Heartbeat
Ham Wonjin as Adit Shin Ryujin as Aruna
tw/cw: harsh words, mention of mental health
“Maaf, maaf. Permisi.”
Itu Adit, yang berlari menuruni tangga begitu kelasnya selesai. Bisa saja dia menggunakan lift agar lebih cepat. Tapi yang namanya orang panik, tidak mau banyak berpikir, kan? Yang penting dia sampai tujuan dan menemui sumber kepanikannya.
Tak sampai lima menit, Adit sampai di taman belakang kampus yang berhadapan dengan danau buatan yang cukup luas. Sempat berdiri diam untuk mengatur napas, ia langsung menemukan si sumber kepanikannya—sedang berjongkok di bawah pohon dengan bahu bergetar khas orang menangis.
“Nggak ada kodok di situ,” celetuk Adit menyapa sumber kepanikannya. “Adanya tai kucing. Beneran.”
Si sumber kepanikan—sebut saja Aruna—mendongakkan kepalanya. Kemudian berdiri dan memeluk Adit tanpa aba-aba.
“Lo kenapa?” Tanya Adit setelah mendengar isakan sahabatnya. “Gue langsung lari loh begitu kelas selesai. Siapa yang nangisin lo?”
Aruna tak menjawab, masih sibuk menangis dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya. Langsung paham, Adit memilih diam. Tak lupa membalas pelukannya sambil menepuk punggung si gadis dengan perlahan.
“Puas-puasin dulu dah. Asal tuh umbel nggak nempel di jaket aja.”
Adit tertawa kecil saat punggungnya dipukul. Celetukannya tadi bukan tanpa alasan. Melainkan sebagai pengalihan karena jantungnya mendadak berdegup kencang. Seperti… orang yang jatuh cinta?
Nggak! Jatuh cinta gigi lu ompong, batinnya mengumpati diri.
Sekitar tujuh menit, Aruna baru berhenti menangis. Adit yang siap melepas pelukan justru ditahan, berhasil membuatnya mengumpat dalam hati.
“Jangan lepas dulu, muka gue jelek,” jelas Aruna dengan suara sumbang.
“Siapa suruh nangis?” Punggung Adit dipukul lagi. “Ya udah iya. Kendorin dikit tapi.”
Yang Aruna lakukan justru melepas pelukan sambil mengusap wajahnya. Adit mengeluh, “Bocah labil emang.”
“Duduk aja deh, Dit. Capek gue berdiri,” Aruna kembali duduk beralas rumput dan Adit mengikuti. Ya, mereka menjauh sedikit dari pohon agar tidak digigit semut rangrang.
“Cerita gih,” pinta Adit. “Siapa yang bikin temen gue nangis jelek kayak gini? Mau gue suruh nangis lagi soalnya.”
Aruna cemberut sambil berdecak kesal. “Udah apa, Dit. Gue udah nggak ada tenaga buat mukul lo.”
Adit terkekeh. “Kasihan.”
Aruna mengangguk pelan. “Ya… gue emang semenyedihkan itu. Suka sama cowok yang ternyata suka sama…” sengaja tak dilanjutkannya. Menoleh ke samping, Adit memasang wajah bingung.
“Lo tahu Sonya, anak hukum yang mukanya bule itu?” Adit mengangguk. “Dan lo inget kejadian waktu kita kelas sebelas, yang bikin gue masuk rumah sakit?”
Berpikir tentang hubungannya membuat Adit membulatkan mata. “Jangan bilang dia…”
Aruna mengangguk. “Yes. She's the person you hate the most.”
“Anjing,” Adit memutar bola mata. Kemudian, tatapannya berubah menjadi sangat serius. “Lo diapain lagi sama dia?”
“Dia… cuma ngasih tiket nonton ke Kak Putra dan diterima dengan senang hati. Padahal,” suara Aruna mengecil karena menundukkan kepala. “Yang gue tawarin sebelumnya ditolak pake alasan ‘pergi sama temen tongkrongannya’.”
Wajah Adit mengeras, sangat terlihat kalau dia marah namun berusaha menahannya. Tangannya yang mengepal memukul tanah sekali dan berhenti saat Aruna memanggil namanya.
“Percuma lo ngamuk di sini, marah di sini. Nggak ad—”
“Lo marah nggak?” Potong Adit cepat. “Kalo lo nggak bisa marah, gue aja yang marah. Gue yang nyamperin dia, gue yang nonjok dia—”
“Aditya!”
“—gue yang bakal nyuruh orang-orang buat benci dia, sama kayak yang dia lakukan ke lo empat tahun yang lalu. Gue yang bakal lakuin itu, Na!”
