Malamnya


“Dek, dicariin Mirza!”

Ayu mengernyitkan dahi. Ngapain lagi malem-malem? Segera ia rapikan ikatan rambut sebelum keluar kamar dan menghampiri pacarnya yang sudah duduk di sofa ruang tamu.

“Untung Ayah belom pulang,” katanya yang membuat Mirza menoleh. “Kalo nggak diceramahin semaleman.”

Mirza tersenyum. “Kamu lagi apa tadi?”

“Belajar, besok ulangan harian soalnya,” Ayu memanyunkan bibir. “Kakak sendiri? Ngapain tiba-tiba ke sini?”

“Mau ngasih ini.”

Ayu menganga lebar saat Mirza mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya. “Ini bebek yang tadi?!”

Happy valentine day, Sayang.”

Pipi Ayu memerah seperti tomat. Dan seperti anak lima tahun, ia melompat kegirangan dan memeluk Mirza dari belakang sofa. “Makasih banyak!!!”

“Itu aku sendiri loh, yang ngambil,” tambah Mirza dengan senyum jumawa.

“Iya?!” Alis Ayu terangkat. “Bukannya Tama?”

“Ng-nggak lah!” Mirza terbata, tipe orang yang tidak bisa berbohong.

“Kupingnya merah! Bohong nih!”

Yaa begitulah, cara anak muda merayakan hari yang memang identik dengan bunga, cokelat, atau boneka.