat.”

Menurut, Clara duduk di samping Adrian dan meminum segelas vanilla latte yang ternyata masih penuh. Barusan dia berlari dari gedung perpustakaan sampai ke kafe yang letaknya tak jauh dari kampusnya ini. Tapi tetap saja melelahkan.

“Udah?” Tanya Adrian lima menit kemudian. Selama menunggu Clara tadi, dia memainkan ponselnya. “Tadi dimana emangnya?”

Clara menunduk, tak berani menatap kekasihnya yang sedang marah—terlihat dari nada suaranya yang datar. “Baca novel... di perpus.”

Adrian menghela napasnya sebelum menghadap penuh ke Clara. “That's why your grades drop.

Clara mengangguk saja, seolah siap dengan semprotan selanjutnya.

“Kamu udah gede, Ra. Kepala dua. Sampai kapan kamu mau begini terus?” Karena masih ingat kalau mereka di tempat umum, Adrian berusaha untuk tidak menaikkan nada suaranya. “Cindy seusia kamu udah mandiri loh, ngekos malah. Dia juga selalu tepatin janjinya sesibuk apapun dan berusaha dateng duluan biar orang yang janji sama dia nggak kecewa. Kapan kamu bisa gitu?”

“Aku—” sahut Clara cepat dengan kepala mendongak, namun terdiam saat matanya berserobok dengan milik Adrian. Some words are missing, again. “Maaf... Kak.”

Adrian bergeming, menghela napas pun rasanya lelah. Diambilnya ponsel Clara yang tergeletak di atas meja dan mengotak-atiknya seolah milik sendiri. Si pemilik tak melarang dan menerima saja saat dikembalikan.

“Kakak udah pasang di alarm, jadwal yang sekiranya kamu lakuin hari ini,” jelas Adrian lebih tenang. “Terapin itu setiap hari ya, biar yang kayak gini gak keulang lagi. Bisa kan, bikin schedule harian?”

Clara mengangguk setelah mengecek alarm yang disetel. “Bisa kok, Kak.”

Good,” Adrian mengusap kepala gadisnya lembut. “Maafin Kakak juga ya.”

Akhirnya, Clara bisa menggeleng. “No, aku yang salah di sini.”

“Oke oke,” tak mau menghabiskan waktu, Adrian mengalah. “Jadi bahas soal sekarang?”

Barulah gadis bersurai merah gelap itu menunjukkan senyum manisnya. Sesuai yang dijanjikan, lelaki yang sudah diwisuda bulan kemarin itu membantunya mengoreksi jawaban ujiannya kemarin. That's the one of their type of date.

Kalau ditanya soal hubungan, sebenarnya baru berjalan 45 hari. Itupun setelah Clara menunggu cukup lama karena Adrian yang tak kunjung memutuskan. Yeah, she has confessed first. Bahkan sampai menyatakan sesuatu tanpa pikir panjang saking tak sabarnya.

“Biasanya, kakak-adek itu sifatnya nggak jauh beda. So... I think I can be your ‘Cindy’ ... if you want.

Dan entah timing-nya memang pas atau disengaja, Adrian—masih dengan toganya—menghampiri Clara yang kebingungan dengan tangan memegang buket bunga matahari—kesukaannya. He said,Now, I can be yours.

Clara senang bukan main saat itu. Senyumnya terus mengembang lebar setiap Adrian berada di dekatnya. Bahkan saat lelaki itu mulai mengaitkannya dengan Cindy, ia harus tetap tersenyum bukan?

Dan benar, Cindy itu kakaknya. Yang pernah menjadi pacar Adrian. Yang meninggal karena kecelakaan.


“Aku udah ngasih tau Kakak belum, sih?”

Adrian menoleh sekilas dengan tangan memutar setir ke kanan. “Yang mana tuh?”

Clara mengulum bibir. “Aku... udah punya SIM A.”

Entah terkejut karena ucapan gadisnya atau tiba-tiba lampu merah, Adrian menginjak rem secara mendadak dan membuat mereka terhuyung ke depan. Setelah merasa stabil, lelaki itu menatap Clara dengan tatapan yang sama dengan siang tadi.

“Siapa yang nyuruh kamu bikin? Emang kamu punya mobil?”

“Mobilnya pu-punya Mami,” lagi, jantung Clara berdebar takut. “Gak ada yang ngendarain lagi, dijual sayang. Ma-makanya minggu lalu aku bikin.”

“Minggu lalu?!” Suara Adrian mulai meninggi. “Jangan bilang yang waktu itu kamu bilang nginep di rumah temen?” Melihat Clara yang menundukkan kepala, membuatnya tak sadar menggeretakkan gigi. “Okay. Kamu udah berani bohong sekarang. Bagus.”

“Seenggaknya sekarang aku bisa nyetir dengan baik!” Clara memberanikan diri. “Gak kayak Kak Cindy yang main coba-coba aja dan berakhir—”

“Kamu mau bilang Cindy ceroboh?” Sergah Adrian cepat. “Kamu nggak inget kalo kamu itu sama cerobohnya? Need a mirror?

Clara diam, menatap Adrian tak percaya. Seperti ada yang mencubit hatinya saat lelaki itu menekankan kata ‘sama’, dan itu sangat sakit.

Such a jerk.


Mereka benar-benar bertengkar, untuk pertama kalinya.

Tak ada lagi sapaan hangat Clara lewat telepon, atau senyum hangat Adrian saat menjemputnya pulang. Mereka benar-benar seperti orang asing yang tak pernah terikat hubungan apa-apa. Kalaupun tidak sengaja berpapasan, keduanya pasti mengalihkan pandangan dengan tangan terkepal kuat.

