Sebelum pulang


“Ada capit boneka!”

Mirza yang baru selesai membayar menoleh ke arah yang ditunjuk Ayu. Matanya berbinar cerah. “Bisa dimainin?”

“Tadi sih aku liat ada yang mainin,” kedua sejoli itu menghampiri kotak yang tingginya hampir setara Ayu. Letaknya pas sekali di samping pintu masuk minimarket. Kalau dilihat dari jumlah boneka di dalam, pasti sudah banyak yang memainkannya.

“Coba main, katanya mau nambah boneka baru,” suruh Mirza sebelum menunjuk salah satu boneka bebek kecil. “Tuh, tinggal senggol jatoh.”

Ayu mengangguk setelah memasukkan koin. Sebenarnya dia jarang memainkan benda ini. Mungkin terakhir bermain saat umurnya sepuluh. Tidak heran kalau tiga kali kesempatan tidak ada yang bisa dijatuhkan.

“Susaaahh...” keluh Ayu saat menyadari kesempatannya habis.

Mirza yang sedari tadi mengamati tersenyum gemas. Berapa kali dia meringis tiap Ayu gagal menangkap boneka? “Noob sih.”

Berakhir lengan Mirza dipukul keras. Dengan senyum kecutnya, Ayu mengajak pulang. “Besok coba lagi deh.”

“Sekarang aja.”

“Bunda nungguin gula, Kak,” Mirza menepuk jidat. Baru ingat. “Ayo pulang.”

Sebelum benar-benar pulang, Mirza menatap mesin itu sekali lagi. Mungkin dia akan melakukan rencana B.