Mini Surprise
Park Serim as Sam Kim Sihyeon as Sheila
“Kebiasaan banget, dah!”
Tak tahan menunggu, Sheila keluar dari mobil dan menghampiri sepupunya. “Kenapa, Der?”
“Biasalah, mobil usang,” meski tidak dijelaskan secara rinci, asap yang timbul saat kop mobil dibuka sudah menjawab pertanyaan Sheila. “Hobi kok nyimpen barang antik? Heran.”
Di saat Hendery sibuk menggerutu, Sheila menjauh sedikit untuk menyalakan ponsel. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh, yang artinya Sam akan sampai rumah satu jam kemudian. Tidak, tidak boleh! Sheila harus sampai lebih dulu.
“Aku naik taksi aja deh,” putusnya cepat seraya berjalan ke bagasi mobil. “Kamu balik ke rumah aja. Telepon Koh Daniel suruh jemput.”
“Serius, Shei? Naik taksi sendirian?” Tanya Hendery menahan pintu bagasi. “Gue tahu lo buru-buru, tapi ini udah malam. Nggak inget kasusnya Rani kemaren?”
“Harusnya yang kamu inget itu kejadian waktu kita SMA. Siapa yang mukulin Devan sampai masuk rumah sakit?” Sheila menyingkirkan tangan sepupunya dan membuka sendiri bagasi mobil. Ia tersenyum setelah semua barangnya keluar. “Bisa bawa nih mobil ke bengkel sendiri, kan? Apa manggil derek?”
Hendery menyerah. Ia biarkan sepupunya pulang sendiri ke Jakarta menaiki taksi. Tak diam saja, ia juga mengancam supir taksi tersebut agar tidak melakukan hal senonoh pada Sheila.
Lebay memang, tapi lelaki itu sudah berjanji untuk menjaga semua saudara perempuannya sebisa mungkin. Ia tak mau apa yang terjadi pada sepupu kecilnya terulang lagi.
“Sayang, aku pulang.”
Sam tahu kalau tidak akan ada orang yang menyambutnya. Tapi, yang namanya kebiasaan tidak bisa hilang begitu saja kan? Tersenyum getir, lelaki itu melepas sepatu dan menaruhnya di rak.
Tak langsung mandi, dia lebih dulu merapihkan ruang tamu. Kemudian mengangkat jemuran dan dilanjut mencuci piring. Semua dilakukannya sendiri. Membuatnya berpikir ulang mengenai ucapannya yang tak sengaja terlontar suatu hari.
“Kamu nggak ngapa-ngapain di rumah, kenapa ngeluh ‘capek’ terus?”
Sam berjanji untuk tidak sembarang bicara lagi.
Setelah semuanya selesai, barulah ia ke kamar dan membersihkan diri. Ia juga berniat untuk memesan makanan untuk makan malamnya nanti. Ya, masakan yang bisa dimasaknya sendiri hanya telor ceplok atau mie instan. Semuanya sudah pernah dimakan dan tidak boleh dikonsumsi sering-sering kan?
Keluar kamar, Sam mengernyitkan dahi. Ada suara-suara ribut dari arah ruang tamu seperti orang baru pulang dari perjalanan jauh. Gue udah ngunci pintu perasaan? Batinnya was-was sambil menuruni tangga perlahan. Siapa orang asing yang bisa sembarangan masuk ke rumahnya?
Sesampainya di ruang tamu, ia tak melihat siapa-siapa. Hanya beberapa koper sedang yang tergeletak sembarang di dekat sofa. Aneh? Tentu saja. Belum sempat ia mengamati barang tersebut, suara seseorang terdengar lagi dari arah dapur.
“Bener kata Mami. Gak seharusnya suami ditinggal sendiri.”
Tunggu, itu kan suara…
“Udah mandi, Sam?”
Berbalik, matanya menangkap seseorang yang tiga hari belakangan meninggalkannya sendiri. Istrinya, Sheila.
“Heh! Malah bengong,” tegur Sheila seraya mendekat lalu tertawa kecil. “Gimana rasanya ditinggal—SAM!!”
Tentu saja Sheila terkejut karena Sam memeluknya tiba-tiba dan mengecupnya bertubi-tubi. Keduanya tertawa, lalu menatap satu sama lain.
“Kenapa gak bilang kalo pulang hari ini? Terus kamu kesini naik apa? Dianter apa—”
“Hey! Calm down!” Potong Sheila disela tawanya. “Sengaja aku nggak kasih tau karena aku pengen aja surprise-in kamu. Aku berangkat udah dari sore dan ngira bakal sampe duluan daripada kamu. Eh… mobilnya Hendery malah mogok. Telat deh.”
Sam memanyunkan bibirnya. “Tetep aja ngagetin aku tau! Aku kira tadi siapa main masuk aja.”
Sheila jinjit sedikit agar dapat mengecup bibir suaminya. “Sorry…”
“Buat?”
“Udah ninggalin kamu sendiri,” Sheila menunduk. “Aku ke rumah Mami bukan karena marah sama kamu soal itu. Ada sepupu aku yang kena musibah, dia nyariin aku karena minta ditemenin,” diam sejenak, “Maaf juga baru ngasih tau ini sekarang.”
Sam mengangguk sembari mengusap kepala sang istri. “Iya, nggak pa-pa. Tapi lain kali ngomong ya, kalo ada apa-apa,” senyumnya terbit saat Sheila mendongak. “Kita suami-istri kan? Masa bohong terus?”
Melihat Sheila mengangguk pelan dan memeluknya, Sam merasa hatinya menghangat. Tidak, dia tidak marah bahkan sejak awal Sheila pergi tanpa menjelaskan apa-apa. Kesal mungkin iya, namun menghilang begitu saja saat melihatnya kembali.
Krruukk!
Pelukan mereka melonggar, saling menatap dan kembali tertawa.
“Laper ya?” Tanya Sheila. “Belum makan dari abad berapa?”
Sam kembali cemberut, membuat istrinya tertawa kencang. Mereka pun melangkah ke ruang makan sembari bercanda seperti biasa.
Yeah, like always.