Dan kalau boleh jujur, Clara lebih nyaman dan senang saat itu. Napasnya terasa sangat lega seperti saat mengunjungi pedesaan. Tidak ada yang membuatnya cemas atau takut setelah mengucapkan sesuatu. Benar-benar seperti keluar dari penjara yang pengap dan sesak.

“Itu artinya, lo harus putusin dia.”

Itu pendapat Aruna, yang membuat Clara terdiam seketika.

“Hubungan lo sama dia emang udah gak jelas banget, Ra. Dari awal malah. Masa apa-apa harus disamain sama orang yang udah, maaf, ‘pergi jauh’ itu? Ya walaupun dia Kakak lo dan beberapa sifat kalian emang sama, bukan berarti lo bisa jadi ‘orang itu’ juga. Bahkan orang yang kembar pun pasti ada bedanya.

“Dan kenapa lo ngerasa ‘bebas’ sekarang? Karena lo jadi diri lo sendiri. Seorang Liliana Clara Pramudya, bukan Laura Cindy Pramudya yang udah pergi dua tahun silam.”

“Tapi, Na...” Clara menggigit bibir. “I love him so bad. Gue nggak mau biarin dia larut dalam kesedihannya lagi.”

“Dan biarin diri lo tersiksa cuma karena menuhin ekspektasinya?”

Clara diam lagi. Saat kepalanya menunduk, setetes air mata jatuh ke bantal sofa yang dipangkunya. Ia menangis frustasi.

Kenapa semuanya jadi rumit?

Tell me now, was that the sound of us?


“Dek, dicariin Mirza!”

Ayu mengernyitkan dahi. Ngapain lagi malem-malem? Segera ia rapikan ikatan rambut sebelum keluar kamar dan menghampiri pacarnya yang sudah duduk di sofa ruang tamu.

“Untung Ayah belom pulang,” katanya yang membuat Mirza menoleh. “Kalo nggak diceramahin semaleman.”

Mirza tersenyum. “Kamu lagi apa tadi?”

“Belajar, besok ulangan harian soalnya,” Ayu memanyunkan bibir. “Kakak sendiri? Ngapain tiba-tiba ke sini?”

“Mau ngasih ini.”

Ayu menganga lebar saat Mirza mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya. “Ini bebek yang tadi?!”

Happy valentine day, Sayang.”

Pipi Ayu memerah seperti tomat. Dan seperti anak lima tahun, ia melompat kegirangan dan memeluk Mirza dari belakang sofa. “Makasih banyak!!!”

“Itu aku sendiri loh, yang ngambil,” tambah Mirza dengan senyum jumawa.

“Iya?!” Alis Ayu terangkat. “Bukannya Tama?”

“Ng-nggak lah!” Mirza terbata, tipe orang yang tidak bisa berbohong.

“Kupingnya merah! Bohong nih!”

Yaa begitulah, cara anak muda merayakan hari yang memang identik dengan bunga, cokelat, atau boneka.


“Ada capit boneka!”

Mirza yang baru selesai membayar menoleh ke arah yang ditunjuk Ayu. Matanya berbinar cerah. “Bisa dimainin?”

“Tadi sih aku liat ada yang mainin,” kedua sejoli itu menghampiri kotak yang tingginya hampir setara Ayu. Letaknya pas sekali di samping pintu masuk minimarket. Kalau dilihat dari jumlah boneka di dalam, pasti sudah banyak yang memainkannya.

“Coba main, katanya mau nambah boneka baru,” suruh Mirza sebelum menunjuk salah satu boneka bebek kecil. “Tuh, tinggal senggol jatoh.”

Ayu mengangguk setelah memasukkan koin. Sebenarnya dia jarang memainkan benda ini. Mungkin terakhir bermain saat umurnya sepuluh. Tidak heran kalau tiga kali kesempatan tidak ada yang bisa dijatuhkan.

“Susaaahh...” keluh Ayu saat menyadari kesempatannya habis.

Mirza yang sedari tadi mengamati tersenyum gemas. Berapa kali dia meringis tiap Ayu gagal menangkap boneka? “Noob sih.”

Berakhir lengan Mirza dipukul keras. Dengan senyum kecutnya, Ayu mengajak pulang. “Besok coba lagi deh.”

“Sekarang aja.”

“Bunda nungguin gula, Kak,” Mirza menepuk jidat. Baru ingat. “Ayo pulang.”

Sebelum benar-benar pulang, Mirza menatap mesin itu sekali lagi. Mungkin dia akan melakukan rencana B.


Zia tidak bohong saat mengatakan dia ingin menangis. Apalagi setelah melihat banyak pendatang yang dijemput, gadis itu seperti diingatkan dengan kejadian sepuluh tahun yang lalu. Dimana dia yang masih belia duduk di pinggir jalan selama hampir lima jam dan jawabannya saat ditanya,

“Aku nunggu Mama aku jemput.”

Saat itu, Zia tidak tau siapa yang bertanya. Dia terima-terima saja saat orang itu mengajaknya pulang dan baru menyadari hal aneh setelah mobil itu berjalan bukan ke arah rumahnya.

Zia menggeleng kuat. Please... gue gak mau inget itu lagi.

Setelah merasa lebih baik, Zia menarik napas panjang. Ia harus berpikir cepat agar dapat pulang dengan selamat.

Yang pertama kali terpikirkan olehnya adalah bertanya ke orang sekitar. Beruntung saat ini bandara sangat ramai, sehingga gadis itu bisa bertanya ke semua orang yang dilihatnya.

Namun sayang, dia melupakan satu hal yang cukup penting. Hampir semua yang di tempat ini adalah pendatang. Kalaupun orang itu sering ke kota ini, dia pasti tidak tahu alamat yang Zia tanya karena letaknya yang cukup pedalaman. Turis mana yang mau pergi ke tempat seperti itu kalau tidak diperlukan?

