Pertama, kita bertemu
Zia tidak bohong saat mengatakan dia ingin menangis. Apalagi setelah melihat banyak pendatang yang dijemput, gadis itu seperti diingatkan dengan kejadian sepuluh tahun yang lalu. Dimana dia yang masih belia duduk di pinggir jalan selama hampir lima jam dan jawabannya saat ditanya,
“Aku nunggu Mama aku jemput.”
Saat itu, Zia tidak tau siapa yang bertanya. Dia terima-terima saja saat orang itu mengajaknya pulang dan baru menyadari hal aneh setelah mobil itu berjalan bukan ke arah rumahnya.
Zia menggeleng kuat. Please... gue gak mau inget itu lagi.
Setelah merasa lebih baik, Zia menarik napas panjang. Ia harus berpikir cepat agar dapat pulang dengan selamat.
Yang pertama kali terpikirkan olehnya adalah bertanya ke orang sekitar. Beruntung saat ini bandara sangat ramai, sehingga gadis itu bisa bertanya ke semua orang yang dilihatnya.
Namun sayang, dia melupakan satu hal yang cukup penting. Hampir semua yang di tempat ini adalah pendatang. Kalaupun orang itu sering ke kota ini, dia pasti tidak tahu alamat yang Zia tanya karena letaknya yang cukup pedalaman. Turis mana yang mau pergi ke tempat seperti itu kalau tidak diperlukan?
Sepasang mata kucing itu kembali berkaca setelah orang keenam yang ditanya memilih pergi karena tidak paham bahasa Indonesia. Jujur, Zia ingin menyerah. Zia ingin segera pulang dan istirahat. Tapi gadis itu juga sadar kalau dia tak dapat pulang kalau diam saja.
“Permisi...”
Zia terlonjak kaget sebelum menoleh ke belakang. “I-iya? Kenapa ya?”
Lelaki jangkung itu menyerahkan barang yang dipegang. “Ini... tadi jatuh dari tas kamu.”
Barang itu adalah penjepit rambut. Lebih dulu Zia mengecek tasnya untuk memastikan barang itu miliknya. “Iya! Itu punya saya!” Serunya sembari menerima barang tersebut. Dan untuk pertama kali, dia mendongak dan melihat wajah si lelaki. “Makasih ya!”
Lelaki itu Alfi, yang mengangguk tipis dan tersenyum manis. “Sama-sama. Untung saya lihat sebelum dipidek orang.”
Zia mengerutkan dahi. “Dipidek?”
“Ini loh,” Alfi memeragakan sampai Zia mengangguk. ‘Diinjak’ rupanya.
“Oh iya!” Zia teringat. “Kamu... tahu tempat ini nggak?”
Melihat Alfi yang serius mengamati layar ponselnya membuat Zia menggigit bibir tak sabaran. Orang-orang sebelumnya tidak sampai seperti ini. Hanya melihat sekilas, bilang “Tidak tahu”, lalu pergi. Tidak salah kan kalau Zia sedikit berharap?
“Saya ndak pernah ke sini sih,” jawab Alfi menggantung. “Tapi saya sering lewat jalan rayanya.”
Senyum Zia mulai mengembang. “Kamu tahu?!”
Alfi mengangguk. “Rumahmu di sana?”
“Iya!” Jawab Zia cepat saking senangnya. “Lebih tepatnya rumah Nenek sih. Baru pindah minggu lalu juga, makanya saya takut sendirian ke sana.”
“Oalah...” ingatkan Zia untuk menanyakan namanya sebelum dia memanggil lelaki ini dengan sebutan ‘Boneka Dashboard’. “Mau saya anter? Kebetulan searah ke rumah.”
Oke tenang, jangan langsung jingkrak-jingkrak. “Boleh? Nggak ngerepotin?” Zia melirik sekitarnya. “Takutnya kamu jemput orang lain terus mobilnya penuh.”
Alfi tertawa kecil. “Nggak ada kok. Saya aja yang lupa kalau pesawat temen saya delay.”
Zia mengangguk, sedikit terpana dengan senyum Alfi yang tipis, namun manis. Bahasanya yang cenderung sopan dan masih terdengar medok juga membuat kesan tersendiri. Kapan lagi dia bertemu orang yang seperti ini?
“Oh iya,” kata Alfi sambil berjalan menuju mobil, tak lupa membantu Zia membawa barangnya. “Kita belum kenalan ya? Baru ingat saya.”
Kali ini Zia yang tertawa kecil. “Nama panjang saya ribet, jadi panggil Zia aja. Kamu sendiri?”
“Raden—eh, maksudnya… Alfi aja,” jawab Alfi sedikit terbata. “Nama saya juga panjang banget.”
“Nggak pa-pa, namanya bagus kok.”