Aruna terdiam, jantungnya berdetak lebih keras dari biasanya. Sahabatnya dari usia belasan, yang dikenal selalu bercanda sekalipun marah, sekarang benar-benar terlihat marah. Dan Aruna takut akan itu.
“So please, jangan selalu bilang ‘nggak pa-pa’, Na,” nada suara Adit mulai menurun, mungkin karena melihat mata Aruna bergetar. “Kalo lo begini terus, lo bakal selalu tertinggal dari dia. Semua yang lo inginkan nanti bisa-bisa direbut sama dia.”
Air mata Aruna jatuh lagi, kepalanya menggeleng. “Gue tahu diri, Dit. Gue nggak bakal bisa seberani itu.” Menunduk, tangannya meraih tangan Adit. “Dan gue harap, semua yang lo bilang tadi cuma bercanda, ya?”
Adit tertawa. “Soal gue mau ‘balas dendam’? Buat apa gue bercanda soal itu, Na?”
“Dia cewek, Dit!” Giliran Aruna yang meninggikan suara. “Gue juga nggak mau lo kena masalah! Gue nggak mau lo dihajar balik sama Kak Putra!”
“Tapi lo ngebiarin dia melakukan itu semua ke lo,” Adit menggeleng tak percaya. “Nggak sayang mental ya lo? Pengen jadi gila?”
Tangan Aruna mengepal, isakannya juga bertambah keras. Dan saat kepalan itu digunakan untuk memukul dadanya sendiri, ekspresi Adit melunak. Lelaki itu merasa bersalah dengan ucapannya barusan. Sehingga yang bisa dia lakukan adalah memeluk sahabatnya lagi sembari menggumam kata ‘maaf’.
“Sakit, Dit!” Jerit Aruna tertahan. “Dada gue sesek setiap ngelihat Kak Putra nolak gue! Tambah sakit lagi waktu Sonya muncul dan buat Kak Putra senyum. Sakit, Adit! Dada gue sakit!!”
Dada gue juga sakit karena ngelihat lo begini, Na, sahut Adit dalam hati. Dagunya ditumpukan di atas kepala Aruna dan tangannya menepuk pelan bahu yang bergetar hebat itu.
“It’s okay, Na. Keluarin aja semua. Lo punya gue di sini.”
Langit berubah gelap saat Honda Vario hitam itu terparkir di depan sebuah gedung kos-kosan. Aruna turun lebih dulu, menunggu Adit merapihkan posisi motornya dan mengeluarkan sesuatu dari bagasi. Setelahnya, mereka duduk di kursi rotan yang ada di teras dan memandang rintik hujan yang mulai turun dengan deras.
“Nggak mau masuk?” Tanya Adit saat melihat Aruna ikut memandang ke depan. “Cuci muka gitu, biar gak jelek-jelek amat.”
Aruna menatapnya malas dan hanya memukul lengannya kencang. Namun dalam hati, gadis itu mengucap syukur. Adit kembali menjadi sahabat yang ia kenal.
“Tadi tuh niat gue baik, pengen nemenin lo di sini sampe hujannya reda,” kata Aruna sambil mengedikkan bahu. “Sambil makan indomie mungkin? Apa gorengan ya?”
Gadis itu terkejut saat Adit mencondongkan badannya ke depan sambil memasang puppy eyes. Kata Adit, “Request dong, rasa ayam bawang.” Dan dia langsung mendapat sentilan di dahi.
“Bikin sendiri sana! Kan lo nyuruh gue buat cuci muka,” ledek Aruna dengan menekankan kata ‘cuci muka’. Saat dirinya sudah berjalan masuk ke dalam, tiba-tiba saja Adit merangkul bahunya. “Woy anj—”
“Bantuin bikin lah! Lo mau kosan lo gue bakar?” Tak hanya merangkul, Adit juga menyeret gadis itu menuju dapur.
Di saat seperti ini, mereka tidak sadar kalau jantung mereka berdebar menyenangkan. Seperti orang jatuh cinta? Mungkin saja.
“Nonton sama gue aja nanti,” karena terlalu random, Aruna membalasnya dengan tatapan bingung. “Daripada mubazir tiketnya, ya gak?”
Aruna mengulum bibir, berpikir sejenak. “Oke! Bayar ya, dua ratus ribu.”
“Tiket apaan sampe dua ratus ribu?!”
Tak bohong, Adit lebih suka Aruna yang seperti ini. Yang meledeknya, mengusilinya, memukul lengannya—yang menghabiskan waktu bersamanya dengan senyum lebarnya.
Ah, seandainya selalu seperti ini.