Sepasang mata kucing itu kembali berkaca setelah orang keenam yang ditanya memilih pergi karena tidak paham bahasa Indonesia. Jujur, Zia ingin menyerah. Zia ingin segera pulang dan istirahat. Tapi gadis itu juga sadar kalau dia tak dapat pulang kalau diam saja.

“Permisi...”

Zia terlonjak kaget sebelum menoleh ke belakang. “I-iya? Kenapa ya?”

Lelaki jangkung itu menyerahkan barang yang dipegang. “Ini... tadi jatuh dari tas kamu.”

Barang itu adalah penjepit rambut. Lebih dulu Zia mengecek tasnya untuk memastikan barang itu miliknya. “Iya! Itu punya saya!” Serunya sembari menerima barang tersebut. Dan untuk pertama kali, dia mendongak dan melihat wajah si lelaki. “Makasih ya!”

Lelaki itu Alfi, yang mengangguk tipis dan tersenyum manis. “Sama-sama. Untung saya lihat sebelum dipidek orang.”

Zia mengerutkan dahi. “Dipidek?”

“Ini loh,” Alfi memeragakan sampai Zia mengangguk. ‘Diinjak’ rupanya.

“Oh iya!” Zia teringat. “Kamu... tahu tempat ini nggak?”

Melihat Alfi yang serius mengamati layar ponselnya membuat Zia menggigit bibir tak sabaran. Orang-orang sebelumnya tidak sampai seperti ini. Hanya melihat sekilas, bilang “Tidak tahu”, lalu pergi. Tidak salah kan kalau Zia sedikit berharap?

“Saya ndak pernah ke sini sih,” jawab Alfi menggantung. “Tapi saya sering lewat jalan rayanya.”

Senyum Zia mulai mengembang. “Kamu tahu?!”

Alfi mengangguk. “Rumahmu di sana?”

“Iya!” Jawab Zia cepat saking senangnya. “Lebih tepatnya rumah Nenek sih. Baru pindah minggu lalu juga, makanya saya takut sendirian ke sana.”

“Oalah...” ingatkan Zia untuk menanyakan namanya sebelum dia memanggil lelaki ini dengan sebutan ‘Boneka Dashboard’. “Mau saya anter? Kebetulan searah ke rumah.”

Oke tenang, jangan langsung jingkrak-jingkrak. “Boleh? Nggak ngerepotin?” Zia melirik sekitarnya. “Takutnya kamu jemput orang lain terus mobilnya penuh.”

Alfi tertawa kecil. “Nggak ada kok. Saya aja yang lupa kalau pesawat temen saya delay.”

Zia mengangguk, sedikit terpana dengan senyum Alfi yang tipis, namun manis. Bahasanya yang cenderung sopan dan masih terdengar medok juga membuat kesan tersendiri. Kapan lagi dia bertemu orang yang seperti ini?

“Oh iya,” kata Alfi sambil berjalan menuju mobil, tak lupa membantu Zia membawa barangnya. “Kita belum kenalan ya? Baru ingat saya.”

Kali ini Zia yang tertawa kecil. “Nama panjang saya ribet, jadi panggil Zia aja. Kamu sendiri?”

“Raden—eh, maksudnya… Alfi aja,” jawab Alfi sedikit terbata. “Nama saya juga panjang banget.”

“Nggak pa-pa, namanya bagus kok.”


Park Jisung as Zidan Kim Chaehyun as Caca


“Halo?”

“Zidan! Kamu di mana sih?”

“Di gerbang kedatangan, Ca.”

“Di mana?!” Caca nyaris berteriak karena kesal. “Gue udah muter lima kali sampe lemes, loh! Beneran nyampe gak sih??!!”

Bukannya menjawab, Zidan malah tertawa. “Marah ya marah aja, Ca. Gak usah hentak kaki segala. Ntar roboh loh bandaranya.”

“Kebias—” terdiam, Caca baru sadar ada yang aneh. Dia kan menghubungi Zidan lewat voice call. Tau dari mana kalo tadi gue mencak-mencak?

“Makanya,” suara seseorang mendekatinya dari arah belakang. “Nyari apa-apa tuh pake mata, Ca. Bukan mulut.”

Berbalik badan, Caca mendapati seorang lelaki yang dicarinya sejak tadi sedang tersenyum seolah tak bersalah.

“Dasar lo ya!!” Caca memukul bahu Zidan. “Belajar ke Aussie bukannya makin pinter malah makin ngeselin! Anak siapa sih lo?!”

I miss you too, Mbul,” sahut Zidan gak nyambung sambil mengacak poni sahabat kecilnya. “Udah ah. Marah-marah mulu emang nggak capek?”

“Habisnya, lo ngeselin,” Caca cemberut. “Ngasih tau pulang, dadakan. Nyuruh gue jemput siang bolong. Ganggu banget tau!”

Zidan mengangkat alis, tidak percaya. “Masa? Bukannya lo yang girang waktu gue ngasih tau?”

“Bukan gue itu.”

“Siapa?”

“Khodam Bapak.”

Zidan tertawa dan mengacak rambut Caca lagi. Tidak, Caca tidak marah. Justru senang karena Zidan yang melakukannya.


“Masih ada aja nih, rumah pohon.”

Di sampingnya, Caca tersenyum jumawa. “Gue nih, yang tiap hari rapi-rapi.”

Sudut bibir Zidan terangkat. “Ngibul.”

“Beneran!”

Zidan tak membalas, memilih naik ke atas untuk melihat lebih dalam. Ia tak menyangka kalau tempat bermainnya saat kecil masih kuat menopang tubuhnya yang kini sangat besar. Semua mainan, pajangan, dan coretan-coretan di dinding sama sekali tidak berubah.

