Calon Potensial?
“Film-nya mulai jam berapa, Kak Lia?”
“Masih jam satu-an sih. Kita makan dulu aja,” jawab Lia tanpa menoleh karena sibuk memasang softlens.
Di kursi kemudi, ada Raden yang melirik. “Ya kalo gitu kenapa berangkat jam sepuluh?”
Lia mendongak dengan kerutan dahi. “Kan situ yang mau berangkat jam segini. Kita mah ikut supir aja. Ya gak, Ras?”
Laras menganggukkan kepala, membuat Raden menghela napas. Kesalahan besar yang ia sesali seumur hidup adalah membiarkan adik satu-satunya bergaul dengan tetangga seberang yang sudah tinggal sejak ia masih TK. Raden juga masih ingat wajah sumringah Lia saat melihat Laras yang baru lahir di gendongan ibunya. Seolah-olah dia yang menjadi Kakak dari bayi Laras itu.
Setelah memutar hampir lima belas menit, mobil Raden sempurna terparkir di dekat pintu masuk yang langsung menuju supermarket. Di kursi belakang, Lia dan Laras sudah tersenyum lebar sambil merapihkan tas dan pakaian mereka.
“Inget ya, Mas. Dua mobil sebelah kiri dari pintu supermarket,” ujar Laras begitu keluar dari mobil.
Lia yang mendengar tertawa. “Mas kamu masih sering lupa parkir dimana?”
“Sering banget, Kak. Malah lebih pelupa dia dari Ayah.”
Berakhir dengan amukan Laras karena Raden mengacak poninya yang baru disisir.
“Lomba apa sih emang, temen lo?” Tanya Lia sambil berjalan. Posisinya di tengah, Laras di kiri dan Raden di kanan. “Udah mulai lombanya?”
“Kayaknya udah,” Raden menjawab sembari melihat arloji di lengan kanan. “Tapi nggak tahu udah gilirannya apa belom.”
“Lomba apa terus?”
“Penampilan musik gitu, tapi bebas. Kampus kita ikut bawa band, temen gue jadi keyboardist.”
Lia mengangguk dan ber-oh-ria. Masih terus berjalan sembari melihat etalase toko di kanan kiri, mereka pun sampai di tengah mall. Dimana ada panggung yang cukup besar di tengah dengan nuansa navy blue dan maroon bertuliskan nama acara yang cukup besar.
“Nah, pas banget dipanggil,” kata Raden setelah mendengar seruan MC. Ia juga mempercepat langkah untuk mendekati area penonton.
Lia menyusul setelah memberikan izin pada Laras yang meminta menunggu di kafe yang tak jauh dari sana. Sambil menjinjit-jinjit, ia berusaha melihat penampilan band dari kampusnya itu.
“Den,” panggil Lia sedikit berteriak. “Itu temen lo semua yang tampil?”
“Dibilang temen juga nggak sih. Tapi gue sering lihat mukanya,” jawab Raden tanpa menoleh. Ia juga masih celingukan mencari temannya yang bernama Bintang itu.
“Nah tuh,” Raden menunjuk seseorang. “Temen gue, Bintang namanya.”
Lia memicing agar dapat terlihat dengan jelas. Laki-laki yang ditunjuk Raden berdiri di dekat keyboard, memakai kemeja flanel sebagai luaran yang dalamannya adalah kaos putih. Dia tidak setinggi yang bermain gitar, tapi tidak pendek juga. Matanya sipit jika dilihat dari posisi mereka sekarang, memakai kacamata bulat yang Lia tebak tidak sampai minus tiga. Pipinya nampak berisi, ditambah senyum tipis yang kaku karena grogi membuatnya sedikit menggemaskan(?)
Setidaknya itu yang Lia dengar dari salah satu penonton di dekatnya.
Mereka hanya membawakan satu lagu yang cukup populer, Sebuah Kisah Klasik. Hampir seluruh penonton ikut bersenandung termasuk Raden dan Lia. Untuk durasi sepertinya di perpanjang. Sampai lima menit lebih, kalau tidak salah.
“Temen lo yang keyboardist,” kata Lia saat lagu mendekati selesai. “Oke juga. Awalnya kelihatan grogi, tapi begitu lagu masuk dia langsung enjoy. Mana dia ngebantu vocal juga.” Lia mengacungkan jempol tinggi-tinggi. “Keren.”
Raden mengangguk mengiyakan. Teringat, dia mendekat untuk berbisik ke Lia. “Calon potensial, kan?”
Lia menengok, menatap Raden bingung. “Maksud?”
“Habis ini dia keluar juga dari UKM musik,” Raden tersenyum begitu Lia membelalakkan mata. “Calon potensial buat band kita, kan?”
Lia menjentikkan jari, mengangguk mantap. “Tarik dia sekarang!”