Clarity
Koo Jungmo as Alfi Hwang Yeji as Zia
“So? How's Jogja?”
Zia menoleh dengan senyum tipis. “Wonderful!”
Kedua alis Alfi terangkat naik. “Lebih dari Bali? Jakarta?”
“Di antara itu lah.”
Keduanya tertawa kecil, lalu mengamati kembali sang Surya yang mulai tenggelam perlahan.
Sedikit cerita, Zia adalah seorang gadis yang ‘kabur’ ke Jogja tanpa pemikiran matang dan sering tersesat di tiap sudut kota. Untung saja dia bertemu Alfi di hari kedua, lelaki yang rupanya menginap di hotel yang sama dengannya dan hanya berjarak dua pintu darinya.
Bertemu setiap sarapan atau makan malam, mereka mulai terbuka satu sama lain. Termasuk fakta kalau Alfi adalah orang asli Jogja yang membuatnya menjadi tour guide pribadi Zia di hari-hari selanjutnya. Dibayar? Iya, bensin mobilnya.
“Oh iya,” Alfi menoleh lagi, teringat sesuatu. “Kamu jadi pulang lusa, Zi?”
Zia menghela napas, tiba-tiba merasa sedih. “Iya. Aku udah dapat tiketnya juga.” Meraih tasnya, dia mengambil beberapa foto yang sudah dicetak dan menyerahkannya pada Alfi. “Siapa tau mau nyimpen.”
Alfi pun menerimanya dengan tawa kecil. “Kenapa malah kamu yang ngasih oleh-oleh?”
“Pengen aja. Emangnya nggak boleh?” Ketika tatapan mereka bertemu, Zia mengulum senyum. “Makasih juga ya, buat dua minggunya.”
Alfi, dengan senyum manisnya mengangguk pelan dan tangan terulur untuk merapikan anak rambut Zia yang tertiup angin pantai. “My pleasure.”
Di saat seperti ini, Zia menahan napas. Batinnya terus berteriak—menyuruhnya menanyakan sebuah kejelasan tentang hubungan mereka. Karena tidak mungkin seorang ‘teman-berpetualang’ melakukan sesuatu seperti ini.
“Pulang yuk!” Zia mengerjapkan mata. “Atau kamu mau beli apa gitu?”
Ya, gue harus ngomongin itu sekarang.
“Zia?”
“Alfi,” bersamaan, Zia memilih untuk melanjutkan. “Do you… treat other girls like this? Atau cuma ke aku doang?” Ia menggigit bibir saat melihat tatapan bingung lawan bicaranya. “A-aku cuma—hmm, you know? Hm… memastikan aja. Iya. So-soalnya aku setiap ka-kamu begitu—”
Ucapannya terpotong karena Alfi terkekeh geli. Saat Zia bertanya ‘kenapa?’, jawabannya, “Nggak. Lucu aja ngeliat kamu gugup begitu. Gemes—aw!”
Ya, Zia memukul paha Alfi dengan keras. Dengan pipi memerah marah, ia nyaris berteriak. “Aku lagi serius, Fi! Aku butuh kejelasan! Waktu aku di sini tinggal 36 jam lagi dan aku gak mau overthinking sampai Jakarta!!”
Alfi mengalihkan pandangan dengan mengusap pahanya. Menahan tawa, juga memikirkan ekspresi yang tepat untuk menjawab pertanyaan Zia.
“‘Cewek butuh kepastian’ berarti bener ya?” Alfi menoleh, menatap Zia lekat. “Kejelasan apa aja tadi, yang mau kamu dengar?”
“Ya tadi…” suara Zia mencicit. “Masa lupa?”
Alfi mengangguk pelan. “Oke baru inget. Aku jawab serius ya,” tanpa diaba-aba, keduanya menggeser posisi duduk menjadi saling berhadapan. “Ada sih, another girl who I treat like you. Bisa dibilang, kamu yang kedua.”
Zia yang tak bisa menyembunyikan wajah kecewanya bertanya lemas. “Siapa?”
“Ibuku,” Alfi hampir tertawa lagi. “Serius, Zi! Demi apapun!”
“Tau ah! Nyesel aku nanya serius!” Zia beranjak pergi. Wajahnya semakin memerah menunjukkan semua perasaan menumpuk di benaknya. Dari marah, kesal, sampai malu sekaligus.
“Zia!”
“Apa lag—”
Alfi menarik tangannya kencang sampai ia masuk ke pelukannya. Kaget? Tentu saja. Zia sampai menahan napas untuk yang kesekian kalinya.
“Kamu dengar sesuatu?” Entah perasaan Zia saja atau memang seperti itu, suara Alfi terdengar lebih berat dari biasanya. “The heartbeat, selalu begitu kalau aku dekat kamu.”
Perbedaan tinggi mereka yang cukup jauh (tinggi Alfi yang 180 cm lebih ditambah sepatu yang solnya cukup tebal, curang) membuat telinga Zia berhadapan langsung dengan dada kiri Alfi. Dan ya, detak jantung itu seirama dengan miliknya.
“So, the clarity is…” dagu Zia diangkat lembut, membuat matanya menatap mata Alfi yang dalam itu. “I'm in love with you.”
Jantung Zia nyaris meledak saking kagetnya. Mulutnya pun hampir terbuka lebar. “Hah?”
Alfi tersenyum, melonggarkan pelukan kemudian menggenggam dua tangan Zia erat. “Gimana? Sudah jelas?”
“Bentar!” Seru Zia hampir menjerit. “Ja-jadi kamu te-ternyata, selama ini, da-dari kemarin—”
“Iya, Zivanna,” Alfi memotong lagi, kemudian mengulum bibir malu. “Dari kemarin aku bingung mau bilangnya gimana. Jadi… maaf banget kalo tadi agak cringe.”
Zia masih mengerjapkan matanya berulang-ulang. Masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Lelaki itu, yang memiliki nama depan Raden, menyatakan perasaannya. Dimana itu berarti perasaan Zia terbalaskan.
Senang? Harusnya seperti itu.
“Zi? Jangan bengong!” Alfi menyadarkannya. “Maghrib banyak setannya, ntar kamu kesurupan.”
“Oh? Haha,” kekeh Zia garing. “Maaf maaf. Aku masih kaget.”
Alfi mengelus lengan Zia dan mengajaknya berjalan pulang. “Pulang aja ya? Udah malam juga.” Dan gumaman yang masih cukup jelas, “Nggak usah dijawab juga.”
Gue mau jawaaaabb!! Tungguin jantung gue normal dulu!!! Jerit Zia dalam hati sambil melirik Alfi.
Sesampainya di kamar hotel, Zia baru bisa menjerit sepuasnya. Tertawa sendiri, melompat-lompat di atas kasur. Persis seperti anak umur lima tahun. Kemudian, ia teringat sesuatu saat melihat pintu ke arah balkon.
“JOGJAKARTA!! MATUR NUWUN!!!¹” Teriaknya tanpa peduli mengganggu sekitar. “GUE BENER-BENER BAHAGIA DI SINI!! GUE GAK MAU PULANG!!!”
Sesuai namanya, Jogjakarta memang kota yang istimewa.
¹Matur nuwun: terima kasih