“Yaa… nggak setiap hari sih,” kata Caca setelah berhasil naik dan duduk di samping Zidan. “Paling dua minggu sekali. Kalo gue sibuk banget, bisa tiga bulan gue biarin kotor.”

Zidan mengangguk tipis. “Kenapa nggak nyuruh orang?”

“Gue nggak mau. Takutnya, kalo nyuruh orang yang gak tau apa-apa, malah dibuang barang-barangnya, dihapus coret-coretannya.”

“Iya juga sih,” Zidan menoleh, mengambil salah satu foto polaroid yang menempel di dinding. Ia ingat, foto itu diambil saat mereka baru masuk SD.

“Oh iya!” Caca teringat sesuatu. “Gue udah ngasih tau belom sih?”

“Apaan?”

Caca mengajak Zidan turun ke bawah. Memperlihatkan satu lagi kenangan mereka yang tidak terselesaikan dengan sempurna.

“Inget nggak?” Tanya Caca. “Gue pengen lanjutin sebenarnya, tapi takut tangan gue luka lagi.”

Zidan mengangguk, lalu mengusap pahatan yang tidak rata itu. Ia juga masih ingat dengan idenya untuk membuat inisial nama mereka di pohon tersebut. Mereka yang masih belum bisa memakai pisau pahat dengan benar mencoba memahat sendiri dan berakhir terluka di tangan. Itu sebabnya pahatan itu tidak dilanjutkan.

“Ca,” mungkin sekarang bisa, “Pisau pahat masih lo simpen, nggak?”

“Ada di gudang, kenapa?” Melihat Zidan yang tak mengalihkan pandangan, Caca langsung paham. “Bentar, gue ambil.”

Iya, Zidan ingin mencoba melanjutkan pahatannya. Membentuk sempurna huruf C dan Z sesuai keinginan mereka dulu.

“Gue ikut bantu, ya,” pinta Caca sekembalinya dari gudang.

Zidan menerima barang yang diminta sambil menggeleng. “Jangan. Nanti tangan lo luka lagi.”

“Hati-hati, kok,” seperti biasa, Caca memasang puppy eyes. “Boleh ya? Biar cepet selesai juga.”

Zidan melengos melihatnya. “Mending lo bantuin ambil minum, cemilan atau apa kek. Terus duduk manis, nggak ganggu gue.”

“Nggak mau!” Caca menghentakkan kaki. Persis anak umur lima tahun. “Ayolah, Dan… gue bakal hati-hati kok.”

Gue lupa kalo dia keras kepala, batin Zidan baru sadar. Melihat langit yang semakin petang, dia terpaksa mengangguk. “Ya udah, boleh.” Saat Caca menjerit senang, ia melanjutkan, “Pakai sarung tangan dulu, sana. Sama jangan main pahat sembarangan. Nurut instruksi gue.”

Caca membentuk gestur hormat. “Siap, Pak!”

Dan sepanjang sore itu, mereka bekerja sambil sesekali bercanda. Melakukan hal yang sudah lama diinginkan untuk membentuk memori yang sempurna dan layak dikenang hingga nanti.

“Zidan,” panggil Caca di sela-sela memahat. “Kira-kira, rumah pohon ini masih bisa dipake sama anak kita gak?”

Tentu saja Zidan terkejut, malah sampai tersedak ludah sendiri. “Hah?”

“Iya, anak kita,” jawab Caca santai dengan senyum manisnya. “Nanti gue ceritain, tentang Papanya yang jahil banget, Mamanya yang cerewet dan cengeng, dan kenapa kita bisa saling sayang.”

Zidan tidak menyahut. Dibalik perasaan bingungnya, ia justru terpaku dengan kata-kata di akhir kalimat. Does she… have a crush on him?

Mengerjapkan mata, Zidan pun menggeleng. Kagak kagak! Caca kan cerewet, suka ngelantur lagi, batinnya meyakinkan dan memilih untuk melanjutkan pahatannya. Hari semakin sore dan dia harus segera menyelesaikannya.


“Lanjut besok aja, Ca.”

“Tanggung, Zidan,” Caca dan keras kepalanya. “Dikit lagi punya gue selesai.”

“Udah udah, lanjut besok,” mau tak mau, Zidan mengambil paksa alat pahatan dari tangan Caca dan menyimpannya ke dalam tas khusus. “Udah malem juga, lo gak takut kerasuka—”

“Shut!” Caca mengacungkan telunjuk di depan bibir Zidan. “Iya iya, lanjut besok.”

Zidan mengangguk. Caca masih takut hantu rupanya.

“Tapi lo jangan langsung pulang, ya,” pinta Caca lagi sambil berjalan masuk ke rumah. “Gue mau masak soalnya. Dan lo harus jadi orang pertama yang cobain masakan gue.”

Zidan berdeham. “Bisa dipercaya gak nih, masakannya?”

“Bisalah!”

Beneran seharian penuh, Zidan menggeleng pelan. Teringat janjinya yang diucapkan sebelum berangkat dari Aussie, kalau dia akan menemani Caca seharian penuh.


Koo Jungmo as Alfi Hwang Yeji as Zia


So? How's Jogja?

Zia menoleh dengan senyum tipis. “Wonderful!

Kedua alis Alfi terangkat naik. “Lebih dari Bali? Jakarta?”

“Di antara itu lah.”

Keduanya tertawa kecil, lalu mengamati kembali sang Surya yang mulai tenggelam perlahan.

Sedikit cerita, Zia adalah seorang gadis yang ‘kabur’ ke Jogja tanpa pemikiran matang dan sering tersesat di tiap sudut kota. Untung saja dia bertemu Alfi di hari kedua, lelaki yang rupanya menginap di hotel yang sama dengannya dan hanya berjarak dua pintu darinya.

