ainiverse

Ayunda POV

“Kita udahan ya.”

Aku nyaris tersedak boba dan menjatuhkan gelas minuman. “Maksud Kakak? Kita putus?”

Lelaki di hadapanku hanya mengangkat bahu. “Iya.”

Brak!

Itu aku, yang menaruh gelas kosong di atas meja dengan keras. Marah? Tentu saja!

“Apa gak bisa nanti aja?!” Tanyaku nyaris membentak. “Ini hari ulang tahun gue loh! Gak bisa bikin gue senang sehari?”

“Lebih cepat lebih baik bukan?” Lihat? Nadanya enteng sekali. Membuatku makin malas menyebut namanya. “Nindy udah putus dari pacarnya dari Minggu lalu. Kalo gue nunda lagi, kesempatan yang udah gue tunggu bisa hilang lagi. Dan gue gak akan biarin itu terjadi lagi.”

Aku menatap semua pergerakannya sambil menggeram pelan. Marah, kesal, kecewa, semua jadi satu. Sayang sekali minumanku sudah habis. Tapi lain kali, tolong ingatkan aku untuk menyiram wajah cowok bangsat ini dengan air panas.

Kepalang kesal, aku sampai tidak mendengar kata-katanya sebelum pergi. Dan saat punggungnya menghilang, disitulah aku berteriak keras.

“ANAK MONYET!! GUE SUMPAHIN LO KESELEK ASPAL!!”


Sampai rumah, aku langsung mengunci kamar. Menangis sekuat tenaga tanpa takut terdengar siapapun. Ya, orangtuaku masih bekerja dan Bi Atun baru saja izin pulang.

Jujur, aku sangat-sangat-amat menyesal. Kalau saja bisa mengulang waktu, mungkin aku nggak akan terima permintaan dia buat jadi pacar bohongannya.

Yah, namanya juga cinta. Orang sepinter Albert Einstein aja bisa dibikin bodoh sama itu hal. Apalagi saya?

Tangisanku mereda tiga puluh menit kemudian. Dipikir-pikir, ngapain juga aku nangisin orang kayak dia. Mending nangisin drama yang baru aku tonton kemarin. Masa pemeran ceweknya ditinggal mati gitu aja? Mana belum nyatain perasaan.

Baru saja membuka kunci pintu, sepasang telingaku menangkap suara petikan gitar. Aku langsung tahu, siapa lagi kalau bukan tetangga sebelah?

Tapi, alunannya kali ini terdengar tidak asing. Aku seperti pernah, bahkan sering mendengar lagu ini. Sehingga tanpa sadar, kakiku melangkah mendekati balkon.

“If you need someone who can love you while he's gone~”

Aku ber-oh-ria. Lagu ini rupanya. Aku sering mendengar karena Doni sering memutarnya di radio mobilnya. Ku sambung saja lirik setelahnya yang berhasil membuat dia menoleh.

“Udah balik lo?” Namanya Pratama, baru saja pindah ke rumah sebelah sekitar tiga minggu yang lalu. “Abis darimana? Tumbenan amat keluar.”

“Ada lah,” teringat sesuatu, aku langsung menahan tangannya yang hendak menyingkirkan gitar dari pangkuan. “Eh, nyanyiin lagu Happy Birthday dong.”

Ku lihat alis Tama mengernyit. “Happy Birthday yang biasa dinyanyiin bocah-bocah waktu ulang tahun?” Melihat aku mengangguk, dia bertanya lagi. “Kenapa? Lagi ulang tahun ya? Terus gak ada yang nyanyiin, ya?”

Aku menatapnya kesal, membuat Tama menyemburkan tawa. Lalu setelahnya, dia menuruti perintahku.

Memang, suaranya tidak sebagus Tulus atau Afgan. Tapi setidaknya, aku bisa mendengar ketulusannya saat menyanyi. Beda dengan tadi yang dinyanyikan cowok-bangsat-mirip-monyet tadi.

Dan itu yang membuat aku menangis lagi.

“Loh, Yun? Kok nangis sih?”

Aku menggeleng, berusaha meredakan tangis yang tak disangka-sangka meledak lagi. Ayolah.. aku hanya terharu.

“Nih nih, gue ada cokelat. Jangan nangis, ya.”

Karena jarak balkon kamar kami satu meter lebih, Tama tak bisa seenaknya meloncat lalu menenangkanku seperti di drama-drama. Jadi, dia melempar cokelat yang dia punya dan untung saja aku berhasil menangkapnya.

“Makasih..” kataku pelan dengan suara sumbang. “Kenapa gak dari tadi aja ya, gue ngerayain ulang tahun sama lo?”

Tama tersenyum, terlihat manis dengan dimple di pipi kirinya. Dan saat itu juga, aku baru sadar kalau dia.. ekhem—ganteng.

Once again, happy birthday. Jangan sedih lagi, nanti mata lo tambah hitam.”

Aku refleks lari ke kamar untuk bercermin, dan benar saja. Maskaraku luntur dan hampir membuat sekitar mataku hitam. Terlihat.. menyeramkan.

Sebelum kembali, mataku yang menemukan sebuah pensil dan kertas membuatku mengingat sesuatu; aku dan Tama belum bertukar nomor telepon.

“Tama!”

Dia yang sedang merapihkan kertas-kertas di sekitarnya menoleh. Langsung saja ku lemparkan kertas yang sudah digumpal menjadi bola kecil.

“Apaan nih?” Tanyanya sambil mengangkat bola kertas itu. “Sampah?”

Aku tersenyum semanis mungkin. “You've got my number.

“Terima kasih semuanya! Sekali lagi Kakak ucapkan, selamat datang di SMA Harapan Bangsa!”

