us


Allen Ma as Adrian Lee Chaeryeong as Clara


She did it again.

“Kak Ian, maaf banget,” ucap Clara dengan napas tersengal-sengal. “Aku tuh inget mau ketemu Kakak. Cuma tadi—bentar mau napas.”

Adrian—akrabnya disebut Ian—mendengus pelan seraya mendorong gelasnya ke hadapan Clara. “Minum dulu, duduk. Nggak ada yang minta kamu jelasin kenapa telat.”

Menurut, Clara duduk di samping Adrian dan meminum segelas vanilla latte yang ternyata masih penuh. Barusan dia berlari dari gedung perpustakaan sampai ke kafe yang letaknya tak jauh dari kampusnya ini. Tapi tetap saja melelahkan.

“Udah?” Tanya Adrian lima menit kemudian. Selama menunggu Clara tadi, dia memainkan ponselnya. “Tadi dimana emangnya?”

Clara menunduk, tak berani menatap kekasihnya yang sedang marah—terlihat dari nada suaranya yang datar. “Baca novel... di perpus.”

Adrian menghela napasnya sebelum menghadap penuh ke Clara. “That's why your grades drop.

Clara mengangguk saja, seolah siap dengan semprotan selanjutnya.

“Kamu udah gede, Ra. Kepala dua. Sampai kapan kamu mau begini terus?” Karena masih ingat kalau mereka di tempat umum, Adrian berusaha untuk tidak menaikkan nada suaranya. “Cindy seusia kamu udah mandiri loh, ngekos malah. Dia juga selalu tepatin janjinya sesibuk apapun dan berusaha dateng duluan biar orang yang janji sama dia nggak kecewa. Kapan kamu bisa gitu?”

“Aku—” sahut Clara cepat dengan kepala mendongak, namun terdiam saat matanya berserobok dengan milik Adrian. Some words are missing, again. “Maaf... Kak.”

Adrian bergeming, menghela napas pun rasanya lelah. Diambilnya ponsel Clara yang tergeletak di atas meja dan mengotak-atiknya seolah milik sendiri. Si pemilik tak melarang dan menerima saja saat dikembalikan.

“Kakak udah pasang di alarm, jadwal yang sekiranya kamu lakuin hari ini,” jelas Adrian lebih tenang. “Terapin itu setiap hari ya, biar yang kayak gini gak keulang lagi. Bisa kan, bikin schedule harian?”

Clara mengangguk setelah mengecek alarm yang disetel. “Bisa kok, Kak.”

Good,” Adrian mengusap kepala gadisnya lembut. “Maafin Kakak juga ya.”

Akhirnya, Clara bisa menggeleng. “No, aku yang salah di sini.”

“Oke oke,” tak mau menghabiskan waktu, Adrian mengalah. “Jadi bahas soal sekarang?”

Barulah gadis bersurai merah gelap itu menunjukkan senyum manisnya. Sesuai yang dijanjikan, lelaki yang sudah diwisuda bulan kemarin itu membantunya mengoreksi jawaban ujiannya kemarin. That's the one of their type of date.

Kalau ditanya soal hubungan, sebenarnya baru berjalan 45 hari. Itupun setelah Clara menunggu cukup lama karena Adrian yang tak kunjung memutuskan. Yeah, she has confessed first. Bahkan sampai menyatakan sesuatu tanpa pikir panjang saking tak sabarnya.

“Biasanya, kakak-adek itu sifatnya nggak jauh beda. So... I think I can be your ‘Cindy’ ... if you want.

Dan entah timing-nya memang pas atau disengaja, Adrian—masih dengan toganya—menghampiri Clara yang kebingungan dengan tangan memegang buket bunga matahari—kesukaannya. He said,Now, I can be yours.

Clara senang bukan main saat itu. Senyumnya terus mengembang lebar setiap Adrian berada di dekatnya. Bahkan saat lelaki itu mulai mengaitkannya dengan Cindy, ia harus tetap tersenyum bukan?

Dan benar, Cindy itu kakaknya. Yang pernah menjadi pacar Adrian. Yang meninggal karena kecelakaan.


“Aku udah ngasih tau Kakak belum, sih?”

Adrian menoleh sekilas dengan tangan memutar setir ke kanan. “Yang mana tuh?”

Clara mengulum bibir. “Aku... udah punya SIM A.”

Entah terkejut karena ucapan gadisnya atau tiba-tiba lampu merah, Adrian menginjak rem secara mendadak dan membuat mereka terhuyung ke depan. Setelah merasa stabil, lelaki itu menatap Clara dengan tatapan yang sama dengan siang tadi.

“Siapa yang nyuruh kamu bikin? Emang kamu punya mobil?”

“Mobilnya pu-punya Mami,” lagi, jantung Clara berdebar takut. “Gak ada yang ngendarain lagi, dijual sayang. Ma-makanya minggu lalu aku bikin.”

“Minggu lalu?!” Suara Adrian mulai meninggi. “Jangan bilang yang waktu itu kamu bilang nginep di rumah temen?” Melihat Clara yang menundukkan kepala, membuatnya tak sadar menggeretakkan gigi. “Okay. Kamu udah berani bohong sekarang. Bagus.”

“Seenggaknya sekarang aku bisa nyetir dengan baik!” Clara memberanikan diri. “Gak kayak Kak Cindy yang main coba-coba aja dan berakhir—”

“Kamu mau bilang Cindy ceroboh?” Sergah Adrian cepat. “Kamu nggak inget kalo kamu itu sama cerobohnya? Need a mirror?

Clara diam, menatap Adrian tak percaya. Seperti ada yang mencubit hatinya saat lelaki itu menekankan kata ‘sama’, dan itu sangat sakit.

Such a jerk.


Mereka benar-benar bertengkar, untuk pertama kalinya.

Tak ada lagi sapaan hangat Clara lewat telepon, atau senyum hangat Adrian saat menjemputnya pulang. Mereka benar-benar seperti orang asing yang tak pernah terikat hubungan apa-apa. Kalaupun tidak sengaja berpapasan, keduanya pasti mengalihkan pandangan dengan tangan terkepal kuat.

Dan kalau boleh jujur, Clara lebih nyaman dan senang saat itu. Napasnya terasa sangat lega seperti saat mengunjungi pedesaan. Tidak ada yang membuatnya cemas atau takut setelah mengucapkan sesuatu. Benar-benar seperti keluar dari penjara yang pengap dan sesak.

“Itu artinya, lo harus putusin dia.”

Itu pendapat Aruna, yang membuat Clara terdiam seketika.

“Hubungan lo sama dia emang udah gak jelas banget, Ra. Dari awal malah. Masa apa-apa harus disamain sama orang yang udah, maaf, ‘pergi jauh’ itu? Ya walaupun dia Kakak lo dan beberapa sifat kalian emang sama, bukan berarti lo bisa jadi ‘orang itu’ juga. Bahkan orang yang kembar pun pasti ada bedanya.

“Dan kenapa lo ngerasa ‘bebas’ sekarang? Karena lo jadi diri lo sendiri. Seorang Liliana Clara Pramudya, bukan Laura Cindy Pramudya yang udah pergi dua tahun silam.”

“Tapi, Na...” Clara menggigit bibir. “I love him so bad. Gue nggak mau biarin dia larut dalam kesedihannya lagi.”

“Dan biarin diri lo tersiksa cuma karena menuhin ekspektasinya?”

Clara diam lagi. Saat kepalanya menunduk, setetes air mata jatuh ke bantal sofa yang dipangkunya. Ia menangis frustasi.

Kenapa semuanya jadi rumit?

Tell me now, was that the sound of us?