Bertemu setiap sarapan atau makan malam, mereka mulai terbuka satu sama lain. Termasuk fakta kalau Alfi adalah orang asli Jogja yang membuatnya menjadi tour guide pribadi Zia di hari-hari selanjutnya. Dibayar? Iya, bensin mobilnya.

“Oh iya,” Alfi menoleh lagi, teringat sesuatu. “Kamu jadi pulang lusa, Zi?”

Zia menghela napas, tiba-tiba merasa sedih. “Iya. Aku udah dapat tiketnya juga.” Meraih tasnya, dia mengambil beberapa foto yang sudah dicetak dan menyerahkannya pada Alfi. “Siapa tau mau nyimpen.”

Alfi pun menerimanya dengan tawa kecil. “Kenapa malah kamu yang ngasih oleh-oleh?”

“Pengen aja. Emangnya nggak boleh?” Ketika tatapan mereka bertemu, Zia mengulum senyum. “Makasih juga ya, buat dua minggunya.”

Alfi, dengan senyum manisnya mengangguk pelan dan tangan terulur untuk merapikan anak rambut Zia yang tertiup angin pantai. “My pleasure.

Di saat seperti ini, Zia menahan napas. Batinnya terus berteriak—menyuruhnya menanyakan sebuah kejelasan tentang hubungan mereka. Karena tidak mungkin seorang ‘teman-berpetualang’ melakukan sesuatu seperti ini.

“Pulang yuk!” Zia mengerjapkan mata. “Atau kamu mau beli apa gitu?”

Ya, gue harus ngomongin itu sekarang.

“Zia?”

“Alfi,” bersamaan, Zia memilih untuk melanjutkan. “Do you… treat other girls like this? Atau cuma ke aku doang?” Ia menggigit bibir saat melihat tatapan bingung lawan bicaranya. “A-aku cuma—hmm, you know? Hm… memastikan aja. Iya. So-soalnya aku setiap ka-kamu begitu—”

Ucapannya terpotong karena Alfi terkekeh geli. Saat Zia bertanya ‘kenapa?’, jawabannya, “Nggak. Lucu aja ngeliat kamu gugup begitu. Gemes—aw!”

Ya, Zia memukul paha Alfi dengan keras. Dengan pipi memerah marah, ia nyaris berteriak. “Aku lagi serius, Fi! Aku butuh kejelasan! Waktu aku di sini tinggal 36 jam lagi dan aku gak mau overthinking sampai Jakarta!!”

Alfi mengalihkan pandangan dengan mengusap pahanya. Menahan tawa, juga memikirkan ekspresi yang tepat untuk menjawab pertanyaan Zia.

“‘Cewek butuh kepastian’ berarti bener ya?” Alfi menoleh, menatap Zia lekat. “Kejelasan apa aja tadi, yang mau kamu dengar?”

“Ya tadi…” suara Zia mencicit. “Masa lupa?”

Alfi mengangguk pelan. “Oke baru inget. Aku jawab serius ya,” tanpa diaba-aba, keduanya menggeser posisi duduk menjadi saling berhadapan. “Ada sih, another girl who I treat like you. Bisa dibilang, kamu yang kedua.”

Zia yang tak bisa menyembunyikan wajah kecewanya bertanya lemas. “Siapa?”

“Ibuku,” Alfi hampir tertawa lagi. “Serius, Zi! Demi apapun!”

“Tau ah! Nyesel aku nanya serius!” Zia beranjak pergi. Wajahnya semakin memerah menunjukkan semua perasaan menumpuk di benaknya. Dari marah, kesal, sampai malu sekaligus.

“Zia!”

“Apa lag—”

Alfi menarik tangannya kencang sampai ia masuk ke pelukannya. Kaget? Tentu saja. Zia sampai menahan napas untuk yang kesekian kalinya.

“Kamu dengar sesuatu?” Entah perasaan Zia saja atau memang seperti itu, suara Alfi terdengar lebih berat dari biasanya. “The heartbeat, selalu begitu kalau aku dekat kamu.”

Perbedaan tinggi mereka yang cukup jauh (tinggi Alfi yang 180 cm lebih ditambah sepatu yang solnya cukup tebal, curang) membuat telinga Zia berhadapan langsung dengan dada kiri Alfi. Dan ya, detak jantung itu seirama dengan miliknya.

So, the clarity is…” dagu Zia diangkat lembut, membuat matanya menatap mata Alfi yang dalam itu. “I'm in love with you.

Jantung Zia nyaris meledak saking kagetnya. Mulutnya pun hampir terbuka lebar. “Hah?”

Alfi tersenyum, melonggarkan pelukan kemudian menggenggam dua tangan Zia erat. “Gimana? Sudah jelas?”

“Bentar!” Seru Zia hampir menjerit. “Ja-jadi kamu te-ternyata, selama ini, da-dari kemarin—”

“Iya, Zivanna,” Alfi memotong lagi, kemudian mengulum bibir malu. “Dari kemarin aku bingung mau bilangnya gimana. Jadi… maaf banget kalo tadi agak cringe.

Zia masih mengerjapkan matanya berulang-ulang. Masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Lelaki itu, yang memiliki nama depan Raden, menyatakan perasaannya. Dimana itu berarti perasaan Zia terbalaskan.

Senang? Harusnya seperti itu.

“Zi? Jangan bengong!” Alfi menyadarkannya. “Maghrib banyak setannya, ntar kamu kesurupan.”

“Oh? Haha,” kekeh Zia garing. “Maaf maaf. Aku masih kaget.”