“Semangat semuanya! Senin besok mulai belajar!”

Masa Orientasi Sekolah atau yang biasa disebut MOS yang dilaksanakan selama tiga hari belakangan itu pun akhirnya selesai. Nampak wajah-wajah yang tersenyum puas dari semua yang berada di lapangan sekolah siang itu. Mereka saling mengucapkan selamat dan semangat, atau kata-kata lain khas remaja sok kenal sok dekat.

“Rumah lo dimana, Yu?”

Gadis pemilik nama Ayu itu menoleh sekilas, lalu menghela napas pelan. Dia lagi. “Hampir satu kilometer dari sini.”

“Lumayan,” lelaki itu mengangguk sambil menyampirkan tasnya. “Mau bareng nggak?”

Ayu menegakkan punggung begitu barangnya selesai dirapihkan ke dalam tas, lalu menatap si lawan bicara dengan senyum tipis. “Gue dijemput, maaf ya.”

Sebut saja namanya Tara, yang kini memasang senyum kecewa. “Oke gak pa-pa. Lain kali mungkin ya?”

Ayu mengangguk. “Duluan, ya!”

Sebenarnya, Tara agak bingung dengan sikap teman barunya itu. Kemarin-kemarin terlihat ramah, kenapa sekarang jutek banget kayak Kakaknya waktu–

“Ayu! Belakang lo!”

Percuma, gadis itu sudah melangkah cukup jauh dan menyumpalkan earphone di telinga. Dan Tara tidak sempat menghampiri karena seseorang menariknya ke arah kantin–berlawanan arah dengan Ayu.

Ya sudahlah, batinnya tak acuh.


“Mau kemana lo?”

Merasa ditanya, lelaki jangkung yang sering dipanggil Mahen itu memelankan tempo jalannya. “Beli minum di depan.”

“NITIP DONG!”

Seketika, Mahen menyesal telah menengok.

Selesai mencatat semua pesanan, dia kembali berjalan ke gerbang sekolah. Sebenarnya, minuman di kantin dan depan sekolah sama saja. Hanya saja, Mahen ingat kalo siang begini minuman favoritnya pasti habis. Makanya memilih ke warung depan. Harganya juga lebih murah di sana.

Sebelum menyeberang, pandangannya terpaku pada seseorang di halte sekolah. Seorang gadis–yang langsung ia simpulkan sebagai adik kelas karena tidak memakai almameter OSIS–dengan rambut berkuncir kuda nampaknya sedang menunggu jemputan. Bukan, fokusnya bukan ke wajah cantik seperti yang biasa terjadi di drama-drama. Melainkan ke suatu yang membuatnya refleks membuka jaket almet dan segera menghampirinya.

“Permisi, Dek,” melihat si gadis menoleh, Mahen memberikan jaketnya dengan malu-malu. “Bisa pakai ini buat.. eumm.. nutupin.. belakang kamu?”

Gadis itu menatapnya bingung. “Belakang aku? Maksudn–” matanya membelalak saat ia memahami maksudnya. Langsung saja dia menyambar jaket di tangan Mahen dan memakainya sendiri sesuai petunjuk sebelumnya. “Duh.. keliatan banget ya?”

“Sedikit sih,” jawab Mahen sangat pelan sambil menggaruk rambutnya. “Seenggaknya kalo gini lebih aman.”

Gadis itu mengangguk pelan. Pipinya yang memerah menandakan kalau dia sama malunya. “Makasih ya, Kak. Nanti cepat-cepat aku balikin.”

Kemudian, sebuah motor berhenti di sana, membuat si gadis pamit pergi dengan alasan sudah dijemput. Mahen mengiyakan dan memandangi punggung itu menjauh dan hilang di tikungan. Senyumnya terbit, sangat tipis.


“Kayaknya tadi aku telepon Bang Wildan deh. Kenapa malah Kakak yang jemput?”

Karena sedang berhenti di lampu merah, si pengendara bebas menengok ke belakang. Dia melempar senyum pada adik sepupu pacarnya. “Bukannya waktu itu aku pernah bilang, kalo aku penasaran sama sekolah baru kamu?”

“Aku juga waktu itu bilang nggak usah. Sekolah kita ‘kan sama.”

Lampu berganti warna, gadis bernama Kayla itu mulai menjalankan motornya lagi. Ayu tidak tahu kalau dia tersenyum miris, mengingat kejadian satu jam yang lalu yang sebaiknya tidak diketahui siapapun.

Tidak sampai sepuluh menit, motor Beat hitam itu berhenti di depan rumah Ayu. Membuat si penumpang turun dan menyerahkan helm sambil memasang wajah cemberut.

“Titip salam buat orang tua kamu, ya. Aku dulu—”

“Kakak belum jawab pertanyaan aku loh tadi,” kata Ayu menahan Kayla pergi. “Kenapa bukan—”

“Kamu kan tahu kalau hari ini dia sakit. Tadi gak keliatan kan di sekolah?” Tak mau kalah, Kayla juga memotong ucapan. “Dia nyuruh aku karena cuma aku yang jawab telepon dia. So, what's so weird about that?

Ayu menghela napas, tangannya yang mengepal menandakan kalau dia menahan kesal. Masuk ke rumah dengan menghentak-hentak, gadis itu lupa mengucap ‘terima kasih’.

Kayla diam di tempatnya. Niatnya untuk menyalakan mesin motor menguap entah kemana. Mendongak ke atas, tawanya mengudara. Terdengar sumbang dan menyedihkan.

Kalau saja ada lomba berbohong, pasti kamu juara satunya, makinya dalam hati.