Start From Here

“Terima kasih semuanya! Sekali lagi Kakak ucapkan, selamat datang di SMA Harapan Bangsa!”

“Semangat semuanya! Senin besok mulai belajar!”

Masa Orientasi Sekolah atau yang biasa disebut MOS yang dilaksanakan selama tiga hari belakangan itu pun akhirnya selesai. Nampak wajah-wajah yang tersenyum puas dari semua yang berada di lapangan sekolah siang itu. Mereka saling mengucapkan selamat dan semangat, atau kata-kata lain khas remaja sok kenal sok dekat.

“Rumah lo dimana, Yu?”

Gadis pemilik nama Ayu itu menoleh sekilas, lalu menghela napas pelan. Dia lagi. “Hampir satu kilometer dari sini.”

“Lumayan,” lelaki itu mengangguk sambil menyampirkan tasnya. “Mau bareng nggak?”

Ayu menegakkan punggung begitu barangnya selesai dirapihkan ke dalam tas, lalu menatap si lawan bicara dengan senyum tipis. “Gue dijemput, maaf ya.”

Sebut saja namanya Tara, yang kini memasang senyum kecewa. “Oke gak pa-pa. Lain kali mungkin ya?”

Ayu mengangguk. “Duluan, ya!”

Sebenarnya, Tara agak bingung dengan sikap teman barunya itu. Kemarin-kemarin terlihat ramah, kenapa sekarang jutek banget kayak Kakaknya waktu–

“Ayu! Belakang lo!”

Percuma, gadis itu sudah melangkah cukup jauh dan menyumpalkan earphone di telinga. Dan Tara tidak sempat menghampiri karena seseorang menariknya ke arah kantin–berlawanan arah dengan Ayu.

Ya sudahlah, batinnya tak acuh.


“Mau kemana lo?”

Merasa ditanya, lelaki jangkung yang sering dipanggil Mahen itu memelankan tempo jalannya. “Beli minum di depan.”

“NITIP DONG!”

Seketika, Mahen menyesal telah menengok.

Selesai mencatat semua pesanan, dia kembali berjalan ke gerbang sekolah. Sebenarnya, minuman di kantin dan depan sekolah sama saja. Hanya saja, Mahen ingat kalo siang begini minuman favoritnya pasti habis. Makanya memilih ke warung depan. Harganya juga lebih murah di sana.

Sebelum menyeberang, pandangannya terpaku pada seseorang di halte sekolah. Seorang gadis–yang langsung ia simpulkan sebagai adik kelas karena tidak memakai almameter OSIS–dengan rambut berkuncir kuda nampaknya sedang menunggu jemputan. Bukan, fokusnya bukan ke wajah cantik seperti yang biasa terjadi di drama-drama. Melainkan ke suatu yang membuatnya refleks membuka jaket almet dan segera menghampirinya.

“Permisi, Dek,” melihat si gadis menoleh, Mahen memberikan jaketnya dengan malu-malu. “Bisa pakai ini buat.. eumm.. nutupin.. belakang kamu?”

Gadis itu menatapnya bingung. “Belakang aku? Maksudn–” matanya membelalak saat ia memahami maksudnya. Langsung saja dia menyambar jaket di tangan Mahen dan memakainya sendiri sesuai petunjuk sebelumnya. “Duh.. keliatan banget ya?”

“Sedikit sih,” jawab Mahen sangat pelan sambil menggaruk rambutnya. “Seenggaknya kalo gini lebih aman.”

Gadis itu mengangguk pelan. Pipinya yang memerah menandakan kalau dia sama malunya. “Makasih ya, Kak. Nanti cepat-cepat aku balikin.”

Kemudian, sebuah motor berhenti di sana, membuat si gadis pamit pergi dengan alasan sudah dijemput. Mahen mengiyakan dan memandangi punggung itu menjauh dan hilang di tikungan. Senyumnya terbit, sangat tipis.


“Kayaknya tadi aku telepon Bang Wildan deh. Kenapa malah Kakak yang jemput?”

Karena sedang berhenti di lampu merah, si pengendara bebas menengok ke belakang. Dia melempar senyum pada adik sepupu pacarnya. “Bukannya waktu itu aku pernah bilang, kalo aku penasaran sama sekolah baru kamu?”

“Aku juga waktu itu bilang nggak usah. Sekolah kita ‘kan sama.”

Lampu berganti warna, gadis bernama Kayla itu mulai menjalankan motornya lagi. Ayu tidak tahu kalau dia tersenyum miris, mengingat kejadian satu jam yang lalu yang sebaiknya tidak diketahui siapapun.

Tidak sampai sepuluh menit, motor Beat hitam itu berhenti di depan rumah Ayu. Membuat si penumpang turun dan menyerahkan helm sambil memasang wajah cemberut.

“Titip salam buat orang tua kamu, ya. Aku dulu—”

“Kakak belum jawab pertanyaan aku loh tadi,” kata Ayu menahan Kayla pergi. “Kenapa bukan—”

“Kamu kan tahu kalau hari ini dia sakit. Tadi gak keliatan kan di sekolah?” Tak mau kalah, Kayla juga memotong ucapan. “Dia nyuruh aku karena cuma aku yang jawab telepon dia. So, what's so weird about that?

Ayu menghela napas, tangannya yang mengepal menandakan kalau dia menahan kesal. Masuk ke rumah dengan menghentak-hentak, gadis itu lupa mengucap ‘terima kasih’.

Kayla diam di tempatnya. Niatnya untuk menyalakan mesin motor menguap entah kemana. Mendongak ke atas, tawanya mengudara. Terdengar sumbang dan menyedihkan.

Kalau saja ada lomba berbohong, pasti kamu juara satunya, makinya dalam hati.