Alfi mengelus lengan Zia dan mengajaknya berjalan pulang. “Pulang aja ya? Udah malam juga.” Dan gumaman yang masih cukup jelas, “Nggak usah dijawab juga.”

Gue mau jawaaaabb!! Tungguin jantung gue normal dulu!!! Jerit Zia dalam hati sambil melirik Alfi.

Sesampainya di kamar hotel, Zia baru bisa menjerit sepuasnya. Tertawa sendiri, melompat-lompat di atas kasur. Persis seperti anak umur lima tahun. Kemudian, ia teringat sesuatu saat melihat pintu ke arah balkon.

“JOGJAKARTA!! MATUR NUWUN!!!¹” Teriaknya tanpa peduli mengganggu sekitar. “GUE BENER-BENER BAHAGIA DI SINI!! GUE GAK MAU PULANG!!!”

Sesuai namanya, Jogjakarta memang kota yang istimewa.

¹Matur nuwun: terima kasih


Ham Wonjin as Adit Shin Ryujin as Aruna


tw/cw: harsh words, mention of mental health

“Maaf, maaf. Permisi.”

Itu Adit, yang berlari menuruni tangga begitu kelasnya selesai. Bisa saja dia menggunakan lift agar lebih cepat. Tapi yang namanya orang panik, tidak mau banyak berpikir, kan? Yang penting dia sampai tujuan dan menemui sumber kepanikannya.

Tak sampai lima menit, Adit sampai di taman belakang kampus yang berhadapan dengan danau buatan yang cukup luas. Sempat berdiri diam untuk mengatur napas, ia langsung menemukan si sumber kepanikannya—sedang berjongkok di bawah pohon dengan bahu bergetar khas orang menangis.

“Nggak ada kodok di situ,” celetuk Adit menyapa sumber kepanikannya. “Adanya tai kucing. Beneran.”

Si sumber kepanikan—sebut saja Aruna—mendongakkan kepalanya. Kemudian berdiri dan memeluk Adit tanpa aba-aba.

“Lo kenapa?” Tanya Adit setelah mendengar isakan sahabatnya. “Gue langsung lari loh begitu kelas selesai. Siapa yang nangisin lo?”

Aruna tak menjawab, masih sibuk menangis dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya. Langsung paham, Adit memilih diam. Tak lupa membalas pelukannya sambil menepuk punggung si gadis dengan perlahan.

“Puas-puasin dulu dah. Asal tuh umbel nggak nempel di jaket aja.”

Adit tertawa kecil saat punggungnya dipukul. Celetukannya tadi bukan tanpa alasan. Melainkan sebagai pengalihan karena jantungnya mendadak berdegup kencang. Seperti… orang yang jatuh cinta?

Nggak! Jatuh cinta gigi lu ompong, batinnya mengumpati diri.

Sekitar tujuh menit, Aruna baru berhenti menangis. Adit yang siap melepas pelukan justru ditahan, berhasil membuatnya mengumpat dalam hati.

“Jangan lepas dulu, muka gue jelek,” jelas Aruna dengan suara sumbang.

“Siapa suruh nangis?” Punggung Adit dipukul lagi. “Ya udah iya. Kendorin dikit tapi.”

Yang Aruna lakukan justru melepas pelukan sambil mengusap wajahnya. Adit mengeluh, “Bocah labil emang.”

“Duduk aja deh, Dit. Capek gue berdiri,” Aruna kembali duduk beralas rumput dan Adit mengikuti. Ya, mereka menjauh sedikit dari pohon agar tidak digigit semut rangrang.

“Cerita gih,” pinta Adit. “Siapa yang bikin temen gue nangis jelek kayak gini? Mau gue suruh nangis lagi soalnya.”

Aruna cemberut sambil berdecak kesal. “Udah apa, Dit. Gue udah nggak ada tenaga buat mukul lo.”

Adit terkekeh. “Kasihan.”

Aruna mengangguk pelan. “Ya… gue emang semenyedihkan itu. Suka sama cowok yang ternyata suka sama…” sengaja tak dilanjutkannya. Menoleh ke samping, Adit memasang wajah bingung.

“Lo tahu Sonya, anak hukum yang mukanya bule itu?” Adit mengangguk. “Dan lo inget kejadian waktu kita kelas sebelas, yang bikin gue masuk rumah sakit?”

Berpikir tentang hubungannya membuat Adit membulatkan mata. “Jangan bilang dia…”

Aruna mengangguk. “Yes. She's the person you hate the most.

“Anjing,” Adit memutar bola mata. Kemudian, tatapannya berubah menjadi sangat serius. “Lo diapain lagi sama dia?”

“Dia… cuma ngasih tiket nonton ke Kak Putra dan diterima dengan senang hati. Padahal,” suara Aruna mengecil karena menundukkan kepala. “Yang gue tawarin sebelumnya ditolak pake alasan ‘pergi sama temen tongkrongannya’.”

Wajah Adit mengeras, sangat terlihat kalau dia marah namun berusaha menahannya. Tangannya yang mengepal memukul tanah sekali dan berhenti saat Aruna memanggil namanya.

“Percuma lo ngamuk di sini, marah di sini. Nggak ad—”

“Lo marah nggak?” Potong Adit cepat. “Kalo lo nggak bisa marah, gue aja yang marah. Gue yang nyamperin dia, gue yang nonjok dia—”

“Aditya!”

“—gue yang bakal nyuruh orang-orang buat benci dia, sama kayak yang dia lakukan ke lo empat tahun yang lalu. Gue yang bakal lakuin itu, Na!”

Aruna terdiam, jantungnya berdetak lebih keras dari biasanya. Sahabatnya dari usia belasan, yang dikenal selalu bercanda sekalipun marah, sekarang benar-benar terlihat marah. Dan Aruna takut akan itu.

