fall


Cha Junho as Juna Kim Chaewon as Chika Jo Yuri as Risa


tw// harsh words

Bruk!!

Juna mematung seketika. Barusan ia melempar bola basket ke ring yang malah melesat mengenai kepala seseorang. Apesnya lagi, orang itu Yudha.

“Siapa yang lempar?!”

Seluruh pandangan beralih pada Juna, yang tanpa disangka mengangkat tinggi tangannya. “Saya, Bang. Nggak sengaja tadi.”

Really?” Juna refleks mundur saat Yudha mendekat, kemudian maju lagi dengan dagu sedikit terangkat. Berani Jun! Lo bisa! “Masih nekat lo main di sini?”

“Selama nggak ada yang salah kenapa nggak?” Gila! Keren banget gue! “Oh! Maaf, buat yang tadi.”

Yudha berdecih. “Songong lo sekarang. Diajarin siapa?”

“Gak penting itu,” Juna menunjuk pintu keluar. “Yang penting sekarang itu lo pergi. Jangan ganggu singa yang lagi tidur.”

“Singa?” Yudha tertawa sinis. “Wajar nggak, kalo dia marah waktu tau kandangnya dipenuhi tikus yang nggak tahu tempat?”

Seruan temannya yang menyuruh Juna mengalah dihiraukan. Lelaki itu memilih mengepalkan tangan, bersiap dengan konsekuensinya. “Bukannya ‘kandang’ Bokap lo? Kan lo cuma numpang.”

“Bangsat!”

Dan untuk pertama kalinya, kakak-beradik itu bertengkar fisik. Di depan umum, di bawah langit senja yang jingganya sempurna.


“Juna??!”

Si pemilik nama hanya menyengir lebar. “Ada Kak Chika—aw!”

“Bercanda lo nggak lucu, tolol!” Ya, Risa memukul lengan Juna keras. “Gue tau lo bego, ya tapi gak usah bawa-bawa... itu.. juga!”

Juna masih menyengir seolah tak berdosa. Kemudian menyerahkan plastik kecil yang baru dibeli pada teman yang setahun lebih tua darinya. “Obatin dong, tolong.”

“Yang bonyok muka doang, kan? Tangan nggak? Gak usah manja lah! Udah gede!”

“Sekali-kali elah,” Juna meneguk ludah. “Gue kangen.”

Risa yang tahu maksud ‘kangen’ itu mendengus pelan sebelum merebut plastik di tangan Juna dengan sedikit kasar. “Di luar aja. Ada Papa.”

Juna menurut dan mengekori Risa menuju bangku panjang di halaman rumah. Dulu, lelaki itu sering duduk lama di sini. Entah hanya duduk atau sambil mengerjakan sesuatu, dan tidak pernah izin pada pemiliknya. Dia baru pergi saat keberadaannya disadari oleh satu orang, itupun atas izinnya.

“Itu kamar masih dikunci?” Tanya Juna setelah sekian detik mendongak ke balkon atas.

“Kemaren dibuka sebentar buat dibersihin, terus kunci lagi,” jawab Risa dengan tangan sibuk meneteskan obat merah ke kapas. “Yang bersihin juga Bu Ijah doang.”

“Parah,” Juna bersedekap. “Ajak gue aja harusnya.”

“Terus kamarnya banjir air mata lo doang.”

Juna tersenyum kecut dan beralih menghadap Risa agar gadis itu mudah mencapai dahinya. Lelaki itu hanya meringis tipis karena terlalu sibuk memerhatikan.

“Lo kok nggak ngomel sih?” Tanya Juna refleks, karena seharusnya pertanyaan itu bersarang di kepala saja.

“Ngomel? Maksudnya?” Risa baru sadar di detik selanjutnya. “Nggak lah, ngapain? Lo mau jungkir balik dari rooftop gedung juga gue nggak peduli.”

“Tapi ini mau ngobatin.”

“Terpaksa. Daripada lo nangis jelek depan rumah gue, apa kata tetangga nanti?” Selesai, Risa membuka satu plester dan ditempel sembarang. “Udah sembuh.”

Juna berdecak kesal. “Lo mah nggak pake perasaan.”

“Ya emang gue Kak Chika?” Risa mengatup bibir, keceplosan. Biarin lah! Sekalian. “Gue juga nggak suka sama lo.”

“Tahu kok,” Juna menyandarkan punggung, menatap bulan sabit yang berada tepat di depannya. “Kalian cuma mirip muka doang.”

Risa masih menatap wajah sendu Juna. “Lo masih belum bisa lupain dia?”

Juna mengangguk, tidak bisa berbohong. “Gue malah berharap suatu saat dia bakal balik.”

“Juna—”

“Gue berantem sama Yudha tuh bukan tanpa alasan,” sergah Juna cepat. “Itu permintaan Kak Chika—kalo gue harus berani sama Yudha. Dan masih banyak lagi yang mau atau bakal gue lakuin sesuai permintaan dia. Makanya gue berharap dia balik. Gue pengen dia ngeliat ini semua.”

Juna menarik napas panjang begitu dadanya terasa sesak. Bahunya juga bergetar, menandakan kalau sebentar lagi pertahanannya runtuh. Ternyata, jujur itu semenyakitkan ini?

“Jun,” panggil Risa dua menit kemudian. “Do you still love her?

Juna tertawa hambar. “Pertanyaan retoris. Lo tau jawabannya.”

Then, let her go,” Risa tersenyum amat tipis saat Juna menoleh padanya. “Ikhlasin, lupain, jangan berharap dia balik.”

It hurts me then.

“Lebih menyakitkan lagi buat dia, Jun. Gue yakin Kak Chika bakal gak tega ninggalin lo.”

“Itulah!” Nada Juna mulai meninggi. “Kenapa harus pergi?! Kenapa cinta malah meninggalkan, bukannya diam bertahan?!”

Sebelum Risa menyanggah, lelaki itu memilih beranjak pulang ke rumahnya. Tangannya mengepal kuat dengan wajah memerah. Bahkan hampir meninju tembok kalau tidak ingat kedua orang tuanya ada di rumah.

You're gone and I'm left alone


“Sebuah kecelakaan berantai terjadi pada Rabu malam di km 10 tol Jagorawi. Berawal dari sebuah truk yang diduga memiliki rem blong yang kemudian memutar menghalangi jalan sehingga tiga mobil di belakangnya berhenti mendadak dan saling bertabrakan.

“Tiga orang dilaporkan tewas di tempat, dan yang lainnya hanya luka-luka. Mereka dibawa ke rumah sakit terdekat untuk diautopsi lebih lanjut.”

“Kak Chika...”

Semua yang ada di sana menggeleng, membuat dunia Juna berhenti seketika.

Kekasihnya pergi, untuk selamanya.