Sculpted


Park Jisung as Zidan Kim Chaehyun as Caca


“Halo?”

“Zidan! Kamu di mana sih?”

“Di gerbang kedatangan, Ca.”

“Di mana?!” Caca nyaris berteriak karena kesal. “Gue udah muter lima kali sampe lemes, loh! Beneran nyampe gak sih??!!”

Bukannya menjawab, Zidan malah tertawa. “Marah ya marah aja, Ca. Gak usah hentak kaki segala. Ntar roboh loh bandaranya.”

“Kebias—” terdiam, Caca baru sadar ada yang aneh. Dia kan menghubungi Zidan lewat voice call. Tau dari mana kalo tadi gue mencak-mencak?

“Makanya,” suara seseorang mendekatinya dari arah belakang. “Nyari apa-apa tuh pake mata, Ca. Bukan mulut.”

Berbalik badan, Caca mendapati seorang lelaki yang dicarinya sejak tadi sedang tersenyum seolah tak bersalah.

“Dasar lo ya!!” Caca memukul bahu Zidan. “Belajar ke Aussie bukannya makin pinter malah makin ngeselin! Anak siapa sih lo?!”

I miss you too, Mbul,” sahut Zidan gak nyambung sambil mengacak poni sahabat kecilnya. “Udah ah. Marah-marah mulu emang nggak capek?”

“Habisnya, lo ngeselin,” Caca cemberut. “Ngasih tau pulang, dadakan. Nyuruh gue jemput siang bolong. Ganggu banget tau!”

Zidan mengangkat alis, tidak percaya. “Masa? Bukannya lo yang girang waktu gue ngasih tau?”

“Bukan gue itu.”

“Siapa?”

“Khodam Bapak.”

Zidan tertawa dan mengacak rambut Caca lagi. Tidak, Caca tidak marah. Justru senang karena Zidan yang melakukannya.


“Masih ada aja nih, rumah pohon.”

Di sampingnya, Caca tersenyum jumawa. “Gue nih, yang tiap hari rapi-rapi.”

Sudut bibir Zidan terangkat. “Ngibul.”

“Beneran!”

Zidan tak membalas, memilih naik ke atas untuk melihat lebih dalam. Ia tak menyangka kalau tempat bermainnya saat kecil masih kuat menopang tubuhnya yang kini sangat besar. Semua mainan, pajangan, dan coretan-coretan di dinding sama sekali tidak berubah.

“Yaa… nggak setiap hari sih,” kata Caca setelah berhasil naik dan duduk di samping Zidan. “Paling dua minggu sekali. Kalo gue sibuk banget, bisa tiga bulan gue biarin kotor.”

Zidan mengangguk tipis. “Kenapa nggak nyuruh orang?”

“Gue nggak mau. Takutnya, kalo nyuruh orang yang gak tau apa-apa, malah dibuang barang-barangnya, dihapus coret-coretannya.”

“Iya juga sih,” Zidan menoleh, mengambil salah satu foto polaroid yang menempel di dinding. Ia ingat, foto itu diambil saat mereka baru masuk SD.

“Oh iya!” Caca teringat sesuatu. “Gue udah ngasih tau belom sih?”

“Apaan?”

Caca mengajak Zidan turun ke bawah. Memperlihatkan satu lagi kenangan mereka yang tidak terselesaikan dengan sempurna.

“Inget nggak?” Tanya Caca. “Gue pengen lanjutin sebenarnya, tapi takut tangan gue luka lagi.”

Zidan mengangguk, lalu mengusap pahatan yang tidak rata itu. Ia juga masih ingat dengan idenya untuk membuat inisial nama mereka di pohon tersebut. Mereka yang masih belum bisa memakai pisau pahat dengan benar mencoba memahat sendiri dan berakhir terluka di tangan. Itu sebabnya pahatan itu tidak dilanjutkan.

“Ca,” mungkin sekarang bisa, “Pisau pahat masih lo simpen, nggak?”

“Ada di gudang, kenapa?” Melihat Zidan yang tak mengalihkan pandangan, Caca langsung paham. “Bentar, gue ambil.”

Iya, Zidan ingin mencoba melanjutkan pahatannya. Membentuk sempurna huruf C dan Z sesuai keinginan mereka dulu.

“Gue ikut bantu, ya,” pinta Caca sekembalinya dari gudang.

Zidan menerima barang yang diminta sambil menggeleng. “Jangan. Nanti tangan lo luka lagi.”

“Hati-hati, kok,” seperti biasa, Caca memasang puppy eyes. “Boleh ya? Biar cepet selesai juga.”

Zidan melengos melihatnya. “Mending lo bantuin ambil minum, cemilan atau apa kek. Terus duduk manis, nggak ganggu gue.”

“Nggak mau!” Caca menghentakkan kaki. Persis anak umur lima tahun. “Ayolah, Dan… gue bakal hati-hati kok.”

Gue lupa kalo dia keras kepala, batin Zidan baru sadar. Melihat langit yang semakin petang, dia terpaksa mengangguk. “Ya udah, boleh.” Saat Caca menjerit senang, ia melanjutkan, “Pakai sarung tangan dulu, sana. Sama jangan main pahat sembarangan. Nurut instruksi gue.”

Caca membentuk gestur hormat. “Siap, Pak!”

Dan sepanjang sore itu, mereka bekerja sambil sesekali bercanda. Melakukan hal yang sudah lama diinginkan untuk membentuk memori yang sempurna dan layak dikenang hingga nanti.

“Zidan,” panggil Caca di sela-sela memahat. “Kira-kira, rumah pohon ini masih bisa dipake sama anak kita gak?”

Tentu saja Zidan terkejut, malah sampai tersedak ludah sendiri. “Hah?”

“Iya, anak kita,” jawab Caca santai dengan senyum manisnya. “Nanti gue ceritain, tentang Papanya yang jahil banget, Mamanya yang cerewet dan cengeng, dan kenapa kita bisa saling sayang.”

Zidan tidak menyahut. Dibalik perasaan bingungnya, ia justru terpaku dengan kata-kata di akhir kalimat. Does she… have a crush on him?

Mengerjapkan mata, Zidan pun menggeleng. Kagak kagak! Caca kan cerewet, suka ngelantur lagi, batinnya meyakinkan dan memilih untuk melanjutkan pahatannya. Hari semakin sore dan dia harus segera menyelesaikannya.


“Lanjut besok aja, Ca.”

“Tanggung, Zidan,” Caca dan keras kepalanya. “Dikit lagi punya gue selesai.”

“Udah udah, lanjut besok,” mau tak mau, Zidan mengambil paksa alat pahatan dari tangan Caca dan menyimpannya ke dalam tas khusus. “Udah malem juga, lo gak takut kerasuka—”

“Shut!” Caca mengacungkan telunjuk di depan bibir Zidan. “Iya iya, lanjut besok.”

Zidan mengangguk. Caca masih takut hantu rupanya.

“Tapi lo jangan langsung pulang, ya,” pinta Caca lagi sambil berjalan masuk ke rumah. “Gue mau masak soalnya. Dan lo harus jadi orang pertama yang cobain masakan gue.”

Zidan berdeham. “Bisa dipercaya gak nih, masakannya?”

“Bisalah!”

Beneran seharian penuh, Zidan menggeleng pelan. Teringat janjinya yang diucapkan sebelum berangkat dari Aussie, kalau dia akan menemani Caca seharian penuh.