So please, jangan selalu bilang ‘nggak pa-pa’, Na,” nada suara Adit mulai menurun, mungkin karena melihat mata Aruna bergetar. “Kalo lo begini terus, lo bakal selalu tertinggal dari dia. Semua yang lo inginkan nanti bisa-bisa direbut sama dia.”

Air mata Aruna jatuh lagi, kepalanya menggeleng. “Gue tahu diri, Dit. Gue nggak bakal bisa seberani itu.” Menunduk, tangannya meraih tangan Adit. “Dan gue harap, semua yang lo bilang tadi cuma bercanda, ya?”

Adit tertawa. “Soal gue mau ‘balas dendam’? Buat apa gue bercanda soal itu, Na?”

“Dia cewek, Dit!” Giliran Aruna yang meninggikan suara. “Gue juga nggak mau lo kena masalah! Gue nggak mau lo dihajar balik sama Kak Putra!”

“Tapi lo ngebiarin dia melakukan itu semua ke lo,” Adit menggeleng tak percaya. “Nggak sayang mental ya lo? Pengen jadi gila?”

Tangan Aruna mengepal, isakannya juga bertambah keras. Dan saat kepalan itu digunakan untuk memukul dadanya sendiri, ekspresi Adit melunak. Lelaki itu merasa bersalah dengan ucapannya barusan. Sehingga yang bisa dia lakukan adalah memeluk sahabatnya lagi sembari menggumam kata ‘maaf’.

“Sakit, Dit!” Jerit Aruna tertahan. “Dada gue sesek setiap ngelihat Kak Putra nolak gue! Tambah sakit lagi waktu Sonya muncul dan buat Kak Putra senyum. Sakit, Adit! Dada gue sakit!!”

Dada gue juga sakit karena ngelihat lo begini, Na, sahut Adit dalam hati. Dagunya ditumpukan di atas kepala Aruna dan tangannya menepuk pelan bahu yang bergetar hebat itu.

It’s okay, Na. Keluarin aja semua. Lo punya gue di sini.”


Langit berubah gelap saat Honda Vario hitam itu terparkir di depan sebuah gedung kos-kosan. Aruna turun lebih dulu, menunggu Adit merapihkan posisi motornya dan mengeluarkan sesuatu dari bagasi. Setelahnya, mereka duduk di kursi rotan yang ada di teras dan memandang rintik hujan yang mulai turun dengan deras.

“Nggak mau masuk?” Tanya Adit saat melihat Aruna ikut memandang ke depan. “Cuci muka gitu, biar gak jelek-jelek amat.”

Aruna menatapnya malas dan hanya memukul lengannya kencang. Namun dalam hati, gadis itu mengucap syukur. Adit kembali menjadi sahabat yang ia kenal.

“Tadi tuh niat gue baik, pengen nemenin lo di sini sampe hujannya reda,” kata Aruna sambil mengedikkan bahu. “Sambil makan indomie mungkin? Apa gorengan ya?”

Gadis itu terkejut saat Adit mencondongkan badannya ke depan sambil memasang puppy eyes. Kata Adit, “Request dong, rasa ayam bawang.” Dan dia langsung mendapat sentilan di dahi.

“Bikin sendiri sana! Kan lo nyuruh gue buat cuci muka,” ledek Aruna dengan menekankan kata ‘cuci muka’. Saat dirinya sudah berjalan masuk ke dalam, tiba-tiba saja Adit merangkul bahunya. “Woy anj—”

“Bantuin bikin lah! Lo mau kosan lo gue bakar?” Tak hanya merangkul, Adit juga menyeret gadis itu menuju dapur.

Di saat seperti ini, mereka tidak sadar kalau jantung mereka berdebar menyenangkan. Seperti orang jatuh cinta? Mungkin saja.

“Nonton sama gue aja nanti,” karena terlalu random, Aruna membalasnya dengan tatapan bingung. “Daripada mubazir tiketnya, ya gak?”

Aruna mengulum bibir, berpikir sejenak. “Oke! Bayar ya, dua ratus ribu.”

“Tiket apaan sampe dua ratus ribu?!”

Tak bohong, Adit lebih suka Aruna yang seperti ini. Yang meledeknya, mengusilinya, memukul lengannya—yang menghabiskan waktu bersamanya dengan senyum lebarnya.

Ah, seandainya selalu seperti ini.


Park Serim as Sam Kim Sihyeon as Sheila


“Kebiasaan banget, dah!”

Tak tahan menunggu, Sheila keluar dari mobil dan menghampiri sepupunya. “Kenapa, Der?”

“Biasalah, mobil usang,” meski tidak dijelaskan secara rinci, asap yang timbul saat kop mobil dibuka sudah menjawab pertanyaan Sheila. “Hobi kok nyimpen barang antik? Heran.”

Di saat Hendery sibuk menggerutu, Sheila menjauh sedikit untuk menyalakan ponsel. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh, yang artinya Sam akan sampai rumah satu jam kemudian. Tidak, tidak boleh! Sheila harus sampai lebih dulu.

“Aku naik taksi aja deh,” putusnya cepat seraya berjalan ke bagasi mobil. “Kamu balik ke rumah aja. Telepon Koh Daniel suruh jemput.”

“Serius, Shei? Naik taksi sendirian?” Tanya Hendery menahan pintu bagasi. “Gue tahu lo buru-buru, tapi ini udah malam. Nggak inget kasusnya Rani kemaren?”

“Harusnya yang kamu inget itu kejadian waktu kita SMA. Siapa yang mukulin Devan sampai masuk rumah sakit?” Sheila menyingkirkan tangan sepupunya dan membuka sendiri bagasi mobil. Ia tersenyum setelah semua barangnya keluar. “Bisa bawa nih mobil ke bengkel sendiri, kan? Apa manggil derek?”

Hendery menyerah. Ia biarkan sepupunya pulang sendiri ke Jakarta menaiki taksi. Tak diam saja, ia juga mengancam supir taksi tersebut agar tidak melakukan hal senonoh pada Sheila.

Lebay memang, tapi lelaki itu sudah berjanji untuk menjaga semua saudara perempuannya sebisa mungkin. Ia tak mau apa yang terjadi pada sepupu kecilnya terulang lagi.


“Sayang, aku pulang.”

Sam tahu kalau tidak akan ada orang yang menyambutnya. Tapi, yang namanya kebiasaan tidak bisa hilang begitu saja kan? Tersenyum getir, lelaki itu melepas sepatu dan menaruhnya di rak.

Tak langsung mandi, dia lebih dulu merapihkan ruang tamu. Kemudian mengangkat jemuran dan dilanjut mencuci piring. Semua dilakukannya sendiri. Membuatnya berpikir ulang mengenai ucapannya yang tak sengaja terlontar suatu hari.

“Kamu nggak ngapa-ngapain di rumah, kenapa ngeluh ‘capek’ terus?”

Sam berjanji untuk tidak sembarang bicara lagi.

Setelah semuanya selesai, barulah ia ke kamar dan membersihkan diri. Ia juga berniat untuk memesan makanan untuk makan malamnya nanti. Ya, masakan yang bisa dimasaknya sendiri hanya telor ceplok atau mie instan. Semuanya sudah pernah dimakan dan tidak boleh dikonsumsi sering-sering kan?

Keluar kamar, Sam mengernyitkan dahi. Ada suara-suara ribut dari arah ruang tamu seperti orang baru pulang dari perjalanan jauh. Gue udah ngunci pintu perasaan? Batinnya was-was sambil menuruni tangga perlahan. Siapa orang asing yang bisa sembarangan masuk ke rumahnya?

Sesampainya di ruang tamu, ia tak melihat siapa-siapa. Hanya beberapa koper sedang yang tergeletak sembarang di dekat sofa. Aneh? Tentu saja. Belum sempat ia mengamati barang tersebut, suara seseorang terdengar lagi dari arah dapur.

“Bener kata Mami. Gak seharusnya suami ditinggal sendiri.”

Tunggu, itu kan suara…

“Udah mandi, Sam?”

Berbalik, matanya menangkap seseorang yang tiga hari belakangan meninggalkannya sendiri. Istrinya, Sheila.

“Heh! Malah bengong,” tegur Sheila seraya mendekat lalu tertawa kecil. “Gimana rasanya ditinggal—SAM!!”

Tentu saja Sheila terkejut karena Sam memeluknya tiba-tiba dan mengecupnya bertubi-tubi. Keduanya tertawa, lalu menatap satu sama lain.

“Kenapa gak bilang kalo pulang hari ini? Terus kamu kesini naik apa? Dianter apa—”

Hey! Calm down!” Potong Sheila disela tawanya. “Sengaja aku nggak kasih tau karena aku pengen aja surprise-in kamu. Aku berangkat udah dari sore dan ngira bakal sampe duluan daripada kamu. Eh… mobilnya Hendery malah mogok. Telat deh.”

Sam memanyunkan bibirnya. “Tetep aja ngagetin aku tau! Aku kira tadi siapa main masuk aja.”

Sheila jinjit sedikit agar dapat mengecup bibir suaminya. “Sorry…

“Buat?”

“Udah ninggalin kamu sendiri,” Sheila menunduk. “Aku ke rumah Mami bukan karena marah sama kamu soal itu. Ada sepupu aku yang kena musibah, dia nyariin aku karena minta ditemenin,” diam sejenak, “Maaf juga baru ngasih tau ini sekarang.”

Sam mengangguk sembari mengusap kepala sang istri. “Iya, nggak pa-pa. Tapi lain kali ngomong ya, kalo ada apa-apa,” senyumnya terbit saat Sheila mendongak. “Kita suami-istri kan? Masa bohong terus?”

Melihat Sheila mengangguk pelan dan memeluknya, Sam merasa hatinya menghangat. Tidak, dia tidak marah bahkan sejak awal Sheila pergi tanpa menjelaskan apa-apa. Kesal mungkin iya, namun menghilang begitu saja saat melihatnya kembali.

Krruukk!

Pelukan mereka melonggar, saling menatap dan kembali tertawa.

“Laper ya?” Tanya Sheila. “Belum makan dari abad berapa?”

Sam kembali cemberut, membuat istrinya tertawa kencang. Mereka pun melangkah ke ruang makan sembari bercanda seperti biasa.

Yeah, like always.

Menurut Julia, takdir tidak dapat diubah. Semua yang sudah dituliskan akan terjadi sesuai waktunya, dan semua yang telah terjadi pastinya sesuai dengan takdir yang telah dituliskan. Karena itulah, dua puluh tahun lebih hidupnya di dunia sangat sesuai dengan ‘aturan’ yang diatur sedemikian rupa.

Menurut Bintang, takdir dibuat untuk dirubah. Meski tidak semua, tapi ia yakin kalau sebagian jalan hidupnya bisa ditentukan sesuai kemauannya. Dan satu yang dipelajari selama dua puluh tahun lebih di dunia, jangan terlalu kau tunjukkan usahamu untuk mengubah takdir itu.

Benar, mereka adalah salah dua dari sekian banyaknya manusia yang memandang dunia dengan caranya masing-masing. Dan disaat mereka dipertemukan oleh takdir, bagaimana pandangan mereka tentang dunia selanjutnya? Bisakah mereka mempertahankan ‘kepercayaannya’?